Selasa, 07 Agustus 2012

Sejarah kongkrit lahirnya paham Neo Khawarij atau Wahabi atau Salafi (Part I)


By : Shofiyyah An-Nuuriyyah
Pentashih : Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Editor : Abu Muhammad Lc

Tulisan ini kami persembahkan untuk semua saudara kami sesama Ahlus sunnah waljama’ah. Demikian pula untuk semua saudara yang terjangkiti virus wahabisme / salafisme.

Kami berusaha menampilkan sejarah asli yang historis dan akurat karena refrensinya bersumber dari kitab-kitab sejarah ulama wahabi sendiri yang hidup dan menyaksikan segala persitiwa yang terjadi di masa pencetus paham takfiri dan tabdi’I tsb dan kitab-kitab para ulama yang juga menjadi saksi sejarah tsb dan kami sertakan scan kitabnya masing-masing. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Mengurai benang merah dari inti sejarah yang dimanipulasi oleh para pengikut paham takfiri tersebut.



Semoga menjadi amal yang bermanfaat..

Bismillahi walhamdulillah, wash sholatu was salaamu 'ala Rasulillah, Ammaa ba'du :

Berdiri dan berkembangnya paham wahabi atau sekte muwahhidun adalah dengan jalan peperangan, pembunuhan, penjarahan dan perampasan kepada kaum muslimin yang menolak ajaran mereka sebagaimana yang dilakukan oleh imam Mereka Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad Sa’ud.

Terjadinya pembantaian kaum muslimin yang dilakukan Muhammad bin Abdul Wahhab dan bala tentaranya di beberapa daerah Arab disebabkan Muhammad bin Abdul Wahhab melihat amaliah mayoritas kaum muslimin saat itu telah menyimpang dari tauhid versi Muhammad bin Abdul Wahhab, seperti mendatangi kubur orang-orang shalih dan bertawassul dengan mereka, menurut pandangan Muhammad bin Abdul Wahhab perbuatan itu adalah melanggar tauhid rububiyyah karena kaum muslimin saat itu hanya meyakini Tauhid uluhiyyahnya saja.

Sehingga Muhammad bin Abdul wahhab perlu meluruskan hal semacam itu, maka mulailah ia berdakwah pada kaum muslimin dan menulis surat pada para tokoh, penguasa dan ulama saat itu untuk kembali pada Tauhid versi Muhammad bin Abdul Wahhab. Dan ternyata mayoritas kaum muslimin khususnya para ulamanya menolak ajakan Muhamammad bin Abdul Wahhab, maka ia marah dan memerintahkan pada pengikutnya dengan dibantu Raja Muhamamd Saud untuk berjihad memerangi kaum muslimin yang menolak ajakan dan ajarannya. Baginya mereka adalah orang-orang murtad yang harus diperangi dan dibunuhi.

Maka terjadilah peperangan dan pembunuhan yang dilakukan Muhamamd bin Abdul Wahhab dengan bala tentaranya kepada kaum muslimin yang menolak ajarannya di berbagai daerah. Menurut Muhammad bin Abdul Wahhab, dakwahnya adalah seperti dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad Saw dan peperangannya melawan kaum muslimin adalah seperti jihadnya Nabi Muhammad melawan kaum kafir Quraisy yang tidak mau mengakui kerasulan Nabi Muhamamad Saw.

Dan pada intinya peperangan, penjarahan dan pembunuhan yang dilakukan Muhammad bin Abdul wahhab kepada kaum muslimin yang menolak ajarannya, terjadi hanya akibat pemahaman yang sempit dan kaku tentang beberapa ayat dan hadits. Sebagaimana nanti akan dibuktikan dengan adanya hujjah-hujjah para ulama saat itu tentang pemahaman sempit Muhammad bin Abdul Wahhab terlebih hujjah dari saudaranya sendiri yaitu Syaikh Sulaiman yang lebih memngenal dan memahami karakter dan pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab.

Simak penuturan tulus dalam kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh para ulama wahabi sendiri yang sezaman dengan Muhammad bin Abdul wahhab dan menyaksikan semua peristiwa yang terjadi saat itu. Kali ini kami tampilkan refrensi dari dua kitab sejarah karya ulama wahabi yaitu Tarikh Najd karya syaikh Husain bin Ghannam seorang ulama yang sangat mencintai syaikhnya yaitu Muhammad bin Abdul Wahhab hingga ia rela meninggalkan rumah dan sanak familinya demi mengikuti gurunya tersebut. Yang kedua kitab Unwan Al-Majd karya Syaikh Utsman bin Bisyr yang mengalami masa-masa perang saat itu dan dinilai sebagai sandaran sejarah oleh ulama wahabi bahkan telah direkomendasikan oleh pihak kerajaan Saudi dan kitab tersebut telah ditahqiq pula oleh Abdurrahman bin Abdul Lathif cucu Muhammad bin Abdul Wahhab.

(Kondisi umat Muslim sebelum dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab)

Dalam kitab Tarikh Najd, Ibn Ghannam menyebutkan kondisi kaum muslimin sebelum Muhammad bin Abdul Wahhab berdakwah sebagai berikut :



“ Keadaan kaum muslimin sebelum tegaknya dakwah syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Konon mayoritas umat muslim di kurun 12 Hijriah telah jatuh pada kesyirikan dan kembali pada kejahiliaan. Telah padam cahaya petunjuk dalam diri mereka akibat kebodohan yang mendominasi mereka dan telah dikuasai oleh hawa nafsu dan kesesatan. Maka mayoritas kaum muslimin itu telah mencampakkan kitab Allah ke punggung mereka, mengikuti apa yang dilakukan datuk-datuk mereka dari kesesatan. Mayoritas kaum muslimin itu menyangka datuk mereka lebih mengetahui kebenaran dan lebih mengetahui jalan kebenaran “ (Tarikh Najd : 13)

Catatan :

Kaum wahabi mengatakan bahwa mayoritas kaum muslimin sebelum kedatangan dakwahnya Muhammad bin Abdul Wahhab telah melakukan banyak kesyirikan dan kembali pada perbuatan jahiliyyah.

Yang wahabi maksud dengan kesyirikan adalah berziarah kepada makam-makam orang-orang shalih dan bertawassul kepada para nabi dan orang shalih baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat.

Lihat bagaimana kaum wahabi begitu berani memvonis demikian, padahal saat itu banyak para ulama yang melakukan perbuatan-perbuatan tersebut dan juga tidak menysirikkan kaum muslimin yang melakukan hal itu.

Wahabi memvonis mayoritas umat muslim saat itu musyrik dan para datuk-datuk kaum muslimin tidak luput dari vonis syirik mereka. Dari tahun ketahun sebelum kedatangan Muhammad bin Abdul wahhab, mayoritas kaum muslimin dianggap musyrik oleh wahabi sebagaimana bukti pengakuan ibn ghonnam di atas.

(Seluruh negeri kaum muslimin tersesat)

Dan pada halaman berikutnya Ibn Ghannam lebih berani lagi memvonis sesat kepada seluruh negeri muslim :



“ Dan sungguh kesesatan ini telah menyebar luas dan menyeluruh kepada negeri-negeri kaum muslimin “ (Tarikh Najd : 14)

Catatan :

Kalimat ‘AMMA bermakna merata dan menyeluruh ditambah kalimat KAAFFAH sebagai keadaan yang bermakna mencangkup secara keseluruhan.

Artinya sebelum kedatangan dakwah Muhamamad bin Abdul Wahhab seluruh negeri kaum muslimin telah musyrik dan sesat tanpa terkecuali dan hanya golongan wahabi yang bertauhid. Naudzub billahi min syarri haaulaika..

Pada halaman-halaman berikutnya, Ibn Ghannam lebih memerinci kesyirkan dan keseatan yang dilakukan di bebrapa daerah di antaranya kota Makkah al-Mukarromah, Madinah, Dar’iyyah, Jeddah, Mesir, Bashrah, Iraq, Yaman, Hadramaut, Syahr, Adn, Najran, Halb, Syam, Bahrain, dan lainnya. Dengan enteng dan beraninya Ibn Ghnannam memvonis mayoritas penduduk-penduduk yang disebutkan itu dengan musyrik, sesat dan ahlul bid’ah. 

Kaum wahabi benar-benar menganggap seluruh kaum muslimin saat itu diseluruh belahan dunia telah musyrik dan sesat dan hanyalah kelompok wahabilah yang benar.
Kaum wahabi bukan hanya memvonis syirik dan sesat kepada kaum awam muslimin saja saat itu, tapi mereka juga memvonis syirik bahkan kafir kepada para ulamanya :



“ Maka renungkanlah apa yang disebutkan imam ini (Muhammad bin Abdul wahhab) tersebut dari berbagai macam kesyirikan besar (menyebabkan murtad) yang terjadi di zaman beliau yang dilakukan orang-orang yang mengaku ma’rifah dan din (ulama) dan dari orang-orang yang menyandang fatwa (Mufti) dan kepenguasaan (penguasa). Akan tetapi syaikh telah memperingatkan mereka atas yang demikian dan menjelaskan bahwa ini termasuk kesyirikan yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Maka sadarlah orang yang mau menerima peringatan itu, berrtaubat pada Allah dan mengetahui kesyirikan, kesesatan dan penolakan kebenaran yang terjadi “ (Tarikh Najd : 69)

(Mengahncurkan kubah makam para sahabat dan orang shalih)

Ketika Muhammad bin Abdul Wahhab bertemu dengan Utsman bin Mu’ammir di Uyainah yang juga seorang hakim di sana, ia mulai melancarkan dakwahnya dengan dibantu Utsman. Saat itulah ia mulai berani melancarkan aksinya membongkar semua kubah makam para sahabat dan orang-orang shalih dengan alasan memusnahkan wasilah kesyirikan di antaranya kubah makam Zaid bin Khaththab.

Kecaman dan kutukan para ulama, para hakim dan kaum muslimin, atas tindakan keji Muhammad bin Abdul Wahhab

Perbuatan Muhammad bin Abdul Wahhab tersebut mendapat kecaman dari kaum muslimin. Maka kaum muslimin melaporkan hal itu kepada para ulama, mereka menulis surat pengaduan dari peristiwa itu kepada para ulama Ahsa, Bashrah dan Haramain. Para ulama pun mengutuk perbuatan Muhamamd bin Abdul Wahhab tersebut dan menjelaskan perbuatan nista itu secara ilmiyyah melalui risalah-risalah yang ditulis para ulama tersbut. Para hakim dan penguasa negeri lainnya pun turut mengecam dan mengutuk apa yang telah dilakukan Muhammad bin Abdul Wahhab tersebut.

Kisah ini pun diakui oleh Ibn Ghannam dalam Tarikh Najdnya berikut :







“ …Maka kaum muslimin menulis surat kepada ulama Ahsa, Bashrah dan Haramain, kaum muslimin dan para ulama berkomplot memusuhi Muhammad bin Abdul Wahhab. Maka membela dan menolong lah orang-orang batil dan sesat dari ulama negeri-negeri tersebut.  Mereka mengarang sebuah tulisan-tulisan di dalam mebid’ahkan dan menyesatkan perbuatan syaikh dan dianggapa telah merubah syare’at dan sunnah, menejlaskan kebodohan dan kedunguan syaikh. Maka tertipulah kalangan khusus dan umumnya, terlebih kalangan para penguasa dan hakim, mereka mengaku bahwa syaikh dan pengikutnya tidak memiliki perjanjian keamanan karena menolak sunnah dan merubah hokum agama. Memperingatkan para hakim lainnya dari syaikh. Mereka mngira bahwa syaikh akan mempengaruhi hati orang-orang bodoh dan rakyat jelata dan menxesatkan mereka dengan cara pandangnya sehingga nanti akan mnyebabkan mereka memberontak pada para hakim dan penguasa dan menampakkan ketidak patuhan “. (Tarikh Najd : 85)

Catatan :

Dengan mempengaruhi Utsman, Muhammad bin Abdul wahhab melancarkan angan-angannya untuk menghancurkan kubah-kubah makam para sahabat dan orang shalih dengan cara pandangnya yang sempit yang menyimpulkan vonis syirik pada kaum muslimin yang datang pada makam-makam tersebut. Ia menuduh kaum muslimin yang berziarah ke makam-makam para sahabat dan orang shalih, telah meminta hajat kepada mayat-mayat tersebut dan memvonisnya telah melakukan syirik akbar yang mengeluarkan mereka dari agama Islam alias murtad.

Para ulama dari banyak negeri saat itu telah mengecam dan mengutuk perbuatan Muhammad tersebut, mengklarifikasi dan menjelaskan secara ilmiyyah melalui risalah maupun kitab atas pandangan sempitnya.

Kembalinya Utsman bin Mu’ammir dari paham Muhammad bin Abdul Wahhab kepada ajaran Ahlus sunnah.

Pada awalnya Hakim Utsman bin Mu’ammir terpengaruh oleh doktrin Muhamamd bin Abdul Wahhab. Kemudian setelah banyak para ulama menasehati dan menjelaskan kesesatan ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab, terlebih setelah Utsman membaca kitab saudara Muhamamd bin Abdul Wahhab yaitu syaikh Sulaiman yang lebih paham dan mengerti karakter dan pikiran Muhammad bin Abdul Wahhab, maka Ustman sadar dan kembali pada ajaran mayoritas yaitu Ahlus sunnah waljama’ah.

Hal ini diakui oleh Ibn Ghannam dalam kitab Tarikh Najdnya berikut :



“ Ketika datang kitab Sulaiman kepada Utsman, maka Ustman meragukan Muhammad bin Abdul Wahhab dan lebih mendahulukan dunia daripada agama. Dan ia memerintahkan syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk keluar meninggalkan Uyainah “.  (Tarikh Najd : 86)

 Tewasnya Utsman bin Mu’ammir oleh pihak Muhammad bin Abdul Wahhab.

Utsman bin Mu’ammir mulai menyadarkan pengikutnya untuk meninggalkan paham Muhammad bin Abdul Wahhab dan kembali pada ajaran mayoritas saat itu yaitu Ahlus sunah waljama’ah. Maka banyaklah yang taubat dan sadar berkat perjuangan Utsman menyadarkan kembali rakyatnya tsb.     

Sebab ini pulalah Utsman bin Mu’ammir tewas dibunuh oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya.  Sebagaimana direkam oleh Ibn Ghannam dalam Tarikh Najdnya pada cetakan pertama yang masih belum dirubah berikut :



فلما تحقق المسلمون من ذلك تعاهدوا على قتله بعد انتهائه من صلاة الجمعة، وقتلناه وهو في مصلاه بالمسجد في رجب 1163


" Ketika kaum msulimin mengetahui pengkhianatan dan kekafiran Utsman, maka mereka berencana untuk membunuhnya setelah selesai sholat jum’atnya. Maka kami membunuhnya dan Utsman masih di tempat sholatnya di dalam masjid di bulan Rajab tahun 1163 H “ (Tarikh Najd : 97)

Pada cetakan-cetakan berikutnya terutama dalam bentuk pdf, redaksi tersebut dirubah oleh wahabi sedikit namun tetap menunjukkan kekejaman Muhammad bin Abdul wahhab dan para pengikutnya. Berikut redaksi yang dirubah :



“ Ketika umat Islam mengetahui hal itu (pengkhianatan Utsman), maka beberapa orang berencana untuk membunuhnya di antaranya Hamd bin Rasyid dan Ibrahim bin Zaid. Maka ketika selesai sholat jum’at, mereka membunuh Utsman di tempat sholatnya di dalam masjid di bulan Rajab tahun 1163 H “
(Tarikh Najd : 103)

Catatan :

Begitu kejamnya Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya sehingga Utsman seorang Hakim Uyainah tewas dibunuhnya karena dianggap telah mengkhianati dan memprofokasi umat muslim untuk tidak mengikuti ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab.
Tanpa mengindahkan kalimat suci syahadat di lisan Utsman dan dengan pemikiran sempitnya, Muhammad bin Abdul Wahhab dengan mudahnya membunuh Utsman. Apalagi pembunuhan itu dilakukan di dalam masjid dan masih di tempat sholatnya , setelah melakukan sholat jum’at di bulan Rajab.

Wafat sebagai syahid, dalam keadaan mulia, di tempat yang mulia, di hari yang mulia dan di bulan yang mulia.

Peperangan Muhammmad dan raja Saud kepada kaum muslimin

Kemudian setelah Muhammad mendapat dukungan dari raja Muhamamd Saud, mulailah menabuh genderang untuk memerangi kaum muslimin dan para ulama serta para penguasa yang menentang dan menolak ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab dengan alasan jihad melawan kemungkaran dan kesyirikan yang menyebabkan mayoritas kaum muslimin murtad dan patut untuk diperangi.

Disebutkan dalam kitab Unwan Al-Majd :





“ Kemudian syaikh memerintahkan untuk jihad melawan orang-orang yang memusuhi ahli tauhid, dan memotifasi mereka, maka semua pengikutnya pun mentaati perintahnya…” (Unwan Al-Majd : 44)

Catatan :

Muhammad bin Abdul Wahhab memproklamasikan perang melawan kaum muslimin yang enggan dan menolak ajarannya dengan dalih jihad. Ia menyamakan kedudukan kaum muslimin yang menentang ajarannya dengan kedudukan kaum kafir yang menentang Islam.  Naudzu billahi min dzaalik, sekali lagi mereka bukan berperang melawan kaum kafir yang benar-benar memusuhi Islam, tapi sebaliknya mereka menghunuskan pedang dan memuntahkan peluru kepada kaum muslimin yang tidak mau mengikuti paham mereka. 



Sabtu, 07 Juli 2012

Bukti Kongkrit Akidah wahabi-salafi adalah Akidah Yahudi


Para pembaca sekalian, mungkin banyak yang tidak mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya akidah wahabi-salafi, orang-orang awam pada umumnya hanya mengetahui bahwa akidah mereka menetapkan sifat-sifat Allah yang ada dalam al-Quran dan menghindari takwil karena takwil bagi mereka adalah perbuatan Yahudi.

Apalagi orang-orang yang telah menjadi doktrin mereka atau tertarik ajaran mereka sebab topeng yang mereka gunakan dengan slogan kembali pada Al-Quran dan Sunnah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan, maka sudah pasti akan melihat ajaran dan akidah mereka murni ajaran tauhid yang suci. Usaha keras untuk memberantas segala bentuk kesyirikan yang ada dan telah merata di seluruh permukaan bumi ini.

Tapi tidak bagi kaum muslimin yang memiliki pondasi Tauhid Ahlus sunnah waljama’ah, mereka akan mampu mengetahui dan melihat misi jahat yang diselipkan di belakang slogan itu. Seiring waktu berjalan, semakin terlihat, semakin terbongkar akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya, semakin tercium dan tampak persamaan akidah wahabi-salafi dan Yahudi. Mereka secara lahir menampakkan pada kaum muslimin permusuhan pada Yahudi, tapi secara sembunyi berteman akrab dengan Yahudi.

Pada kali ini, saya akan bongkar untuk pembaca akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya yaitu “ AKIDAH WAHABI-SALAFI ADALAH AKIDAH YAHUDI “. Tidak perlu saya mengambil sumber dari kitab-kitab para ulama ahlus sunnah yang menceritakan akidah wahabi. Jika saya nukil dari para ulama ahlu sunnah tentang perkataan tasybih dan tajsim mereka, maka mungkin mereka masih bisa menolak dan mengelak, mereka akan mengatakan itu fitnah dan tuduhan yang tak berdasar pada syaikh-syaikh kami,  tapi saya akan tampilkan dengan bukti-bukti kuat akurat yang bersumber dari kitab-kitab karya ulama mereka sendiri yang sudah mereka cetak, terutama Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, ad-Darimi (bukan ad-Darimi sunni pengarang kitab sunan), Albani, Ibnu Utsaimin dan yang lainnya, Yang tak akan mampu mereka bantah.

Saya hanya menampilkan bukti-bukti kongkrit ini semata-mata hanya untuk suadara-saudaraku yang telah terpengaruh dengan akidah wahabi. Dan petunjuk hanyalah dari Allah Swt.

Jika masih ada wahabi yang membantah bukti dan penjelasan nyata ini, maka ibarat orang yang berusaha menutupi cahaya matahari yang terang benderang di sinag hari dengan segenggam tangannya.

  1. Akidah Yahudi :
Di dalam naskah kitab Taurat yang sudah dirubah yang merupakan asas akidah Yahudi yang mereka namakan “ SAFAR AL-MULUK “ Al-Ishah 22 nomer : 19-20 disebutkan :
و قال فاسمع إذاً كلام الرب قد رأيت الرب جالسا على كرسيه و كل جند السماء وقوف لديه عن يمينه و عن يساره
“ Dan berkata “ Dengarkanlah, ucapan Tuhan..aku telah melihat Tuhanku duduk di atas kursinya dan semua pasukan langit berdiri di hadapannya dari sebelah kanan dan kirinya “.
Dalam kitab mereka yang berjudul “ SAFAR AL-MAZAMIR “ Al-Ishah 47 nomer 8 disebutkan :
الله جلس على كرسي قدسه
“ Allah duduk di atas kursi qudusnya “.


Akidah wahabi-salafi :

Di dalam kitab andalan wahabi-salafi yaitu Majmu’ al-Fatawa Ibnu Taimiyyah al-Harrani imam wahabi juz 4 halaman 374 :

إن محمدا رسول الله يجلسه ربه على العرش معه

“ Sesungguhnya Muhammad Rasulullah didudukkan Allah di atas Arsy bersama Allah “.
Di dalam kitab “ Syarh Hadits an-Nuzul “ halaman 400 cetakan Dar al-‘Ashimah disebutkan bahwasanya Ibnu Taimiyyah berkata :

فما جاءت به الأثار عن النبى من لفظ القعود و الجلوس فى حق الله تعالى كحديث جعفر بن أبى طالب و 
حديث عمر أولى أن لا يماثل صفات أجسام العباد

“ Semua hadits yang datang dari Nabi dengan lafadz qu’ud dan julus (duduk) bagi Allah seperti hadits Ja’far bin Abi Thalib dan hadits Umar, lebih utama untuk tidak disamakan dengan anggota tubuh manusia “.

Dalam halaman yang sama Ibnu Taimiyyah berkata :

إذا جلس تبارك و تعالى على الكرسي سمع له أطيط كأطيط الرحل الجديد

“ Jika Allah duduk di atas kursi, maka terdengarlah suara suara saat duduk sebagaimana suara penunggang bintang tunggangan karena beratnya ”

Kitab tersebut dicetak di Riyadh tahun 1993, penerbit Dar al-‘Ashimah yang dita’liq oleh Muhammad al-Khamis.

Di dalam kitab ad-Darimi (bukan ulama sunni al-Hafdiz ad-Darimi pengarang hadits sunan) halaman 73 disebutkan :
هبط الرب عن عرشه إلى كرسيه
“ Allah turun dari Arsy ke kursinya “

Kitab itu terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah yang dita’liq oleh Muhamamd Hamid al—Faqiy.

Kitab ad-Darimi (al-wahhabu) ini dipuji-puji oleh Ibnu Taimiyyah dan menganjurkannya untuk dipelajari, sebab inilah wahabi menjadi taqlid buta.

Tapi akidah mereka ini disembunyikan dan tidak pernah dipublikasikan ke khalayak umum.

Sekedar info : Lafadz duduk bagi Allah tidak pernah ada dalam al-Quran dan hadits.

  1. Akidah Yahudi :
Di dalam naskah Taurat yang sudah ditahrif yang mereka namakan “ Safar at-Takwin Ishah pertama nomer : 26-28 disebutkan :

و قال الله نعمل الإنسان على صورتنا على شبهنا... فخلق الله الإنسان على صورته على صورة الله خلقه ذكرا و أنثى خلقهم
“ Allah berkata ; “ Kami buat manusia dengan bentuk dan serupa denganku…lalu Allah menciptakan manusia dengan bentuknya, dengan bentuk Allah, dia menciptakan laki-laki dan wanita “.


Akidah wahabi :

Di dalam kitab “ Aqidah ahlu Iman fii Khalqi Adam ‘ala shurati ar-Rahman “ karya Hamud bin Abdullah at-Tuajari syaikh wahabi, yang dicetak di Riyadh oleh penerbit Dar al-Liwa cetakan kedua, disebutkan dalam halama 16 :

قال ابن قتيبة: فرأيت في التوراة: إن الله لما خلق السماء و الأرض قال: نخلق بشرا بصورتنا

“ Berkata Ibnu Qathibah “ Lalu aku melihat di dalam Taurat : “ Sesungguhnya Allah ketika menciptakan langit dan bumi, Dia berkata : “ Kami ciptakan manusia dengan bentukku “.
Pada halaman berikutnya di halaman 17 disebutkan :

و في حديث ابن عباس: إن موسى لما ضرب الحجر لبني إسرائيل فتفجر و قال: اشربوا يا حمير فأوحى الله إليه: عمدت إلى خلق من خلقي خلقتهم على صورتي فتشبههم بالحمير ، فما برح حتى عوتب

“ Di dalam hadits Ibnu Abbas : “ Sesungguhnya Musa ketika memukul batu untuk Bani Israil lalu keluar air dan berkata : “ Minumlah wahai keledai, maka Allah mewahyukan pada Musa “ Engkau telah mencela satu makhluk dari makhlukku yang Aku telah ciptakan mereka dengan rupaku, lalu engkau samakan mereka dengan keledai “ Musa terus ditegor oleh Allah “.

Naudzu billah dari pendustaan pada Allah dan pada para nabi-Nya.

  1. Akidah Yahudi :
Disebutkan dalam kitab Yahudi yang mereka namakan “ Safar Khuruj “ ishah 19 nomer : 3-6 :
فناداه الرب من الجبل ... فالآن إن سمعتم لصوتي و حفظتم عهدي

“ Maka Tuhan memanggil kami dari bukit….sekarang jika kalian mendengar suaraku dan menjaga janjiku “.


Akidah wahabi :

Di dalam kitab “ Fatawa al-Aqidah “ karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang dicetak Maktabah as-Sunnah cetakan pertama tahun 1992 di Mesir, pada halaman 72 Ibnu Utsaimin berkata :

في هذا إثبات القول لله و أنه بحرف و صوت ، لأن أصل القول لا بد أن يكون بصوت فإذا أطلق القول 
فلا بد أن يكون بصوت

“ Dalam hal ini dijelaskan adanya penetapan akan ucapan Allah Swt. Dan sesungguhnya ucapan Allah itu berupa huruf dan suara. Karena asli ucapan itu harus adanya suara. Maka jika dikatakan ucapan, maka sudah pasti ada suara “.

  1. Akidah Yahudi :
Di dalam kitab taurat yang sudah ditahrif yang mereka namakan dengan “ SAFAR ISY’IYA “ Ishah 25 nomer 10, Yahudi berkata :

لأن يد الرب تستقر على هذا الجبل

“ Sesungguhnya tangan Tuhan istiqrar / menetap di gunung ini “


Akidah wahabi :

dalam kitab Fatawa al-Aqidah karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang diterbitkan oleh Maktabah as-Sunnah cetakan pertama halaman 90, al-Utsaimin berkata :

و على كل فإن يديه سبحانه اثنتان بلا شك ، و كل واحدة غير الأخرى ، و إذا وصفنا اليد الأخرى بالشمال فليس المراد أنها أنقص من اليد اليمنى

“ kesimpulannya, sesungguhnya kedua tangan Allah itu ada dua tanpa ragu lagi. Satu tangannya berlainan dari tangan satunya. Jika kita sifatkan tangan Allah dengan sebelah kiri, maka yang dimaksud bukanlah suatu hal yang kurang dari tangan kanannya “.

  1. Akidah Yahudi :
Di dalam kitab Yahud “ Safar Mazamir “ Ishah 2 nomer : 4 disebutkan :
الساكن في السموات يضحك الرب
“ Yang tinggal di langit, Tuhan sedang tertawa “


Akidah wahabi :

Di dalam kitab “ Syarh Hadits an-Nuzul “ cetakan Dar al-’Ashimah halaman 182, Ibnu Taimiyyah berkata :
أن الله فوق السموات بذاته

“ Sesungguhnya Allah itu di atas langit dengan Dzatnya “

Di dalam kitab “ Qurrah Uyun al-Muwahhidin “ karya Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab (cicit Muhammad bin Abdul wahhab), cetakan Maktabah al-Muayyad tahun 1990 cetakan pertama, halaman 263 disebutkan :

أجمع المسلمون من أهل السنة على أن الله مستو على عرشه بذاته…استوى على عرشه بالحقيقة لا بالمجاز
“ Sepakat kaum muslimin dari Ahlus sunnah bahwa sesungguhnya Allah beristiwa di Arsy dengan dzat-Nya…Allah beristiwa di atas Arsy secara hakekat bukan majaz “.
Dan masih segudang lagi akidah-akidah wahabi-salafi yang meyakiniTuhannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya sebagaimana akidah Yahudi.

Dan masih segudang lagi akidah-akidah wahabi-salafi yang meyakiniTuhannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya sebagaimana akidah Yahudi. Dan jika saya beberkan semuanya, maka akan menjadi lembaran yang sangat banyak. Cukup yang singkat sedikit ini membuktikan bahwa akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya adalah akidah Yahudi. 




Jumat, 06 Juli 2012

Wahabi adalah Khowarij dan ahli bid’ah menurut pandangan imam Adz-Dzahabi murid Ibnu Taimiyyah.



Imam Adz-Dzahabi adalah salah satu ulama yang dipercayai oleh wahabi karena beliau juga merupakan murid Ibnu Taimiyyah yang memuji-muji Ibnu Taimiyyah. Padahal di akhir-akhir hidupnya imam Adz-Dzhabi membebaskan diri dari Ibnu Taimiyyah disebabkan pandangan-pandangan Ibnu Taimiyyah yang banyak menyimpang. Bahkan imam Adz-Dzahabi menulis sebuah risalah khusus menasehati Ibnu Taimiyyah mantan gurunya tersebut.

Kali ini saya akan tampilkan ucapan imam Adz-Dzahabi yang hampir tidak pernah dipublikasikan yang menyatakan bahwa pemahaman wahabi adalah pemahaman Mutanaththi’ (lebay), Khowarij dan Ahlul bid’ah di dalam kitab karya beliau sendiri Siyar A’lam an-Nubala, perhatikan :

قال عبد الله بن أحمد : رأيت أبي يأخذ شعرة من شعر النبي صلى الله عليه وسلم فيضعها على فمه يُقبّلُها . وأحسب أنّي رأيته يضعها على عينيه , ويغمسها في الماء ويشربه يستشفي به . ورأيته أخذ قصعة من شعر النبي صلى الله عليه وسلم فغسلها في جبّ الماء ثم شرب فيها , ورأيته يشرب من ماء زمزم يستشفي به يمسح به يديه ووجهه : قلتُ: أين (المُتَنَطِّع) المُنكِر على أحمد ؟؟ وقد ثبت أن عبد الله سأل أباه عمن يلمَسُ رُمَّانة منبر النبي صلى الله عليه وسلم, ويَمَسُّ الحجرة النبوية, فقال: لا أرى بذلك بأساً. أعاذنا الله وإياكم من رأي (الخوارج) ومن (البدع).

“ Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata “ Aku telah melihat ayahku mengambil sehelai rambut Nabi Saw kemudian meletakkannya dimulutnya dan menciuminya. Aku juga melihatnya meletakkan rambut itu di tengah-tengah kedua matanya kemudian beliau mencelupkannya ke dalam air dan meminum airnya untuk dijadikan obat dengannya. Aku juga pernah melihat ayahku mengambil wadah berisi rambut Nabi Saw lalu ayahku mencucinya di dalam kantong air kemudian meminum dengannya. Aku juga melihat ayahku minum air zamzam berharap sembuh dengannya dan mengusapkannya ke kedua tangan dan wajahnya. Aku (imam Adz-Dzahabi) katakan “ Adakah orang berlebihan yang memungkiri imam Ahmad ? sungguh telah tetap bahwasanya Abdullah telah bertanya pada ayahnya (imam Ahmad) tentang orang yang menyentuh pegangan mimbar Nabi Saw dan juga menyentuh kamar Nabi Saw, maka ayahku menjawab “ yang demikian itu tidak apa-apa “, semoga kami dan kalian dilindungi Allah dari RO’YU (PAHAM) KHOWARIJ DAN DARI BI’DAH-BID’AH “.

(Siyar A’lam an-Nubala : 11/212)


Selasa, 03 Juli 2012

Wahabi adalah pengikut madzhab hawa nafsu, pengkhianat ilmiyyah dan madzhab mereka seperti ular.

Seorang ulama besar pensyarah Musnad imam Ahmad bin Hanbal yaitu syaikh Hamzah Ahmad az-Zain mensifati wahabi dengan pengikut madzhab hawa nafsu, pengkhianat ilmiyyah dan madzhab mereka seperti ular.

Ketika beliau mensyarah hadits nomer 23476 dalam kitab Musnad imam Ahmad, beliau berkomentar sebagai berikut :

إسناده صحيح ، كثير بن زيد وثقه أحمد ورضيه ابن معين ووثقه ابن عمار الموصلي وابن سعد ، وابن حبان ، وصلحه أبو حاتم ورضيه ابن عدي ولكن ضعفه النسائي ولينه أبو زرعة . وتمسك قوم بتضعيف النسائي وكلام أبي زرعة وتركوا كل هؤلاء لا لشيء إلا ليضعفوا هذا الحديث . وخطأ الحاكم والذهبي لأنهما صححاه في المستدرك 4 / 515 علماً بأنهم يوثقون كثير بن زيد في أماكن غير هذا ، ومعنى ذلك أن التوثيق والاتهام يخضع للأهواء والمذاهب وهذه خيانة علمية بحد ذاتها أما لماذا يضعفوه هنا ؟ فهذه سقطة علمية محسوبة عليهم يقولون إن في هذا دلي لم يجيز التمسح بالقبور . وهل كان أبو أيوب يتمسح بقبر النبي وهؤلاء عندهم عقدة من أي خبر فيه دنو من القبور وهذا أكبر دليل على بطلان مذهبهم ، فماذا يرجى من خونة للعلم ؟ ولا ندري مذهب هؤلاء . إنهم يدعون أنهم حنابلة تارة ولا مذهبية تارة أخرى . فلا تبعوا الحنابلة وقد خالفوا الذهبي وهو حنبلي ولا هم أثبتوا مذهباً واضحاً صريحاً يعرف لهم وإنما في مذهب كالحية

“ Isnadnya shahih, Katisr bin Zaid telah ditautsiq (dinilai tsiqah) oleh imam Ahmad dan disetujui Ibnu Ma’in, juga dinilai tsiqah oleh Ibnu Ammar al-Mushili, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban. Disetujui oleh Abu Hatim dan Ibnu Adi akan tetapi an-Nasai mendhaifkannya dan melayinkannya Abu Zar’ah. Sekelompok orang berpegang dengan penilaian dhaif an-Nasai dan kalam Abu Zar’ah dan mereka tidak memperdulikan ulama-ulama yang telah menilai tsiqah tersebut, bukan untuk apa-apa kecuali hanya untuyk mendhaifkan hadits ini saja. Kelompok itu menyalahkan al-Hakim dan adz-Dzahabi yang telah menshahihkan hadits tersebut dalam kitab Mustadraknya 4/515, karena kedua imam ini mengetahui bahwa para ulama tersebut menilai tsiqah Katsir bin Zaid di bab-bab selain ini.

Makna dari ini semua bahwasanya penilaian tsiqah dan ittiham adalah hanyalah berdasarkan hawa nafsu dan pemikiran-pemikiran mereka. Ini adalah pengkhianatan terhdap keilmiyahan

Aku tidak mengetahui apa madzhab mereka? Mereka mengaku bermadzhab Hanbali terkadang mengaku tidak bermadzhab dan tidak mngeikuti madzhab hanbali, dan mereka pun telah menentang adz-Dzahabi padahal adz-Dzahabi bermadzhab Hanbali. Mereka tidak menetapkan satu madzhab yang jelas untuk dikenali, sesungguhnya mereka di dalam madzhab seperti ular “.

(Musnad Ahmad : juz 14 halaman : 42 hadits nomer : 23476)



Senin, 02 Juli 2012

Nishfu Sya'ban dalam pandangan Ibnu Taimiyyah.


Mayoritas umat muslim jika datang malam separuh Sya’ban, maka mereka memuliakan malam tersebut dengan berbagai macam ibadah sprti dzikir, sholat sunnah tasbih, hajat atau lainnya. Tidak dengan yang beragama wahabi atau salafi, di malam itu telinga mereka merasa panas mendengar kaum muslimin membaca surat Yasin, dzikir dan lainnya, lisan mereka justru penuh dengan dzikir celaan dan bid’ah kepada kaum muslimin yang merayakan malam tsb dengan ibadah.

Tidak usah repot-repot menyodorkan dalil untuk membungkam lisan kotor mereka, cukup fatwa ulama mereka sendiri yang juga pencetus ajaran penisbat salaf ini yang dilanjutkan oleh generasi berikutnya kaum wahabi. Berikut petikan dari fatwa Ibnu Taimiyyah tentang Nisfu Sya’ban dalam kitab Majmu’ Fatawanya :

إذا صلى الإنسان ليلة النصف وحده أو في جماعة خاصّة كما كان يفعل طوائف من السلف فهو حسن

“ Jika seseorang sholat di malam Nisfu Sya’ban secara sendiri atau berjama’ah khusus sebegaimana dilakukan sekelompok dari ulama salaf, maka itu adalah BAIK “ (Majmu Fatawa : 23/131)

Di halaman selanjutnya Ibnu Taimiyyah juga berfatwa :

وأمَّا ليلة النصف فقد روي في فضلها أحاديث وآثار ونقل عن طائفة من السلف أنّهم كانوا يصلون فيها ، فصلاة الرجل فيها وحده قد تقدمه فيه سلف وله فيه حجّة ، فلا ينكر مثل هذا

“ Adapun malam nisfu Sya’ban, maka sungguh telah diriwayatkan tentang keutamaanya hadits-hadits dan atsar juga dinukil dari skelompok ulama salaf bahwasanya mereka melakukan sholat di malam tersebut. Maka sholatnya sesorang di malam itu sendiri, telah dilakukan terlebih dahulu oleh ulama salaf, dan itu adalah hujjah baginya maka tidak boleh diingkari seperti ini “. (Majmu’ Fatawa : 23/132)


Sejarah kelam raja Abdul Aziz, pendiri kerajaan wahabi di Najd


Sebagaimana pendiri wahabi Muhammad bin Abdul Wahhab dipenuhi dengan sejarah kelam dan berdarahnya, demikian pula para pengekornya terutama raja Abdul Aziz di dalam mendirikan kerajaan Arab Saudi yang dipimpinnya tak luput dari pertumpahan darah kaum muslimin yang dibunuhinya bahkan setelah dibunuh mereka tega merampok hasil peperangannya melawan kaum muslimin yang lemah tak berdaya, mereka mengganggap bereprang layaknya berperang melawan kaum kafir.

Mungkin sejarah ini jika ditulis oleh pihak selain mereka, maka mereka dengan segera menggapnya cerita ini hanyalah bualan dan kedustaan saja. Tapi bagaimana jika ternyata yang menceritakan sejarah kelam mereka adalah dari kalangan sejarawan mereka sendiri bahkan disakiskan dengan mata kepalanya sendiri. Berikut sekilas dari sejarah kelam yang dilakukan Abdul Aziz yang terangkum dalam kitab Unwanul Majd  fi Tarikh an-Najd karya Utsman  bin Bisyr seorang sejarawan Saudi urutan ketiga dari lima sejarawan Saudi yang paling diandalkan ulama wahabi :

وفيها سار عبد العزيز رحمه الله بالجيوش المنصورة إلى الإحساء وأناخ بالموضع المعروف بالمطريفي في الإحساء وقتل منهم رجالا كثيرا نحو السبعين رجلاً وأخذ أموالاً كثيرة، ثم أغار على المبرز فقتل من أهلها رجالا
“ Dan pada tahun 1176 H, Abdul Aziz Rahimahullah bersama bala tentaranya ke negeri Ihsa dan berhenti di daerah Mathrifi di Ihsa, kemudian ia membunuh tujuh puluh orang di sana dan merampas harta yang banyak, kemudian berlanjut lagi ke daerah Mabraz dan juga membunuh banyak orang di sana “. (Unwan al-Majd fii Tarikh an-Najd, Utsman bin Bisyr : 1/43)

=====================

-          Membunuh kaum muslimin yang masih bersyahadat Laa ilaaha illallah tanpa rasa takut

-          Merampas harta kaum muslimin yang mereka bunuh layaknya merampas harta kaum kafir

-          Maha besar Allah yang membeberkan sejarah kelam mereka melalui tangan-tangan pengikut mereka sendiri tanpa mereka sadari.

Minggu, 01 Juli 2012

Terbongkarnya kejahatan Muhammad bin Abdul Wahhab melalui tangan-tangan pengikut setianya


Para pengekor wahabi ketika banyak tulisan membongkar kejahatan pendiri paham mereka yaitu Muhammad bin Abdul Wahhab diantaranya tindakan kriminalitas yang dilakukan Muhammad bin Abdul wahhab seperti mengkafirkan, memfitnah dan sampai membunuh, maka dengan spontan mereka mengatakan itu kedustaan dan bohong belaka. Mereka berusaha menutupi sejarah kelam pendiri ajaran mereka sendiri, tapi walau bagaimanapun sejarah kelam mereka tidak bias ditutup-tutupi datau direkayasa.

Dan maha besar Allah yang telah membongkar kejahatan orang-orang yang dhalim dan sesat melalui tangan-tangan mereka sendiri.  Kali ini saya akan menampilkan pada pembaca bukti kejahatan Muhamamad bin Abdul wahhab dan para pengikutnya melalui tulisan seorang murid Muhammad bin Abdul wahhab sendiri yaitu Syaikh Husain bin Ghannam yang telah menulis sejarah Najd dan terangkumkan dalam kitab karyanya Tarikh an-Najd yang sudah masyhur.

Syaikh Husain bin Ghannam berkata “ Syaikhku Muhamamd bin Abdul Wahhab berkata :

إن عثمان بن معمَّر - حاكم بلد عيينة - مشركٌ كافر ، فلما تحقق المسلمون من ذلك تعاهدوا على قتله بعد انتهائه من صلاة الجمعة، وقتلناه وهو في مصلاه بالمسجد في رجب 1163

“ Sesungguhnya Utsman bin Mu’ammir seorang hakim negeri Uyainah adalah orang yang musyrik dan kafir. Ketika kaum msulimin mengetahui kekafiran Utsman, maka mereka berencana untuk membunuhnya setelah selesai sholat jum’atnya. DAN KAMI MEMBUNUHNYA SEDANGKAN UTSMAN MASIH BERADA DI TEMPAT SHOLATNYA DI DALAM MASJID di bulan Rajab tahun 1163 “. (Tarikh an-Najd halaman 97)

==================================

Perhatikanlah wahai pembaca, syaikh Husain menceritakan kisah yang diceritakan sendiri oleh Muhamamad bin Abdul Wahhab. Di mana Muhamamd bin Abdul wahhab memvonis musyrik dan kafir terhadap Utsman bin Mu’ammir seorang hakim di Uyainah.

Yang dimaksud kaum muslimin tersebut adalah para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri.

Dan perhatikanlah wahai pembaca, dengan bangga Husain dan Muhammad bin Abdul Wahhab menceritakan kronologinya ketika membunuh Utsman bin Mu’ammir tersebut.

Ironisnya mereka membunuh di dalam masjid dan Utsman masih di dalam mushollahnya bertepatan hari jum’at dan setelah menunaikan ibadah sholat jum’atnya…Laa haula wa laa quwwata illaa billah…

Suatu dosa besar yang berlipat-lipat yang dilakukan Muhamamd bin Abdul wahhab sekaligus, tapi ia merasa tindakan kejam dan busuknya itu suatu perbuatan mulia dan ia merasa bangga akan hal itu. Naudzu billahi min dzaalik..

Dan semoga Utsman bin Mu’ammir ditinggikan derajatnya oleh Allah Swt, kita sudah paham orang muslim yang wafat di hari jum’at, maka ia mendapatk keistimewaan dari Allah terlebih wafatnya di dalam keaniayaan dari orang yang dhalim.