Jumat, 23 November 2012

DISKUSI TENTANG MASALAH TAFWIDH AYAT MUTASYABIHAT


Avif Haryana :

Salah satu kaidah penting dalam bab al asma' wassifat, terdapat pada firman Allah QS 42:11,
ليس كمثله شيء وهو السميع البصير

baca: laisa kamitslihi syaiun, wa huwassamii'ul bashiir

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.

Ayat ini merupakan bantahan yang telak bagi golongan yang menolak sifat Allah (Mu'aththilah), dan yang menyamakan Allah dengan sifat makhluk (Musyabbihah),

- laisa kamitslihi syaiun -> bantahan bagi golongan yang menyamakan Allah dengan sifat makhluk
- wa huwassamii'ul bashiir -> bantahan bagi golongan yang menolak sifat Allah

Allah ta'ala mengabarkan sendiri sifat-sifat Nya kepada kita (manusia) dalam Alquran, ingat bahwa AL Quran adalah firman / kata-kata Allah.

Dalam ayat ini terdapat kaidah penting bahwa tidak ada sesuatu apapun di jagat raya ini yang serupa dengan Allah, karena Allah maha sempurna. Namun Allah memberitahukan kepada kita (manusia) bahwa Dia mempunyai sifat-sifat, supaya kita selaku hambanya mengenal-Nya dengan baik dan benar.

contoh sifat yang Allah sebutkan dalam ayat ini adalah as sami' (maha mendengar) dan al bashir (maha melihat), dimana sifat mendengar dan melihat ini juga dimiliki oleh manusia, manusia bisa melihat, bisa juga mendengar.

Maka dari itu penafsiran ayat ini tidak boleh dipotong-potong (laisa kamitslihi ditafsirkan sendiri terpisah dengan ayat selanjutnya, wa huwassamii'ul bashiir), bahkan ayat ini harus diartikan secara utuh karena bagian yang satu menafsikan bagian yang lain. ya mbak Shofiyyah An-Nuuriyyah...

Maka kita katakan: tidak ada yang sesuatu pun yang meyerupai Allah, namun Allah maha melihat dan mendengar dengan sempurna dengan penglihatan yang berbeda dengan makhluknya.

Kaidah ini bisa di analogikan dengan sifat-sifat Allah yang lainnya..

wallahu a'lam wa billahi attaufiiq..
Suka ·  · Berhenti Mengikuti Kiriman · 11 Juli pukul 16:13

Shofiyyah An-Nuuriyyah :
Ayat mulia tsb memang :
- laisa kamitslihi syaiun -> bantahan bagi golongan yang menyamakan Allah dengan sifat makhluk
- wa huwassamii'ul bashiir -> bantahan bagi golongan yang menolak sifat Allah
=================

Pertama : Allah mendahulukan kalimat TANZIH sblom mnyebutkan SIFAT. Agar kita terlebih dahulu menyucikan Allah dr sgla hal yg baru dan sgla sifat makhluk-Nya.

Kmudian Allah mnyebutkan sifat-sifatnya tsb, supaya manusia mengerti bahwa Allah memiliki sifat. Dan sifatnya tanpa TAKYIF dan TASYBIIH.

Sbgaimana Allah juga mentapkan sifat-sifat lainya sprti HIDUP, BERKEHENDAK, MAMPU dan lainnya dlm al-Quran. Namun smua sifat tsb adalah sifat yang sempurna dan layak bagi Allah.

Maka sbgai umat muslim kita sangat dilarang mnyerupakan Allah dgn sgla HAL YANG BARU dan sgla SIFAT MANUSIA sekcil apapun.

Dan kita dilarang MENAFIKAN (TA'THIL) sifat-sifat Allah sebab Allah sndiri menetapkannya.

Inilah manhaj ULAMA SALAF.
11 Juli pukul 16:44 · Suka · 3

Shofiyyah An-Nuuriyyah :
Di bawah aq diskusi sm mas Agil Adianda Putra tntang TAKWIL dan perbandingan AKIDAH kami.
Nah, di thread ini sprtinya mas Avif Haryana ingin BERMUDZAKARAH dgn saya tentang persoalan yg sedikit berbeda topiknya..
Oke aq tanggapin, dan aq panggil bbrpa moderator dan tamu supaya Mudzakarahnya brjalan baik-baik...
Mas Abdillah Djunaidi, Supardi Bin Sastro Mu'iman, Syifa Muhammad ..
Cuma mrka yg aku kenal bersikap bijak...
11 Juli pukul 16:59 · Suka · 4

Afif Haryana :
thoyyib..
lanjut...
Kaedah diatas juga bisa diterapkan kepada sifat-sifat Allah yang lain baik yang fi'liyah maupun dzatiyyah..
sifat fi'liyah contohnya: Allah 'turun' ke langit dunia pada sepertiga malam Akhir, Allah istiwa' di atas 'Ars dll..
sifat dzatiyah contohnya: tangan Allah, wajah Allah..

Maka dengan berdasar kaidah diatas, kita katakan bahwa :
-Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam akhir, namun turunnya Allah berbeda dengan turunnya makhluk
- Allah beristiwa (ada yang merjemahkan: bersemayam) diatas 'arsy, namun istiwa'nya Allah berbeda dengan makhluqnya
-Allah punya tangan, namun tangan Allah berbeda dengan tangan makhluqnya..
-Allah punya wajah namun wajah Allah berbeda dengan makhluknya..
maka dari itu benarlah perkataan imam Malik rahimahullah
الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.
baca: al istiwaau ma'luumun wal kaifiyyatu majhuulun wal iimaanu bihi waajibun, wassuaalu 'anhu bid'atun

artinya: ‘Al-Istiwaa’ adalah diketahui (yaitu diketahui maknanya dalam bahasa arab), kaifiyahnya (bagaimananya sifat Allah) itu tidak diketahui (majhuul), beriman kepada sifat Allah tersebut adalah wajib dan bertanya tentang sifat-sifat Allah adalah bid’ah.
11 Juli pukul 17:34 · Suka

Shofiyyah An-Nuuriyyah:
 Maka dengan berdasar kaidah diatas, kita katakan bahwa :
-Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam akhir, namun turunnya Allah berbeda dengan turunnya makhluk
- Allah beristiwa (ada yang merjemahkan: bersemayam) diatas 'arsy, namun istiwa'nya Allah berbeda dengan makhluqnya
-Allah punya tangan, namun tangan Allah berbeda dengan tangan makhluqnya..
-Allah punya wajah namun wajah Allah berbeda dengan makhluknya..
=========================

Di sinlah bedanga SIKAP ULAMA SALAF dengan sikap ANDA dan semisal anda...

Ulama salaf menetapkan semua sifat Allah baik yg DZATIYYAH maupun yang KHOBARIYYAH, mereka menyerahkan maknanya pada ALLAH dgn tetap MENYUCIKAN ALLAH DARI SEMUA HAL BARU DAN SIFAT2 MAKHLUKNYA.

Oleh ulama ini disebut dgn TAFWIDH atau TAKWIL IJMALI (bukan TAKWIL TASILI).
Namun perspsi anda tntang sifatAllah ini, pada awalnya memang mentafwidh tapi selanjutnya mengarah pada tajism.
Perhatikan ucapan imam Ahmad bin Hanbal :
من قال الله جسم لا كالأجسام كـَفَـرَ
Barangsiapa yang mengatakan ; Allah itu berjisim tapi tidak seperti jisim manusia, maka ia telah kafir “. (Tasyniful Masami’ juz 4 halaman : 684)

Ucapan anda tsb sungguh pada awalnya ingin menafikan tasybih, tapi dgn mnyebutkan " NAMUN TANGAN ALLAH BERBEDA DGN TANGAN KITA ", maka kembali anda menafikan sifat Allah dan anda malah trjerumus pada TASYBIH ....
bsok insya Allah saya akan jelaskna qoul para ulama yng menntang ucapan sprti itu dan knpa bisa ditentang, saya akan jlskan scra detailnya...
skrg bntr lg mau maghrib...aq stop dl...
11 Juli pukul 18:11 · Suka · 3

Avif Haryana:
 Silakan..semoga diskusi ini berfaidah, semoga kita termasuk orang-orang yang dipuji Allah dalam Alquran QS Az Zumar ayat 17-18:
"sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, Yaitu orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya . Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal"
11 Juli pukul 18:23 · Telah disunting · Batal Suka · 3

Shofiyyah An-Nuuriyyah :
PERTAMA mas Avif Haryana mngatakan :

-Allah punya tangan, namun tangan Allah berbeda dengan tangan makhluqnya..
-Allah punya wajah namun wajah Allah berbeda dengan makhluknya
===========

Aku jawab :

Bandingkan dengan ucapan dan penjelasan salaf berikut tentang ayat-ayat khobariyyah tsb :

Imam Ahmad bin Hanbal berkata :

ءامنت بما جاء عن الله على مراد الله وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله
Aku beriman terhadap apa yang dating dari Allah atas makna yang Allah kehendaki, dan beriman kpd apa yang dating dari Rasulullah atas makna yang Rasul kehendaki “.

Ulama salaf yg lain mngtakan :

Kami beriman dengan semua sifat yang Allah sifatkan dirinya sendiri dalam al-Quran tanpa KAIF dan tanpa menyerupakaan Alah pada makluk-Nya “

Kami beriman dengan Yad Allah, Rijl Allah, Ain Allah, wajh Allah dengan menyerahkan maksud sbnrnya pada Allah dengan tanpa kaif dan tasybih.

Jadi para ulama salaf tidak membawakan makna ayat-ayat dan hadits-hadits sifat dan mutaysabihat kepada makna dhahirnya. Jika mereka membawakan makna dhahirnya, maka mereka tidak mungkin mentafwidh / menyerahkan maksud sebenrnya pada Allah, tapi mereka akan secara jelas mengatakan makna yad scra dhahir sbgaimana makna Yad, Rijl, ain, wajh dalam bahasa Arabnya.

Oleh sebab itulah ulama menamakan istilah tafwidh ini dengan TAKWIL IJMALI yaitu takwil yg bersifat umum artinya mengalihkan maksud teks-teks yg mutasyabihat tsb dari makna literalnya, tanpa mberikan maksud yang pasti trhadapnya, dengan menyerahkan pengetahuan maksud yg sebenarnya kpd Allah Swt.

Sbgaiamana dikatakan oleh imam Baijuri dlm kitab Syarh Jauhar Tauhidnya :

كما ظهر أن السلف والخلف مجمعون على أن ظواهر هذه النصوص غير مرادة، وأنها مصروفة عن هذه الظواهر إلا أن السلف لا يعينون المعنى المراد وأما الخلف فيعينونه، ومن أجل ذلك قال كثير من العلماء إن السلف يؤولون تأويلاً إجمالياً، والخلف يؤولون تأويلاً تفصيلياً

Sbgaiamana telah jelas, bahwa ulama salaf dan kholaf sepakat bahwa nash-nash tsb bukanlah makna literal yang dimaksud. Dan sepakat bahwa maknanya dipalingkan dr makna literalnya. Akan tetapi ulama salaf tidak menjelaskan maknanya sedangkan ulama kholaf menjelaskan maknanya. Oleh sebab itu banyak para ulama mengatakan sesungguhnya ulama salaf mentakwil tapi mentakwil secara ijmali sedangkan ulama kholaf mentakwil secara tafsili. “
Nah sangat bebeda jauh dengan ucapan mas Avif yang mengatakan “ ALLAH PUNYA TANGAN TAPI TANGANNYA TIDAK SEPERTI MAKHLUKNYA “.
12 Juli pukul 19:41 · Telah disunting · Suka · 3

Shofiyyah An-Nuuriyyah :
Dan ucapan mas Avif Haryana di atas selain tidak pernah diucapkan oleh ulama salaf, juga mngnadung wahm dan syak.

Ucapan itu pada awalnya ingin menafikan taysbih (penyerupan pada Allah) tapi justru jatuh pada tajsim dengan menisbatkan kaif (haiah)bagi Allah.

Ucapan tersebut mau tidak mau pasti menimbulkan pemahaman bahwa Allah punya anggota tubuh sprti tangan, kaki, jari, mata, hidung, wajah tapi tangan, kaki, jari, mata, hidung dan wajah Allah tdk sperti tangan, kaki, jari, mata, hidung dan wajah makhluk-Nya.

Inilah yang dikatakan oleh imam Ahmad bin Hanbal :

Barangsiapa yang mengatakan Allah punya jisim tapi tidk sprti jisim-jisim lainnya, maka dia telah kafir “..
12 Juli pukul 19:33 · Suka · 3

Shofiyyah An-Nuuriyyah:
 KEDUA : mas Avif mengatakan :
- Allah beristiwa (ada yang merjemahkan: bersemayam) diatas 'arsy, namun istiwa'nya Allah berbeda dengan makhluqnya.
==============
Aq jawab :
1. Skrg kita bandingkan dulu dengan pendapat para ULAMA SALAF tentang ISTAWA :

Imam Abu Hanifah mengakan :

"ونقر بأن الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة إليه واستقرار عليه، وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياج، فلو كان محتاجا لما قدر على إيجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين، ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا"

Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy. Allah yang memelihara arsy dan memelihara selain arsy, maka Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-makhluk-Nya tersebut. Karena jika Allah membutuhkan kapada makhluk-Nya maka berarti Dia tidak mampu untuk menciptakan alam ini dan mengaturnya. Dan jika Dia tidak mampu atau lemah maka berarti sama dengan makhluk-Nya sendiri. Dengan demikian jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Artinya, jika sebelum menciptakan arsy Dia tanpa tempat, dan setelah menciptakan arsy Dia berada di atasnya, berarti Dia berubah, sementara perubahan adalah tanda makhluk). Allah maha suci dari pada itu semua dengan kesucian yang agung ”

(Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh Mullah Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70).

Perhatikan perkataan Imam Abu Hanifah diatas: ”Dan kami mengakui Bahwasannya Allah yang maha Suci dan maha Tinggi diatas arsynya Istawa, tanpa membutuhkan (Ihtiyaj) kepadanya dan Tanpa ber-Diam / berada (istiqrar) diatasnya ”.

Artinya beliau mengimani bahwa Allah memang beristiwa sbgaimana dijelaskan dlm al-Quran, tapi beliau tidak mengartikan Istiwaa dengan ”makna asalnya / dhahirnya” yaitu : ”Istiqror” ( ber-diam / berada ). Itulah tafwidh atau takwil ijmali yang dilakukan imam Abu Hanifah.
12 Juli pukul 19:37 · Suka · 3

Shofiyyah An-Nuuriyyah :
2. Imam Malik. Disebutkan dalam kitab ASMA WA SHIFAT karya imam Baihaqi dgn sanad yg bersambung pada imam Malik :

كنا عند مالك بن أنس فدخل رجل فقال : يا أبا عبد الله الرحمن على العرش استوى كيف استواؤه؟ قال: فأطرق مالك وأخذته الرحضاء ثم رفع رأسه فقال : الرحمن على العرش استوى كما وصف نفسه ولا يقال كيف وكيف عنه مرفوع وأنت رجل سوء صاحب بدعة أخرجوه ، قال : فأخرج الرجل

Kami bersama Anas bin Malik, lalu masuklah seseorang dan bertanya “ Wahai Abu Abdillah ; Ar-Rahman beristiwa di atas Arsy, bagaimana Istiwanya Allah ? Maka imam Malik menundukan kepala sejenak, kmudian mngangkat kepalanya lagi dan berkata : “ Ar-Rahman beristiwa di atas arsy sbgaimana Dia mensifatinya dan tidak boleh dikatakan bagaiman karena bagaimananya itu mustahil bagi Allah, engkau orang buruk pelaku bid’ah, keluarkan dia ! ”.

Kenapa imam Malik mngusir org tsb dan mngatakannya pelaku bid’ah ?

sebab pertanyaan orang itu tentang bagaimana istiwanya Allah menunjukkan bahwa orang itu memahami istiwa secara dhahir yang mrupakan persentuhan jisim dgn jisim dan penetapannya atas arsy tapi org itu ragu di dalam bagaimana istiwa tsb. Dan inilah tasybih yg sesungguhnya sehingga imam Malik mengatakan org itu pelaku bid’ah.

Ini tentang orang yang bertanya BAGAIMANA ISTAWANYA ALLAH, lalu bagaimana dengan orang yang menafsirkan ISTAWA dgn duduk dan bersemayam?? bukan cuma sudh brbuat bid'ah lagi tap sudh kufur..
12 Juli pukul 19:39 · Suka · 3

Shofiyyah An-Nuuriyyah:
 Imam Malik pun juga menafikan ARAH bagi Allah.

Ktika imam Malik berbicara tentang hadits :

لا تفضلوني على يونس بن متى

Janganlah kalian menggunggulkan aku atas Yunus bin Matta “
Imam Malik mengomentari hadits tsb sbgai berikut :

إنما خص يونس للتنبيه على التنـزيه لأنه صلى الله عليه وسلم رُفع إلى العرش ويونس عليه السلام هُبط على قابوس البحر ونسبتهما مع ذلك من حيث الجهة إلى الحق جل جلاله نسبة واحدة ، ولو كان الفضل بالمكان لكان عليه الصلاة والسلام أقرب من يونس بن متى وأفضل مكانا ولما نهى عن ذلك

Sesungguhnya Nabi menyebutkan dgn khusus kpd nabi Yunus adalah sebagai peringatan atas PENSUCIAN ALLAH. Karena nabi Saw diangkat ke arsy sedangkan Yunus ditenggelamkan di bawah dasar laut (dlm perut ikan). Menisbatkan keduanya dari segi arah pada Allah adalah nisbat yang satu. Seandainya keutamaan itu diperoleh dgn sebab tempat, maka niscaya Rasulullah lebih dekat kepada Allah dibandingkan nabi Yunus dan paling utamanya tempat dan niscaya Rasul tidak melarang utk mnggunggalkan beliau pada nabi Yunus “.

Artinya, kenapa Rasul melarang mengunggullkan dirinya atas nabi Yunus, padahal Rasulullah diangkat ke arsy jika kita tetapkan Allah ada di Arsy dan nabi Yunus di dasar lautan yang sangata dalam, bahkan dlm bbrpa tafsir di katakan tiga kegelapan; kegelapan malam, kegelapan lautan dan kegelapan brada di dalam perut ikan. Artinya Rasululllah lebih dekat ke Allah drpada nabi Yunus..

Sebab kata imam Malik Allah bukan berada di suatu arah atas atau pun bawah. Beliau menafikan arah bagi dzat Allah. Oleh sebab itulah nabi melarang hal itu sbgai peringatan akan kesuciaan Allah dr arah atas maupun bawah. Sebab arah itu sifat bagi makhluk sdngkan Allah bukan makhluk.
12 Juli pukul 19:40 · Suka · 3

Avif Haryana:
 Kepada Yth. Mbak Shofiyyah An-Nuuriyyah
Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa man waalahu..
amma ba’d,
Shofiyyah said:
Imam Ahmad bin Hanbal berkata :
ءامنت بما جاء عن الله على مراد الله وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله
Aku beriman terhadap apa yang dating dari Allah atas makna yang Allah kehendaki, dan beriman kpd apa yang dating dari Rasulullah atas makna yang Rasul kehendaki “.
========

Sungguh bagus perkataan imam Ahmad rahimahullah ini, pantas ditulis dengan tinta emas. Allah menghendaki suatu makna dan rasululllah juga menghendaki suatu makna. Dengan kata lain bahwa Allah menjelaskan sifat-sifatnya dalam Al Quran dan Rasulullah menjelaskan sifat-sifat Allah dalam hadits-haditsnya yang sohih dengan makna yang terkandung dalam bahasa arab itu sendiri, tanpa takyif tentunya.

Perhatikan ayat-ayat ini:
- QS 26:195, “dengan bahasa Arab yang jelas.” (maksudnya Alquran diturunkan dengan bahasa arab yang jelas-red)
- QS 16:44, Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu (Muhammad) menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan
- QS 35:28 “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”
Al Quran adalah firman Allah dengan bahasa Arab yang jelas, dan jelaskan pula oleh Rusullullah Shallalhu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya dengan bahasa arab yang fasih, dengan makna yang dipahami oleh para sahabat. (fungsi rasulullah sebagai mubayyin, QS 16:44). Terlebih dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah, mustahil rasulullah menjelaskan kepada para shahabatnya dengan bahasa arab tanpa makna. Dan tentu para sahabat juga memahami dengan maknanya dalam bahasa arab. Sehingga diantara hamba-hamba Allah ada orang-orang yang sangat takut kepada Allah, karena mengimani asma wa sifat Allah secara baik dan benar, merekalah para ulama sejati (QS 35:28). Note: ulama, akar katanya dari ‘alima (ع ل م) yang artinya tahu.

Shofiyyah said:
Kami beriman dengan Yad Allah, Rijl Allah, Ain Allah, wajh Allah dengan menyerahkan maksud sbnrnya pada Allah dengan tanpa kaif dan tasybih.

Ini perkataan ulama salaf yang mana? Siapa bliau?

Shofiyyah said:
Jadi para ulama salaf tidak membawakan makna ayat-ayat dan hadits-hadits sifat dan mutaysabihat kepada makna dhahirnya. Jika mereka membawakan makna dhahirnya, maka mereka tidak mungkin mentafwidh / menyerahkan maksud sebenrnya pada Allah, tapi mereka akan secara jelas mengatakan makna yad scra dhahir sbgaimana makna Yad, Rijl, ain, wajh dalam bahasa Arabnya.
========
Kesimpulan anda kurang tepat disini, karena rijl, 'ain, wajh adalah diketahui maknanya dalam bahasa arab (ini adalah hal yang ma’ruf) walaupun mereka tidak secara jelas mengatakannya. Yang diserahkan kepada Allah adalah kaifiyyah dari makna tersebut (tanpa takyif)
Lihatlah perkatatan imam malik berikut ini:
الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.
baca: al istiwaau ma'luumun wal kaifu majhuulun wal iimaanu bihi waajibun, wassuaalu 'anhu bid'atun.

al istiwa` u ma’luumun = istiwa diketahui maknanya dalam bahasa arab, yaitu: علا وارتفع (naik dan tinggi
wal kaifu majhuulun = Kaifiyyahnya tidak diketahui, kita serahkan kaifiyyahnya kepada Allah ( Tafwidh dlm kaifiyahnya, maknanya tetap dimaknai sebagai mana makna katanya)
Namun, sayangnya ada segelintir orang yang sengaja mau mendustakan perkataan Imam malik ini dengan segala tipu muslihat, karena ini adalah perkataan sangat jelas tentang manhaj salaf dalam aqidah asma’ wa assifat. Bahkan faktanya, Imam Al Qurtubi dalam tafsirnya mengatakan bahwa ini adalah perkataan imam malik.
Lihat tafsir Al Qurtubi jilid 7 hal 219 baris terakhir s.d hal 220 baris pertama
(kitabnya bisa di download di http://ia700200.us.archive.org/2/items/waq61451/07_61454.pdf )

Saya juga bisa sebutkan perkataan dengan makna yang sama yang sanadnya langsung bersambung ke Imam malik:
Telah mengkhabarkan kepada kami Abu MuhammadAl-Mukhalladiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr ‘Abdullah bin Muhammad bin Muslim Al-Isfiraayiiniy : Telah menceritakan kepada kami Abul-Husain ‘Ali bin Al-Hasan : Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib : Telah menceritakan kepada kami Mahdiy bin Ja’far bin Maimun Ar-Ramliy, dari Ja’far bin ‘Abdillah ia berkata : “Datang seorang laki-laki kepada Maalik bin Anas, yaitu menanyakan kepada beliau tentang firman Allah : ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’ ; bagaimana istiwaa’-nya Allah itu ?”. Perawi berkata : “Belum pernah aku melihat beliau (Malik) marah sedemikian rupa seperti marahnya beliau kepada orang itu. Tubuhnya berkeringat, orang-orang pun terdiam. Mereka terus menantikan apa yang akan terjadi. Kemudian setelah keadaan Al-Imam Malik kembali normal, beliau berkata : “Kaifiyah-nya tidaklah dapat dinalar, istiwaa’ sendiri bukan sesuatu yang majhul, beriman kepada adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Dan sesungguhnya aku takut kamu berada dalam kesesatan”. Kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk dikeluarkan dari majelisnya [‘Aqidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits, hal. 38-39, tahqiq : Badr bin ‘Abdillah Al-Badr; Adlwaaus-Salaf, Cet. 2/1415].
15 Juli pukul 22:00 · Suka · 1

Avif Haryana :
Shofiyyah said:
Ucapan tersebut mau tidak mau pasti menimbulkan pemahaman bahwa Allah punya anggota tubuh sprti tangan, kaki, jari, mata, hidung, wajah tapi tangan, kaki, jari, mata, hidung dan wajah Allah tdk sperti tangan, kaki, jari, mata, hidung dan wajah makhluk-Nya.
======

Tidak mesti yang punya wajah punya anggota badan yang lain, kalau kita menetapakan anggta badan yang lain tanpa dalil, ini adalah tasybih (Menyerupakan Allah dengan Makhluknya) Apalagi wajah Allah kita tidak tahu kaifiyyahnya gimana, yang jelas kita tetapkan wajah Allah sesuai maknanya tanpa kaifiyyah..Anda berusaha mensucikan Allah (tanzih) dengan tanpa memaknai kata-kata yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah, dengan istilah tafwidh, menyerahkan makna dan kaifiyyahnya kepada Allah. Namun pada dasarnya anda telah menolak makna-makna kata yang telah Allah tetapkan dalam Al Quran dan makna kata yang telah rasulullah sampaikan dalam hadits-haditsnya yang sohih yang berkaitan dengan asma wa sifat. Anda berusaha untuk mensucikan Allah dengan tidak memaknai sifat-sifat Allah, namun sebenarnya anda telah terjebak kepada tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). Bagaimana bisa? Karena sebelum anda menolak makna-makna dari lafadz-lafadz sifat dalam Al Quran dan Hadits, anda telah menyerupakan Allah dengan makhluknya, sehingga pada akhirnya anda tolak makna makna tersebut. Padahal Al quran adalah diturunkan dalam bahasa arab yang jelas dan kita diperintahkan untuk mentadabburi ayat ayat nya, Ingat firman Allah dlm QS 38: 29, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. Bagaimana mungkin lafadz-lafadz sifat dalam Al Quran tidak kita maknai? (Kecuali huruf-huruf muqatta’ah di awal-awal surat, tidak kita tetapkan maknanya karena itu bukan susunan kata dalam bahasa arab, alias maknanya tidak ada di kamus)
Dalam hal ini kita perlu berhati-hati untuk menerima teks dalam Al Quran dan Hadits apa adanya tanpa menolak maknanya dan tanpa menetapkan sifat-sifat yang tidak ditetapkan oleh Allah dan rasulNya. Di dalam Al Quran sendiri Allah mengatakan wajhullah (wajah Allah) di QS 2:115 dll, Yadullah (tangan) di QS 5:46, ‘ainullah (mata Allah) di dan kita hanya menetapkan lafadz-lafadz yang ada dalam Al Quran dan hadits tanpa menolaknya dan tanpa menanyakan kaifiyyahnya.

Shofiyyah said :
1. Skrg kita bandingkan dulu dengan pendapat para ULAMA SALAF tentang ISTAWA :
Imam Abu Hanifah mengakan :
"ونقر بأن الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة إليه واستقرار عليه، وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياج، فلو كان محتاجا لما قدر على إيجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين، ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا"
Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy. Allah yang memelihara arsy dan memelihara selain arsy, maka Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-makhluk-Nya tersebut. Karena jika Allah membutuhkan kapada makhluk-Nya maka berarti Dia tidak mampu untuk menciptakan alam ini dan mengaturnya. Dan jika Dia tidak mampu atau lemah maka berarti sama dengan makhluk-Nya sendiri. Dengan demikian jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Artinya, jika sebelum menciptakan arsy Dia tanpa tempat, dan setelah menciptakan arsy Dia berada di atasnya, berarti Dia berubah, sementara perubahan adalah tanda makhluk). Allah maha suci dari pada itu semua dengan kesucian yang agung ”

(Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh Mullah Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70).
==========
Sungguh indah perkataan Imam Abu Hanifah, dan inilah manhaj salafus sholeh. Namun sayangnya anda menerjemahkan teks tersebut secara tendensius, diseret-seret agar cocok dengan pendapat anda, terutama dalam potongan kata ini :

Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy”
dari mana anda dapatkan kata “dalam pengertian”?

saya nukilkan terjemahan yang lebih “netral” berikut:
Kami menetapkan (mengakui) bahwa sesungguhnya Allah SWT beristiwâ’ di atas Arsy tanpa Dia butuh kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya.”
Tanpa dia butuh kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya, adalah maksud tanpa takyif (mebagaimanakan), dengan menetapkan kata istiwa’. Dan inilah manhaj salaf yang sesungguhnya menetapkan adanya makna istiwa’ dan menyerahkan kaifiyah istiwa kepada Allah (karena kita tidak mengetahui kaifiyahnya)
Jadi perkataan Abu Hanifah ini sebenarnya adalah hujjah saya bukan hujjah anda.

Shofiyyah said:
Perhatikan perkataan Imam Abu Hanifah diatas: ”Dan kami mengakui Bahwasannya Allah yang maha Suci dan maha Tinggi diatas arsynya Istawa, tanpa membutuhkan (Ihtiyaj) kepadanya dan Tanpa ber-Diam / berada (istiqrar) diatasnya ”.
========

Nah kalau yang ini tidak tendensius.

Shofiyyah said:
Artinya beliau mengimani bahwa Allah memang beristiwa sbgaimana dijelaskan dlm al-Quran, tapi beliau tidak mengartikan Istiwaa dengan ”makna asalnya / dhahirnya” yaitu : ”Istiqror” ( ber-diam / berada ). Itulah tafwidh atau takwil ijmali yang dilakukan imam Abu Hanifah.
========

Yang dilakukan Imam abu hanifah disini bukan tafwidh makna, tapi tafwidh kaifiyyahnya.
Intinya Manhaj salaf dalam aqidah asma’ wa sifat bukan tafwidh makna, akan tetapi menetapkan adanya makna pada lafadz-lafadz sifat-sifat Allah yang ada dalam Al Quran dan hadits, dengan tanpa takyif (bisa dibilang, tafwidh dalam masalah kaifiyah), tanpa tathil, tanpa tamsil dan tanpa tasybih. Sekian dulu,

Wallahu ‘alam
Washallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam..
15 Juli pukul 22:00 · Suka · 1


Shofiyyah An-Nuuriyyah :
 Avif Haryana Sa’id :

Al Quran adalah firman Allah dengan bahasa Arab yang jelas, dan jelaskan pula oleh Rusullullah Shallalhu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya dengan bahasa arab yang fasih, dengan makna yang dipahami oleh para sahabat. (fungsi rasulullah sebagai mubayyin, QS 16:44). Terlebih dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah, mustahil rasulullah menjelaskan kepada para shahabatnya dengan bahasa arab tanpa makna. Dan tentu para sahabat juga memahami dengan maknanya dalam bahasa arab. Sehingga diantara hamba-hamba Allah ada orang-orang yang sangat takut kepada Allah, karena mengimani asma wa sifat Allah secara baik dan benar, merekalah para ulama sejati (QS 35:28). Note: ulama, akar katanya dari ‘alima (ع ل م) yang artinya tahu.
===============

saya jawab :

Memang benar al-Quran diturunkan degn bahasa Arab. Lafadz-lafadz bahasa arab sndiri itu pun memiliki uslub yang tinggi dan makna yang luas. Sebelum Islam datang dan sesudahnya, bahasa arab pun juga memiliki makna yang berlainan, misal sblom Islam datang Sholah bermakna doa dan setelah Islam dating sholah bermakna segala perbuatan dan ucapan yang dimulai degn takbir dan diakhiri dgn salam.
Dalam bahasa arab pun juga memiliki makna Haqiqatan dan Majaazan contoh yang majaazan Hadits Nabi Saw :

أسرعكن لحوقا بى أطولكن يدا

Paling segeranya di antara kalian (keluarga Rasul) yang menyusulku adalah yang paling panjang tangannya “.

Makna hadits itu bukan berarti tangan yang paling panjang, tapi yang paling banyak shodaqahnya.

Demikian juga makna bhsa arabnya dalam kalam bermakna dgn makna yang berlainan sesuai Siyaqul kalamnya.

Nah dalam aya-ayat al-Quran juga sebagian hadits ada yg disebut sebgai Muhkam dan mutasyabih.

Muhkamat : Ayat-ayat yang terang dan jelas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.
Mutasyabihat : Ayat yang tidak jelas maksudnya, yang seoalah menyerupakan Allah dengan makhluknya.
Ayat-ayat Muhkamat oleh Allah disebut dgn Ummul kitab (pokok-pokok isi al-Quran), karena ayat muhkamat tsb yang harus menjadi acuan dan rujukan dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat.

Di antaranya ayat :
Laitsa kamitslihi syaiun “

Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan pada kita bagaimana cara menyikapi ayat-ayat mutasyabihat. Yaitu agar kita mengimani dan membenarnkan adanya sifat-sifat yang Allah sebutkan dlm al-Quran maupun haditsnya tanpa menanyakan kaifiyat dan tanpa menyerupakannya dgn sifat-sifat makhluk-Nya. Dan Allah melarang dan mengecam orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat dgn tujuan menimbulkan fitnah bagi kaum muslimin lainnya.

Oleh sebab itu imam Ahmad Ar-Raifa’I (W 578 H, yang sangat dipuji-puji Ibnu Taimiyyah dlm salah satu kitabnya) mengatakan :

صونوا عقائدك؅ من التمسك بظاهر ما تشابه من الكتاب والسنة فان ذالك من اصول الكفر

Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur'an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran". (Burhan al-Muayyad)

Jelas, dilarang mengikuti makna dhahir dr ayat-ayat mutasyabihat, sebab makna dhahir dlm bhsa arab memiliki makna yang banyak contohnya Istawa, ini memiliki 15 makna dan tak ada satupun satu makna yang mewakili makna Istawa shingga maknanya menjadi mutasyabih / samar. Jika kita ikuti makna dhahirnya, maka mnjadikan pmhaman bahwa Allah itu istaqarra / bersemayam di atas arsy sdngkan kata istaqarra / semayam itu sifat makhluk. Maka kita telah menyerupakan Allah dgn sifat makhluknya padahal Allah tidk sperti makhluk-Nya.

Dan sebab itulah imam Ath-Thahawi (ulama salaf) berkata : Brangsiapa yang mensifati Allah dgn makna / sifat dari makna-makna /sifat-sifat makhluk, maka dia telah kafir “.
17 Juli pukul 15:57 · Suka


Shofiyyah An-Nuuriyyah Kami beriman dengan Yad Allah, Rijl Allah, Ain Allah, wajh Allah dengan menyerahkan maksud sbnrnya pada Allah dengan tanpa kaif dan tasybih.

Ini perkataan ulama salaf yang mana? Siapa bliau?
==============

Bnyak ulama salaf yang mengatakan dgn ucapan yang senada di atas, di antaranya imam Abu Hanifah ktika mnjlaskan pmbhsan tntang melihat Allah di surge, beliau mengatakan :

ويراه المؤمنون وهم في الجنة بأعين رؤوسهم بلا تشبيه ولا كيفية ولا كمية ولا يكون بينه وبين خلقه مسافة

Dan kaum muslimin akan melihat Allah ketika mereka di surge dgn mata kepala mereka sndiri tanpa TASYBIH, KAIFIYYAH, KUMMIYYAH dan tak ada jarak antara Allah dan makhluk-Nya “
(Al-Wshiyah : 136-137)

Artinya imam Abu Hanifah mengimani terlihatnya Allah bagi hamba-Nya kelak di surga tanpa Tasybih, Kaifiyyah dan Kummiyyah. Ini merupakan tafwidh yg sempurna dari imam Abu Hanifah terkait ayat mutasyabihat.

Imam Syafi’i juga pernah mengatakan dgn ucapan yang senada di atas saat ditanya tentang ayat ISTAWA, beliau menjawab :

ءامنت بلا تشبيه وصدقت بلا تمثيل واتهمت نفسي في الإدراك وأمسكت عن الخوض فيه كل الإمساك

Aku mengimani (ayat-ayat tsb) tanpa Tasybih, aku membenarkannya tanpa Tamstil, aku mencurigaiku diriku di dalam memahaminya dan aku mencegah diriku dari memperdalam pemahamannya dgn sebenar-benarnya pencegahan “. (al-burhanu al-Muayyad : 24)

Perhatikan sikap imam Syafi’I tntang ayat mutasyabihat, beliau bersikap :

1. Mengimani tanpa TASYBIH
2. Membenarkan tanpa TAMTSIL
3. Mencurigai diri dari memahaminya artinya beliau tidak berani meng-idrak ISTAWA tsb
4. Imsak / menahan diri dgn sbnr-benarnya dr haudh (membicarakan lbh dalam) ayat tsb

Ini juga merupakan TAFWIDH yg sempurna dr imam Syafi’i..
17 Juli pukul 15:59 · Suka

Shofiyyah An-Nuuriyyah :
Avif Haryana sa'id :
Lihatlah perkatatan imam malik berikut ini:
الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.
baca: al istiwaau ma'luumun wal kaifu majhuulun wal iimaanu bihi waajibun, wassuaalu 'anhu bid'atun.

al istiwaa u ma’luumun = istiwa diketahui maknanya dalam bahasa arab, yaitu: علا وارتفع (naik dan tinggi
wal kaifu majhuulun = Kaifiyyahnya tidak diketahui, kita serahkan kaifiyyahnya kepada Allah ( Tafwidh dlm kaifiyahnya, maknanya tetap dimaknai sebagai mana makna katanya)
Namun, sayangnya ada segelintir orang yang sengaja mau mendustakan perkataan Imam malik ini dengan segala tipu muslihat, karena ini adalah perkataan sangat jelas tentang manhaj salaf dalam aqidah asma’ wa assifat. Bahkan faktanya, Imam Al Qurtubi dalam tafsirnya mengatakan bahwa ini adalah perkataan imam malik.
Lihat tafsir Al Qurtubi jilid 7 hal 219 baris terakhir s.d hal 220 baris pertama
(kitabnya bisa di download di http://ia700200.us.archive.org/2/items/waq61451/07_61454.pdf )
======================

Ini merupakan pemahaman secara tendensius :

Pertama : tidak dijelaskan oleh imam Ahmad apa yg dimaksud maklum di situ. Apa maklum dari segi lafadz atau maklum disebutkan dalam al-Quran.

Kedua : Bagiamana dikatakan Maklum fil lafadz, sdngkan makna lafadz Istawa sangat bnyak. Dan hamper seluruhnya mewahamkan tasybih bagi Allah. Sdngkan Allah melarang mengikuti mutasybih.

Ketiga : Oleh ulama kalam imam Malik tsb dinilai dhaif, dan yg shahih sbgaimana disebutkan oleh imam Baihaqi berikut :

الرحمن على العرش استوى كما وصف نفسه ولا يقال كيف وكيف عنه مرفوع

Ar-Rahman beristiwa di atas Arsy seperti yang Dia sifati sendiri, dan tidak boleh ditanyakan kaifiyyahnya sedangkan kaifiyah itu mustahil bagi Allah “. (al-Asma wa ash-shifat : 408)

Dalam kalam yg ini tdk disebutkan “ al-Istiwa ma’lum “ dan ini lebih shahih mnurut imam Baihaqi dan Ibnu Hajar dalam Fathul Barinya.

Keempat : Jika anda memahami ISTAWA dgn makna dhahirnya dalam bhsa arab semisal istaqarra / bersemayam, maka anda telah mensifati Allah dgn sifat makhluk-Nya karna istaqarra adalah sifat makhluk. Maka tak ada manfaatnya lagi anda memberikan embel-embel setelahnya dgn mngucapkan “ Istaqarra yang tidak seperti istaqarra makhluk-Nya “, inilah yang dikatakan oleh imam Jakfar ath-Thahawi :
ومَن وَصَفَ اللهَ بمعنًى مِن معاني البَشَرِ فَقَدَ كَفَرَ

Barangsiapa yang mensifati Allah dengan makna dari makna-makna manusia, maka ia telah kufur "..
17 Juli pukul 16:01 · Suka

Shofiyyah An-Nuuriyyah : Anda mengatakan:
Tidak mesti yang punya wajah punya anggota badan yang lain, kalau kita menetapakan anggta badan yang lain tanpa dalil, ini adalah tasybih (Menyerupakan Allah dengan Makhluknya) Apalagi wajah Allah kita tidak tahu kaifiyyahnya gimana, yang jelas kita tetapkan wajah Allah sesuai maknanya tanpa kaifiyyah..
==================
Saya jawab :
saya tidak menetapkan apa yang tidak ditetapkan oleh Allah Swt. Tapi justru aku menetapkan apa yang Allah telah tetapkan.

Jutru sebenarnya anda telah bicara tanpa ilmu sehingga tanpa sadar anda telah menafikan sebagian sifat-sifat Allah, naudzu billah min dzaalik.

Bukankah banyak ayat-ayat al-Quran dan Hadits yang juga menyebutkan sifat Jari Allah? Sifat kanan Allah, sifat samping Allah, sifat betis Allah? Sifat JALAN Allah, Sifat penciuman Allah ? sifat SAKIT Allah? Sifat LUPA Allah ? dan lain sebagainya…kenapa anda mengatakan saya menetapkan sifat-sifat (bukan anggota badan) Allah tanpa dalil ??

Tidakkah anda membaca ayat dan hadits :

Tentang betis : يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاق (al-Qolam : 42)

Tentang tertawa : ضحك الله الليلة (Tadi malam Allah tertawa) al-Hadits

Tentang jari : قلب المؤمن بين أصبعين من أصابع الرحمن (Hati mukmin di antara dua jari dari Jari-jari Allah)

Tentang kanan : الحجر الأسود يمين الله في أرضه (Hajar Aswad kanan Allah di muka bumi)
Tentang jiwa : تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ (al-Quran)

Tentang Lupa : نسوا الله فنسيهم (Mereka lupa pada Allah maka Allah melupakan mereka) (al-Quran)
Tentang sakit : يا ابن آدم مرضت فلم تعدني (Wahai anak Adam, aku sakit kenapa kamu tidak menjengukku) (al-Hadits)

Dan lain sbgainya bahkan sangat banyak disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj As-Sunnah tentang ayat-ayat sifat yang seolah-olah Allah memiliki semua nggota tubuh sprti makhluk lainnya yg juga memiliki anggota tubuh.
17 Juli pukul 16:02 · Suka

Shofiyyah An-Nuuriyyah :
Avif Haryana sa'id :
Anda berusaha mensucikan Allah (tanzih) dengan tanpa memaknai kata-kata yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah, dengan istilah tafwidh, menyerahkan makna dan kaifiyyahnya kepada Allah. Namun pada dasarnya anda telah menolak makna-makna kata yang telah Allah tetapkan dalam Al Quran dan makna kata yang telah rasulullah sampaikan dalam hadits-haditsnya yang sohih yang berkaitan dengan asma wa sifat. Anda berusaha untuk mensucikan Allah dengan tidak memaknai sifat-sifat Allah, namun sebenarnya anda telah terjebak kepada tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). Bagaimana bisa? Karena sebelum anda menolak makna-makna dari lafadz-lafadz sifat dalam Al Quran dan Hadits, anda telah menyerupakan Allah dengan makhluknya, sehingga pada akhirnya anda tolak makna makna tersebut.
===================
Saya jawab :
Ini kusebut dengan pemikiran atau kesimpulan yang premature. Jika anda mngatakan sprit itu maka sama saja anda menyamakan ayat-ayat mutasyabihat dengan ayat-ayat muhkamaat, lalu buat apa Allah membedakan ayat-ayat mutasyabihat dari yang muhkamaat, jika harus mnyikapinya sama ??
Buat apa pula Allah menamakan ayat-ayat tsb dgn MUTASYABIHAT jika bagi anda cara memahaminya sama dgn ayat muhkamaat??

Justru Allah menamakan ayat-ayat tsb dgn MUTASYABIHAT disebabkan terdapat pemahaman yang samar dlm ayat mutasyabihat, pemahaman yang seolah menyerupakan Allah dgn makhluk-Nya. Oleh sebab itu Allah membedakan ayat yang mutasyabihat dgn ayat muhkamat. Agar umat muslim berhati-hati di dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat. Dan tidak mengikuti ayat-ayat mutasyabihat tsb shingga bisa mnyebabkan kesyrikan atau kekufuran.
Dan buat apa pula para ulama salaf mentafwidh makna dan kaifiyah jika ayat mutasyabihat itu seperti ayat muhkamat (atas konsekwensi argumntasi anda)?? Kenapa pula para ulama salaf tidak mnjelaskan saja secara sharih makna ayat-ayat mutasyabihat mnurut makna bhsa Arabnya ??
Maka argumntasi anda tsb (sebelum anda menolak makna-makna dari lafadz-lafadz sifat dalam Al Quran dan Hadits, anda telah menyerupakan Allah dengan makhluknya, sehingga pada akhirnya anda tolak makna makna tersebut.) adalah argumntasi premature yang tidak pandai memahami makna ayat mutasyabihat dan tidak cerdas di dalam menyikapi ayat mutasyabihat juga tidak bisa membedakan ayat mutasybihat dgn ayat muhkamat.
17 Juli pukul 16:05 · Suka

Shofiyyah An-Nuuriyyah :

Anda mengtakan : Sungguh indah perkataan Imam Abu Hanifah, dan inilah manhaj salafus sholeh. Namun sayangnya anda menerjemahkan teks tersebut secara tendensius, diseret-seret agar cocok dengan pendapat anda, terutama dalam potongan kata ini :

Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy”
dari mana anda dapatkan kata “dalam pengertian”?

saya nukilkan terjemahan yang lebih “netral” berikut:
Kami menetapkan (mengakui) bahwa sesungguhnya Allah SWT beristiwâ’ di atas Arsy tanpa Dia butuh kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya.”
========================
Saya jawab :
Saya bukan menerjemahkannya scra tendensius, tapi saya berusha mensyrkan qoul imam Abu Hanifah tsb. oleh krna itu saya pertegas kembali dgn terjemahan saya stelahnya yaitu :

Perhatikan perkataan Imam Abu Hanifah diatas: ”Dan kami mengakui Bahwasannya Allah yang maha Suci dan maha Tinggi diatas arsynya Istawa, tanpa membutuhkan (Ihtiyaj) kepadanya dan Tanpa ber-Diam / berada (istiqrar) diatasnya ”.
17 Juli pukul 16:07 · Suka

Shofiyyah An-Nuuriyyah:
 Avif Haryana sa'id :
Tanpa dia butuh kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya, adalah maksud tanpa takyif (mebagaimanakan), dengan menetapkan kata istiwa’. Dan inilah manhaj salaf yang sesungguhnya menetapkan adanya makna istiwa’ dan menyerahkan kaifiyah istiwa kepada Allah (karena kita tidak mengetahui kaifiyahnya)
Jadi perkataan Abu Hanifah ini sebenarnya adalah hujjah saya bukan hujjah anda.
================
Saya jawab :
sepertinya anda kurang jeli dan kurang cermat memahami kalam imam Abu Hanifah tsb. perhatikan :

Imam Abu Hanifah mengakan :

ونقر بأن الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة إليه واستقرار عليه، وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياج، فلو كان محتاجا لما قدر على إيجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين، ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا"

Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, TANPA MEMBUTUHKAN arsy, juga TANPA ISTIQRAR / BERSEMAYAM di arsy "

Imam Abu Hanifah justru menetapkan sifat ISTAWA TAPI BELIAU MENTAFWIDH MAKNANYA. Beliau tidak memegang kata ISTAWA pada makna dhahirnya :

Jadi sikap imam Abu Hanifah adalah :

ITSBAT : Kita menetapkan bahwa Allah BERISTIWA.

BILAA TASYBIIH : tanpa membutuhkan pada arsy.

TAFWIDH : Tanpa ISTIQRAR / bersmayam di atas arsy. sebab makna dhahir dr lafadz Istiwa itu istiqrar.

Inilah yang harus anda pahami wahai kawan..
17 Juli pukul 16:17 · Telah disunting · Suka


Shofiyyah An-Nuuriyyah :
 Avif Haryana sa'id : Yang dilakukan Imam abu hanifah disini bukan tafwidh makna, tapi tafwidh kaifiyyahnya.
Intinya Manhaj salaf dalam aqidah asma’ wa sifat bukan tafwidh makna, akan tetapi menetapkan adanya makna pada lafadz-lafadz sifat-sifat Allah yang ada dalam Al Quran dan hadits, dengan tanpa takyif (bisa dibilang, tafwidh dalam masalah kaifiyah), tanpa tathil, tanpa tamsil dan tanpa tasybih. Sekian dulu,
====================
Saya jawab :
Sprti yg sudh aku jelasi barusan, terbukti bahwa imam Abu Hanifah mentafwidh maknanya. jika imam Abu Hanifah mentafwidh kaifiyyahnya maka beliau tidk akan mngatakan " Min ghoiri an yakuuna muhtaajan ilaihi WASTIQRAARIN 'ALAIH ", krna makna dhahir dr lafadz Istiwa di antaranya adalah ISTIQRAR.

Nah imam Abu Hanifah menafikan makna ISTIQRAR yg merupakan salah satu makna dhahir dr lafadz ISTAWA. Dan beliau tidak menjelaskan ISTAWA dgn makna Dhahirnya. Maka jelas sudah ini disebut TAFWIDH MAKNA DAN KAIFIYYAH.
Anda sprtinya perlu melihat bbrpa pndapat para ulama tntang hal ini di antaranya kalam IBNU TAIMIIYAH sndiri yang mnegakui TAFWIDH MAKNA :

" الْإِيمَانُ بِصِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَسْمَائِهِ " الَّتِي وَصَفَ بِهَا نَفْسَهُ وَسَمَّى بِهَا نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ وَتَنْزِيلِهِ أَوْ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَيْهَا وَلَا نَقْصٍ مِنْهَا وَلَا تَجَاوُزٍ لَهَا وَلَا تَفْسِيرٍ لَهَا وَلَا تَأْوِيلٍ لَهَا بِمَا يُخَالِفُ ظَاهِرَهَا وَلَا تَشْبِيهٍ لَهَا بِصِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ ؛ وَلَا سِمَاتِ المحدثين بَلْ أَمَرُوهَا كَمَا جَاءَتْ وَرَدُّوا عِلْمَهَا إلَى قَائِلِهَا ؛ وَمَعْنَاهَا إلَى الْمُتَكَلِّمِ بِهَا

Beriman kepada Sifat Allah Ta’ala dan NamaNya” yang telah Dia sifatkan diriNya sendiri, dan Dia namakan diriNya sendiri, di dalam KitabNya dan wahyuNya, atau atas lisan RasulNya, dengan tanpa penambahan atau pengurangan atasnya, tidak melampauinya, tidak menafsirkannya dengan apa-apa yang menyelisihi zhahirnya, tidak menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk, dan apalagi dengan pembawa berita, tetapi membiarkan sebagaimana datangnya, dan mengembalikan ilmunya kepada yang mengucapkannya, dan mengembalikan maknanya kepada yang membicarakannya. ” (Majmu’ Fatawa, 1/ 294)

Perkataan Ibnu Taimiyyah yg ini (...mengembalikan ilmunya kepada yang mengucapkannya, dan mengembalikan maknanya kepada yang membicarakannya...) mau disadari atau tidak adalah TAFWIDHUL ILMI dan TAFWIDHUL MAKNA. Maka, klaim itsbat hanya tafwidhul kaifiyat adalah KELIRU! Tafwidh yang benar adalah tafwidul ilmi, kaifiyat sekaligus MAKNAnya.

Imam Adz Dzahabi berkata :

فقولنا في ذلك وبابه: الاقرار، والامرار، وتفويض معناه إلى قائله الصادق المعصوم

" Adapun pendapat kami tentang itu dan dalam bab ini adalah mengakui, membiarkan, dan menyerahkan (tafwidh) maknanya kepada pengucapnya yang benar dan ma’shum " (Imam Adz Dzahabi, Siyar A’lam An Nubala, 8/105)...

Imam Syafi'i :

. وَقَالَ بَعْضُهُمْ - وَيُرْوَى عَنْ الشَّافِعِيِّ - : " آمَنْت بِمَا جَاءَ عَنْ اللَّهِ وَبِمَا جَاءَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مُرَادِ رَسُولِ اللَّهِ "

" Sebagian ulama berkata: -diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i- : Aku beriman dengan apa-apa yan datang dari Allah, dan yang datang dari Rasulullah Shllalalhu “Alaihi wa Sallam dengan maksud dari Rasulullah"..
17 Juli pukul 16:32 · Telah disunting · Suka

NB : sejak bulan Juli itu hingga saat ini bulan september, ustadz Salafi itu tidak membalas hujjah saya tsb.
Sudah sangat sering saya dibohongi-janji-janji ustadz salafi yang jika mereka terbukti salah, mereka mau mengakui kesalahannya dan mau menerima kebenaran yang saya sampaikan.


Kamis, 15 November 2012

Inilah salah satu bukti kecurangan dan penipuan wahabi yang sangat licik..


Wahabi / Manhaj salaf palsu menipu umat atas nama al-Hafizd Ibnu Rajab al-Hanbali

Ketika wahabi / manhaj salaf palsu berhujjah menolak riwayat takwilan imam Ahmad bin Hanbal pada salah satu ayat shifat, mereka membawakan ucapan al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Fathul Bari syarh Sahih Bukhari halaman 367-368,
yang seolah-olah Ibnu Rajab mengatakan riwayat takwil imam Ahmad itu musykil dan sanadnya tidak tsabit / kuat.

Berikut nukilan Ibnu Rajab dalam kitab Fathul Barinya yang dibawakan wahabi sebagai hujjah :

وهذه رواية مشكلة جداً ، ولم يروها عن أحمد غير حنبل ، وهو ثقة ، إلا أنه يهم أحيانا ، وقد اختلف متقدمو الأصحاب فيما تفرد به حنبل عن أحمد: هل تثبت به رواية عنه أم لا ؟

Riwayat ini sangatlah rumit dan tidak meriwayatkannya seorang pun selain Hanbal, walaupun ia tsiqah akan tetapi ia terkadang sedikit wahm. Telah berbeda pendapat para ulama terdahulu tentang tafarrud (riwayat menyendiri)-nya dari imam Ahmad,
apakah riwayatnya tsabit (kuat) atau tidak “. (Fathul Bari syrh Sahih Bukhari, Ibnu Rajab : Juz 2 halaman 368)

Bisa dicek nukilan ulama wahabi penipu ini di situs berikut :

1. http://islamport.com/w/amm/Web/2571/13893.htm
2. http://www.osalaf.com/vb/archive/index.php/t-91.html
3. http://www.startimes.com/f.aspx?t=24404600

Juga ada di salah satu kitab ulama wahabi karya Faiz Ahmad Habis salah satu dosen di Universitas Malik Abdul Aziz Jeddah.

Jawaban :

Benarkah komentar Ibnu Rajab tsb menyinggung masalah Takwil imam Ahmad bin Hanbal ??

Ternyata setelah kita cek di kitab Fathul Bari Ibnu Rajab sendiri, komentar beliau tersebut bukanlah membahas atau menyinggung tentang takwilan imam Ahmad, melainkan sedang membahas bab sholat, jika pakaiannya sempit.

Simak redaksi aslinya berikut ini :

وقال حنبل : قيل لأبي عبد الله – يعني أحمد -: الرجل يكون عليه الثوب اللطيف لا يبلغ أن يعقده ، ترى أن يتزر به ويصلي ؟ قال : لا أرى ذلك مجزئا عنه ، وإن كان الثوب لطيفاً صلَّى قاعداً وعقده مِن ورائه ، على ما فعل أصحاب النبي -صلى الله عليه وسلم- (في الثوب الواحد) . وهذه رواية مشكلة جداً ، ولم يروها عن أحمد غير حنبل ، وهو ثقة ، إلا أنه يهم أحيانا ، وقد اختلف متقدمو الأصحاب فيما تفرد به حنبل عن أحمد: هل تثبت به رواية عنه أم لا ؟
ولكن اعتمد الأصحاب على هذه الرواية ، ثم اختلفوا في معناها : فقال القاضي أبو يعلى ومن اتبعه: من وجد ما يستر به منكبيه أو عورته ولا يكفي إلا أحدهما فإنه يستر عورته ، ويصلي جالسا ؛ لأن الجلوس بدل عن القيام ، ويحصل به ستر العورة ، فيستر بالثوب اللطيف منكبيه حيث لم يكن له بدل

“ Hanbal berkata : “ Ditanyakan kepada Abu Abdillah yaitu imam Ahmad ; Seseorang memakai pakaian tipis dan tidak sampai diikatnya, apakah engkau berpendapat ia boleh memakainya dan sholat ? “ beliau menjawab : “ Aku berpendapat tidak boleh, jika pakaiannya tipis, maka ia sholat dengan cra duduk dan mengikatnya dari belakang sebagaimana dilakukan oleh para sahabat Nabi Saw (di dalam satu baju) “. Riwayat ini sangatlah rumit dan tidak meriwayatkannya seorang pun selain Hanbal, walaupun ia tsiqah akan tetapi ia terkadang sedikit wahm. Telah berbeda pendapat para ulama terdahulu tentang tafarrud (riwayat menyendiri)-nya dari imam Ahmad, apakah riwayatnya tsabit (kuat) atau tidak “.

=========================
Dalam redaksi tersebut sangatlah jelas, bahwa yang sedang dibahas bukanlah tentang penakwilan imam Ahmad pada ayat mutasyabihat akan tetapi pembahasan tentang bab sholat. Sungguh hal ini adalah penipuan nyata yang sangat buruk yang telah mereka lakukan demi lencari pembenaran.

Di samping itu, mereka selain berdusta atas nama al-Hafidz Ibnu Rajab dengan cara menipu, mereka juga berusaha membuat pengkaburan fakta dengan menukil-nukil secara septong-potong agar membuat kesan bahwa periwayatan imam Hanbal tidaklah tsiqah.

Mereka tidak menukil lanjutan redaksi dalam kitab tersebut yang tertulis :

ولكن اعتمد الأصحاب على هذه الرواية ، ثم اختلفوا في معناها : فقال القاضي أبو يعلى ومن اتبعه: من وجد ما يستر به منكبيه أو عورته ولا يكفي إلا أحدهما فإنه يستر عورته ، ويصلي جالسا.

“ Akan tetapi para ulama Hanabilah memegang kuat riwayat tersebut, kemudian berbeda pendapat tentang maknanya; Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulam yang mengikutinya berkata “ Orang yang menukan pakaian yang menutup kedua pundak atau auratnya akan tetapi tidak mencukupi salah satunya, maka ia gunakan untuk menutupi auratnya saja dan sholat dengan cara duduk. "
========================

Terlihat nyata, mereka sudah menipu pembaca dengan riwayat yang sengaja disalah tempatkan, juga mereka menipu pembaca dengan membuang lanjutan redaksi tersebut tentang pembahasan bab Sholat.

Sebuah penibuan yang nyata dan Allah-lah yang akan menghisap perbuatan kalian tersebut di hari perhitungan kelak.
Oleh sebab itu berhati-hatilah wahai saudaraku dari sekte manhaj salaf palsu ini, demi menutup-nutupi kesesatan ajaran mereka, apapun mereka lakukan walaupun berdusta atas nama ulama….

Perjuangkan terus manhaj salaf shaleh, jauhi bid’ah dholalah salafi-wahabi si manhaj salaf palsu.

NB :Postingan ini pernah saya tampilkan di wall saya, dan ternyata ada salah satu salafi yang berani berdiskusi dengan saya di postingan tersebut dengan 3 perjanjian yang dia sebutkan salah satunya jika terbukti salah dari salah satu di antara kita, maka kita wajib mengakuinya dan mau menerima kebenaran.

Kemudian diskusi berjalan dengan baik dan terbuktilah setelah proses diskusi panjang bahwa salafi yang membuat artikel itu memang salah dan dusta. Dan lawan diskusi saya pun mengakui bahwa itu sebuah kesalahan besar, seblumnya dia ngotot tidak mau mengakuinya. Bagi saya hal itu bukan saja kesalahan besar namun juga sebuah penipuan besar terhadap pembaca.

Silakan meluncur ke TKP :

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=580364638656478&set=pb.100000488403164.-2207520000.1353050180&type=3&src=http%3A%2F%2Fsphotos-e.ak.fbcdn.net%2Fhphotos-ak-ash3%2F552368_580364638656478_1937413107_n.jpg&size=960%2C720





Salam :
By : Shofiyyah An-Nuuriyyah

















Kamis, 30 Agustus 2012

Kitab umat muslim paling shahih setelah Al-Quran tak luput dari ulah jahil tangan-tangan wahabi.


Mereka menggunting sebagian teks dari hadits dalam kitab shahih Bukhari.

Wahabi terkenal dengan doktrinya yang anti takwil, hamper semua ayat-ayat dan hadits-hadits shifat ia haramkan untuk ditakwil, menurut mereka takwil itu ta’thil yaitu meniadakan sifat-sifat Allah. Mereka tutup mata dan telinga dari kenyataan pentakwilan sebagian ulama salaf terhadap ayat-ayat shifat, entah karena mempertahankan doktrin tajsimnya atau memang sengaja menyesatkan umat muslim dari kebenaran.

Berikut salah satu redaksi hadits shahih riwayat imam Bukhari yang merupakan mutasyabih dan tak ada jalan untuk memahaminya kecuali dengan metode ulama salaf sholeh yaitu tafwidh al-ma’na bilaa kaifin walaa tasubiihin wa laa tamtsilin atau disebut takwil ijmali dan metode takwil tafsili yaitu memebrikan makna yang layak bagi sifat keagungan dan kesempurnaan Allah.

Namun hadits ini karena wahabi merasakan kebuntuan di dalam memahaminya dan dapat menyebabkan runtuhnya serta terkuaknya doktrin tajsim mereka, maka dengan sengaja mereka membuang teks tersebut.
Berikut bukti akurat yang akan saya tampilkan :

Inilah redaksi hadits aslinya :

Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :

خَلَقَ الله الْخَلْقَ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتِ الرَّحِمُ فَأَخَذَتْ بِحَقْوِ الرحمن فَقَالَ لَهَا: مَهْ. قَالَتْ: هذا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ الْقَطِيْعَةِ. قَالَ: أَلاَ تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ. قَالَتْ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: فَذَاكِ لَكِ. قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ: اِقْرَءُوْا إِنْ شِئْتُمْ ((: فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ ))

”Allah menciptakan makhluk, ketika Allah telah merampungkannya, maka berdirilah rahim, ia berpegang kepada pinggang ar-Rahman. Allah berfirman kepadanya : “Diamlah”. Ia menjawa : “Ini adalah kesempatan berlindung kepadaMu dari pemutusan”. Allah berfirman : “Apakah kamu tidak rela Aku menyambung orang yang menyam-bungmu dan memutus orang yang memutusmu?”. Ia menjawab : “Ya, ya Rabbi”. Allah berfirman : “Itu untukmu”. Abu Hurairah berkata : “'Bacalah kalau kamu mau : “Maka apakah jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1696, dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1764)

Teks asli tersebut (belum digunting) ada pada 4 terbitan :

1. Terbitan Doktor Musthofa Dib Al-Bigha
2. Terbitan Dar Tauqun Najah
3. Terbitan Al-Mathba’tus salafiyyah
4. Terbitan Dar Ibn Katisr
 
Dan telah ditahrif oleh terbitan Dar As-Salam Riyadh milik wahabi :

Dan berikut scan kitab yang ditahrif wahabi :




Dalam scan kitab terbitan Dar As-Salam tsb teks “ بحقو للرحمن  “ telah digunting wahabi dan tidak akan ditemukan dalam terbitan itu.

Bandingkan dengan keempat terbitan milik sunni berikut :

1. Terbitan Doktor Musthofa Dib Al-Bigha :


Dalam terbitan ini teks " “ بحقو للرحمن  “ ditetapkan (tidak dibuang).

2. Terbitan Dar Tauqun Najah :



Dalam terbitan ini pun teks " “ بحقو للرحمن  “ ditetapkan (tidak dibuang).

3. Terbitan Al-Mathba’tus salafiyyah :



Dalam terbitan ini pun teks " “ بحقو للرحمن  “ ditetapkan (tidak dibuang).

4. Terbitan Dar Ibn Katsir :




Dalam terbitan Dar Ibn Katsir juga teks “ بحقو للرحمن  “ juga ditetapkan (tidak dibuang).

Inilah bukti pengkhianatan ilmiyyah dan kejahatan yang sudah biasa dilakukan wahabi-salafi demi melancarkan doktrin-doktrin sesat mereka.

By : Shofiyyah An-Nuuriyyah
30-08-2012

Selasa, 07 Agustus 2012

Sejarah kongkrit lahirnya paham Neo Khawarij atau Wahabi atau Salafi (Part I)


By : Shofiyyah An-Nuuriyyah
Pentashih : Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Editor : Abu Muhammad Lc

Tulisan ini kami persembahkan untuk semua saudara kami sesama Ahlus sunnah waljama’ah. Demikian pula untuk semua saudara yang terjangkiti virus wahabisme / salafisme.

Kami berusaha menampilkan sejarah asli yang historis dan akurat karena refrensinya bersumber dari kitab-kitab sejarah ulama wahabi sendiri yang hidup dan menyaksikan segala persitiwa yang terjadi di masa pencetus paham takfiri dan tabdi’I tsb dan kitab-kitab para ulama yang juga menjadi saksi sejarah tsb dan kami sertakan scan kitabnya masing-masing. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Mengurai benang merah dari inti sejarah yang dimanipulasi oleh para pengikut paham takfiri tersebut.



Semoga menjadi amal yang bermanfaat..

Bismillahi walhamdulillah, wash sholatu was salaamu 'ala Rasulillah, Ammaa ba'du :

Berdiri dan berkembangnya paham wahabi atau sekte muwahhidun adalah dengan jalan peperangan, pembunuhan, penjarahan dan perampasan kepada kaum muslimin yang menolak ajaran mereka sebagaimana yang dilakukan oleh imam Mereka Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad Sa’ud.

Terjadinya pembantaian kaum muslimin yang dilakukan Muhammad bin Abdul Wahhab dan bala tentaranya di beberapa daerah Arab disebabkan Muhammad bin Abdul Wahhab melihat amaliah mayoritas kaum muslimin saat itu telah menyimpang dari tauhid versi Muhammad bin Abdul Wahhab, seperti mendatangi kubur orang-orang shalih dan bertawassul dengan mereka, menurut pandangan Muhammad bin Abdul Wahhab perbuatan itu adalah melanggar tauhid rububiyyah karena kaum muslimin saat itu hanya meyakini Tauhid uluhiyyahnya saja.

Sehingga Muhammad bin Abdul wahhab perlu meluruskan hal semacam itu, maka mulailah ia berdakwah pada kaum muslimin dan menulis surat pada para tokoh, penguasa dan ulama saat itu untuk kembali pada Tauhid versi Muhammad bin Abdul Wahhab. Dan ternyata mayoritas kaum muslimin khususnya para ulamanya menolak ajakan Muhamammad bin Abdul Wahhab, maka ia marah dan memerintahkan pada pengikutnya dengan dibantu Raja Muhamamd Saud untuk berjihad memerangi kaum muslimin yang menolak ajakan dan ajarannya. Baginya mereka adalah orang-orang murtad yang harus diperangi dan dibunuhi.

Maka terjadilah peperangan dan pembunuhan yang dilakukan Muhamamd bin Abdul Wahhab dengan bala tentaranya kepada kaum muslimin yang menolak ajarannya di berbagai daerah. Menurut Muhammad bin Abdul Wahhab, dakwahnya adalah seperti dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad Saw dan peperangannya melawan kaum muslimin adalah seperti jihadnya Nabi Muhammad melawan kaum kafir Quraisy yang tidak mau mengakui kerasulan Nabi Muhamamad Saw.

Dan pada intinya peperangan, penjarahan dan pembunuhan yang dilakukan Muhammad bin Abdul wahhab kepada kaum muslimin yang menolak ajarannya, terjadi hanya akibat pemahaman yang sempit dan kaku tentang beberapa ayat dan hadits. Sebagaimana nanti akan dibuktikan dengan adanya hujjah-hujjah para ulama saat itu tentang pemahaman sempit Muhammad bin Abdul Wahhab terlebih hujjah dari saudaranya sendiri yaitu Syaikh Sulaiman yang lebih memngenal dan memahami karakter dan pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab.

Simak penuturan tulus dalam kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh para ulama wahabi sendiri yang sezaman dengan Muhammad bin Abdul wahhab dan menyaksikan semua peristiwa yang terjadi saat itu. Kali ini kami tampilkan refrensi dari dua kitab sejarah karya ulama wahabi yaitu Tarikh Najd karya syaikh Husain bin Ghannam seorang ulama yang sangat mencintai syaikhnya yaitu Muhammad bin Abdul Wahhab hingga ia rela meninggalkan rumah dan sanak familinya demi mengikuti gurunya tersebut. Yang kedua kitab Unwan Al-Majd karya Syaikh Utsman bin Bisyr yang mengalami masa-masa perang saat itu dan dinilai sebagai sandaran sejarah oleh ulama wahabi bahkan telah direkomendasikan oleh pihak kerajaan Saudi dan kitab tersebut telah ditahqiq pula oleh Abdurrahman bin Abdul Lathif cucu Muhammad bin Abdul Wahhab.

(Kondisi umat Muslim sebelum dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab)

Dalam kitab Tarikh Najd, Ibn Ghannam menyebutkan kondisi kaum muslimin sebelum Muhammad bin Abdul Wahhab berdakwah sebagai berikut :



“ Keadaan kaum muslimin sebelum tegaknya dakwah syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Konon mayoritas umat muslim di kurun 12 Hijriah telah jatuh pada kesyirikan dan kembali pada kejahiliaan. Telah padam cahaya petunjuk dalam diri mereka akibat kebodohan yang mendominasi mereka dan telah dikuasai oleh hawa nafsu dan kesesatan. Maka mayoritas kaum muslimin itu telah mencampakkan kitab Allah ke punggung mereka, mengikuti apa yang dilakukan datuk-datuk mereka dari kesesatan. Mayoritas kaum muslimin itu menyangka datuk mereka lebih mengetahui kebenaran dan lebih mengetahui jalan kebenaran “ (Tarikh Najd : 13)

Catatan :

Kaum wahabi mengatakan bahwa mayoritas kaum muslimin sebelum kedatangan dakwahnya Muhammad bin Abdul Wahhab telah melakukan banyak kesyirikan dan kembali pada perbuatan jahiliyyah.

Yang wahabi maksud dengan kesyirikan adalah berziarah kepada makam-makam orang-orang shalih dan bertawassul kepada para nabi dan orang shalih baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat.

Lihat bagaimana kaum wahabi begitu berani memvonis demikian, padahal saat itu banyak para ulama yang melakukan perbuatan-perbuatan tersebut dan juga tidak menysirikkan kaum muslimin yang melakukan hal itu.

Wahabi memvonis mayoritas umat muslim saat itu musyrik dan para datuk-datuk kaum muslimin tidak luput dari vonis syirik mereka. Dari tahun ketahun sebelum kedatangan Muhammad bin Abdul wahhab, mayoritas kaum muslimin dianggap musyrik oleh wahabi sebagaimana bukti pengakuan ibn ghonnam di atas.

(Seluruh negeri kaum muslimin tersesat)

Dan pada halaman berikutnya Ibn Ghannam lebih berani lagi memvonis sesat kepada seluruh negeri muslim :



“ Dan sungguh kesesatan ini telah menyebar luas dan menyeluruh kepada negeri-negeri kaum muslimin “ (Tarikh Najd : 14)

Catatan :

Kalimat ‘AMMA bermakna merata dan menyeluruh ditambah kalimat KAAFFAH sebagai keadaan yang bermakna mencangkup secara keseluruhan.

Artinya sebelum kedatangan dakwah Muhamamad bin Abdul Wahhab seluruh negeri kaum muslimin telah musyrik dan sesat tanpa terkecuali dan hanya golongan wahabi yang bertauhid. Naudzub billahi min syarri haaulaika..

Pada halaman-halaman berikutnya, Ibn Ghannam lebih memerinci kesyirkan dan keseatan yang dilakukan di bebrapa daerah di antaranya kota Makkah al-Mukarromah, Madinah, Dar’iyyah, Jeddah, Mesir, Bashrah, Iraq, Yaman, Hadramaut, Syahr, Adn, Najran, Halb, Syam, Bahrain, dan lainnya. Dengan enteng dan beraninya Ibn Ghnannam memvonis mayoritas penduduk-penduduk yang disebutkan itu dengan musyrik, sesat dan ahlul bid’ah. 

Kaum wahabi benar-benar menganggap seluruh kaum muslimin saat itu diseluruh belahan dunia telah musyrik dan sesat dan hanyalah kelompok wahabilah yang benar.
Kaum wahabi bukan hanya memvonis syirik dan sesat kepada kaum awam muslimin saja saat itu, tapi mereka juga memvonis syirik bahkan kafir kepada para ulamanya :



“ Maka renungkanlah apa yang disebutkan imam ini (Muhammad bin Abdul wahhab) tersebut dari berbagai macam kesyirikan besar (menyebabkan murtad) yang terjadi di zaman beliau yang dilakukan orang-orang yang mengaku ma’rifah dan din (ulama) dan dari orang-orang yang menyandang fatwa (Mufti) dan kepenguasaan (penguasa). Akan tetapi syaikh telah memperingatkan mereka atas yang demikian dan menjelaskan bahwa ini termasuk kesyirikan yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Maka sadarlah orang yang mau menerima peringatan itu, berrtaubat pada Allah dan mengetahui kesyirikan, kesesatan dan penolakan kebenaran yang terjadi “ (Tarikh Najd : 69)

(Mengahncurkan kubah makam para sahabat dan orang shalih)

Ketika Muhammad bin Abdul Wahhab bertemu dengan Utsman bin Mu’ammir di Uyainah yang juga seorang hakim di sana, ia mulai melancarkan dakwahnya dengan dibantu Utsman. Saat itulah ia mulai berani melancarkan aksinya membongkar semua kubah makam para sahabat dan orang-orang shalih dengan alasan memusnahkan wasilah kesyirikan di antaranya kubah makam Zaid bin Khaththab.

Kecaman dan kutukan para ulama, para hakim dan kaum muslimin, atas tindakan keji Muhammad bin Abdul Wahhab

Perbuatan Muhammad bin Abdul Wahhab tersebut mendapat kecaman dari kaum muslimin. Maka kaum muslimin melaporkan hal itu kepada para ulama, mereka menulis surat pengaduan dari peristiwa itu kepada para ulama Ahsa, Bashrah dan Haramain. Para ulama pun mengutuk perbuatan Muhamamd bin Abdul Wahhab tersebut dan menjelaskan perbuatan nista itu secara ilmiyyah melalui risalah-risalah yang ditulis para ulama tersbut. Para hakim dan penguasa negeri lainnya pun turut mengecam dan mengutuk apa yang telah dilakukan Muhammad bin Abdul Wahhab tersebut.

Kisah ini pun diakui oleh Ibn Ghannam dalam Tarikh Najdnya berikut :







“ …Maka kaum muslimin menulis surat kepada ulama Ahsa, Bashrah dan Haramain, kaum muslimin dan para ulama berkomplot memusuhi Muhammad bin Abdul Wahhab. Maka membela dan menolong lah orang-orang batil dan sesat dari ulama negeri-negeri tersebut.  Mereka mengarang sebuah tulisan-tulisan di dalam mebid’ahkan dan menyesatkan perbuatan syaikh dan dianggapa telah merubah syare’at dan sunnah, menejlaskan kebodohan dan kedunguan syaikh. Maka tertipulah kalangan khusus dan umumnya, terlebih kalangan para penguasa dan hakim, mereka mengaku bahwa syaikh dan pengikutnya tidak memiliki perjanjian keamanan karena menolak sunnah dan merubah hokum agama. Memperingatkan para hakim lainnya dari syaikh. Mereka mngira bahwa syaikh akan mempengaruhi hati orang-orang bodoh dan rakyat jelata dan menxesatkan mereka dengan cara pandangnya sehingga nanti akan mnyebabkan mereka memberontak pada para hakim dan penguasa dan menampakkan ketidak patuhan “. (Tarikh Najd : 85)

Catatan :

Dengan mempengaruhi Utsman, Muhammad bin Abdul wahhab melancarkan angan-angannya untuk menghancurkan kubah-kubah makam para sahabat dan orang shalih dengan cara pandangnya yang sempit yang menyimpulkan vonis syirik pada kaum muslimin yang datang pada makam-makam tersebut. Ia menuduh kaum muslimin yang berziarah ke makam-makam para sahabat dan orang shalih, telah meminta hajat kepada mayat-mayat tersebut dan memvonisnya telah melakukan syirik akbar yang mengeluarkan mereka dari agama Islam alias murtad.

Para ulama dari banyak negeri saat itu telah mengecam dan mengutuk perbuatan Muhammad tersebut, mengklarifikasi dan menjelaskan secara ilmiyyah melalui risalah maupun kitab atas pandangan sempitnya.

Kembalinya Utsman bin Mu’ammir dari paham Muhammad bin Abdul Wahhab kepada ajaran Ahlus sunnah.

Pada awalnya Hakim Utsman bin Mu’ammir terpengaruh oleh doktrin Muhamamd bin Abdul Wahhab. Kemudian setelah banyak para ulama menasehati dan menjelaskan kesesatan ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab, terlebih setelah Utsman membaca kitab saudara Muhamamd bin Abdul Wahhab yaitu syaikh Sulaiman yang lebih paham dan mengerti karakter dan pikiran Muhammad bin Abdul Wahhab, maka Ustman sadar dan kembali pada ajaran mayoritas yaitu Ahlus sunnah waljama’ah.

Hal ini diakui oleh Ibn Ghannam dalam kitab Tarikh Najdnya berikut :



“ Ketika datang kitab Sulaiman kepada Utsman, maka Ustman meragukan Muhammad bin Abdul Wahhab dan lebih mendahulukan dunia daripada agama. Dan ia memerintahkan syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk keluar meninggalkan Uyainah “.  (Tarikh Najd : 86)

 Tewasnya Utsman bin Mu’ammir oleh pihak Muhammad bin Abdul Wahhab.

Utsman bin Mu’ammir mulai menyadarkan pengikutnya untuk meninggalkan paham Muhammad bin Abdul Wahhab dan kembali pada ajaran mayoritas saat itu yaitu Ahlus sunah waljama’ah. Maka banyaklah yang taubat dan sadar berkat perjuangan Utsman menyadarkan kembali rakyatnya tsb.     

Sebab ini pulalah Utsman bin Mu’ammir tewas dibunuh oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya.  Sebagaimana direkam oleh Ibn Ghannam dalam Tarikh Najdnya pada cetakan pertama yang masih belum dirubah berikut :



فلما تحقق المسلمون من ذلك تعاهدوا على قتله بعد انتهائه من صلاة الجمعة، وقتلناه وهو في مصلاه بالمسجد في رجب 1163


" Ketika kaum msulimin mengetahui pengkhianatan dan kekafiran Utsman, maka mereka berencana untuk membunuhnya setelah selesai sholat jum’atnya. Maka kami membunuhnya dan Utsman masih di tempat sholatnya di dalam masjid di bulan Rajab tahun 1163 H “ (Tarikh Najd : 97)

Pada cetakan-cetakan berikutnya terutama dalam bentuk pdf, redaksi tersebut dirubah oleh wahabi sedikit namun tetap menunjukkan kekejaman Muhammad bin Abdul wahhab dan para pengikutnya. Berikut redaksi yang dirubah :



“ Ketika umat Islam mengetahui hal itu (pengkhianatan Utsman), maka beberapa orang berencana untuk membunuhnya di antaranya Hamd bin Rasyid dan Ibrahim bin Zaid. Maka ketika selesai sholat jum’at, mereka membunuh Utsman di tempat sholatnya di dalam masjid di bulan Rajab tahun 1163 H “
(Tarikh Najd : 103)

Catatan :

Begitu kejamnya Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya sehingga Utsman seorang Hakim Uyainah tewas dibunuhnya karena dianggap telah mengkhianati dan memprofokasi umat muslim untuk tidak mengikuti ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab.
Tanpa mengindahkan kalimat suci syahadat di lisan Utsman dan dengan pemikiran sempitnya, Muhammad bin Abdul Wahhab dengan mudahnya membunuh Utsman. Apalagi pembunuhan itu dilakukan di dalam masjid dan masih di tempat sholatnya , setelah melakukan sholat jum’at di bulan Rajab.

Wafat sebagai syahid, dalam keadaan mulia, di tempat yang mulia, di hari yang mulia dan di bulan yang mulia.

Peperangan Muhammmad dan raja Saud kepada kaum muslimin

Kemudian setelah Muhammad mendapat dukungan dari raja Muhamamd Saud, mulailah menabuh genderang untuk memerangi kaum muslimin dan para ulama serta para penguasa yang menentang dan menolak ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab dengan alasan jihad melawan kemungkaran dan kesyirikan yang menyebabkan mayoritas kaum muslimin murtad dan patut untuk diperangi.

Disebutkan dalam kitab Unwan Al-Majd :





“ Kemudian syaikh memerintahkan untuk jihad melawan orang-orang yang memusuhi ahli tauhid, dan memotifasi mereka, maka semua pengikutnya pun mentaati perintahnya…” (Unwan Al-Majd : 44)

Catatan :

Muhammad bin Abdul Wahhab memproklamasikan perang melawan kaum muslimin yang enggan dan menolak ajarannya dengan dalih jihad. Ia menyamakan kedudukan kaum muslimin yang menentang ajarannya dengan kedudukan kaum kafir yang menentang Islam.  Naudzu billahi min dzaalik, sekali lagi mereka bukan berperang melawan kaum kafir yang benar-benar memusuhi Islam, tapi sebaliknya mereka menghunuskan pedang dan memuntahkan peluru kepada kaum muslimin yang tidak mau mengikuti paham mereka.