Kamis, 15 November 2012

Inilah salah satu bukti kecurangan dan penipuan wahabi yang sangat licik..


Wahabi / Manhaj salaf palsu menipu umat atas nama al-Hafizd Ibnu Rajab al-Hanbali

Ketika wahabi / manhaj salaf palsu berhujjah menolak riwayat takwilan imam Ahmad bin Hanbal pada salah satu ayat shifat, mereka membawakan ucapan al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Fathul Bari syarh Sahih Bukhari halaman 367-368,
yang seolah-olah Ibnu Rajab mengatakan riwayat takwil imam Ahmad itu musykil dan sanadnya tidak tsabit / kuat.

Berikut nukilan Ibnu Rajab dalam kitab Fathul Barinya yang dibawakan wahabi sebagai hujjah :

وهذه رواية مشكلة جداً ، ولم يروها عن أحمد غير حنبل ، وهو ثقة ، إلا أنه يهم أحيانا ، وقد اختلف متقدمو الأصحاب فيما تفرد به حنبل عن أحمد: هل تثبت به رواية عنه أم لا ؟

Riwayat ini sangatlah rumit dan tidak meriwayatkannya seorang pun selain Hanbal, walaupun ia tsiqah akan tetapi ia terkadang sedikit wahm. Telah berbeda pendapat para ulama terdahulu tentang tafarrud (riwayat menyendiri)-nya dari imam Ahmad,
apakah riwayatnya tsabit (kuat) atau tidak “. (Fathul Bari syrh Sahih Bukhari, Ibnu Rajab : Juz 2 halaman 368)

Bisa dicek nukilan ulama wahabi penipu ini di situs berikut :

1. http://islamport.com/w/amm/Web/2571/13893.htm
2. http://www.osalaf.com/vb/archive/index.php/t-91.html
3. http://www.startimes.com/f.aspx?t=24404600

Juga ada di salah satu kitab ulama wahabi karya Faiz Ahmad Habis salah satu dosen di Universitas Malik Abdul Aziz Jeddah.

Jawaban :

Benarkah komentar Ibnu Rajab tsb menyinggung masalah Takwil imam Ahmad bin Hanbal ??

Ternyata setelah kita cek di kitab Fathul Bari Ibnu Rajab sendiri, komentar beliau tersebut bukanlah membahas atau menyinggung tentang takwilan imam Ahmad, melainkan sedang membahas bab sholat, jika pakaiannya sempit.

Simak redaksi aslinya berikut ini :

وقال حنبل : قيل لأبي عبد الله – يعني أحمد -: الرجل يكون عليه الثوب اللطيف لا يبلغ أن يعقده ، ترى أن يتزر به ويصلي ؟ قال : لا أرى ذلك مجزئا عنه ، وإن كان الثوب لطيفاً صلَّى قاعداً وعقده مِن ورائه ، على ما فعل أصحاب النبي -صلى الله عليه وسلم- (في الثوب الواحد) . وهذه رواية مشكلة جداً ، ولم يروها عن أحمد غير حنبل ، وهو ثقة ، إلا أنه يهم أحيانا ، وقد اختلف متقدمو الأصحاب فيما تفرد به حنبل عن أحمد: هل تثبت به رواية عنه أم لا ؟
ولكن اعتمد الأصحاب على هذه الرواية ، ثم اختلفوا في معناها : فقال القاضي أبو يعلى ومن اتبعه: من وجد ما يستر به منكبيه أو عورته ولا يكفي إلا أحدهما فإنه يستر عورته ، ويصلي جالسا ؛ لأن الجلوس بدل عن القيام ، ويحصل به ستر العورة ، فيستر بالثوب اللطيف منكبيه حيث لم يكن له بدل

“ Hanbal berkata : “ Ditanyakan kepada Abu Abdillah yaitu imam Ahmad ; Seseorang memakai pakaian tipis dan tidak sampai diikatnya, apakah engkau berpendapat ia boleh memakainya dan sholat ? “ beliau menjawab : “ Aku berpendapat tidak boleh, jika pakaiannya tipis, maka ia sholat dengan cra duduk dan mengikatnya dari belakang sebagaimana dilakukan oleh para sahabat Nabi Saw (di dalam satu baju) “. Riwayat ini sangatlah rumit dan tidak meriwayatkannya seorang pun selain Hanbal, walaupun ia tsiqah akan tetapi ia terkadang sedikit wahm. Telah berbeda pendapat para ulama terdahulu tentang tafarrud (riwayat menyendiri)-nya dari imam Ahmad, apakah riwayatnya tsabit (kuat) atau tidak “.

=========================
Dalam redaksi tersebut sangatlah jelas, bahwa yang sedang dibahas bukanlah tentang penakwilan imam Ahmad pada ayat mutasyabihat akan tetapi pembahasan tentang bab sholat. Sungguh hal ini adalah penipuan nyata yang sangat buruk yang telah mereka lakukan demi lencari pembenaran.

Di samping itu, mereka selain berdusta atas nama al-Hafidz Ibnu Rajab dengan cara menipu, mereka juga berusaha membuat pengkaburan fakta dengan menukil-nukil secara septong-potong agar membuat kesan bahwa periwayatan imam Hanbal tidaklah tsiqah.

Mereka tidak menukil lanjutan redaksi dalam kitab tersebut yang tertulis :

ولكن اعتمد الأصحاب على هذه الرواية ، ثم اختلفوا في معناها : فقال القاضي أبو يعلى ومن اتبعه: من وجد ما يستر به منكبيه أو عورته ولا يكفي إلا أحدهما فإنه يستر عورته ، ويصلي جالسا.

“ Akan tetapi para ulama Hanabilah memegang kuat riwayat tersebut, kemudian berbeda pendapat tentang maknanya; Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulam yang mengikutinya berkata “ Orang yang menukan pakaian yang menutup kedua pundak atau auratnya akan tetapi tidak mencukupi salah satunya, maka ia gunakan untuk menutupi auratnya saja dan sholat dengan cara duduk. "
========================

Terlihat nyata, mereka sudah menipu pembaca dengan riwayat yang sengaja disalah tempatkan, juga mereka menipu pembaca dengan membuang lanjutan redaksi tersebut tentang pembahasan bab Sholat.

Sebuah penibuan yang nyata dan Allah-lah yang akan menghisap perbuatan kalian tersebut di hari perhitungan kelak.
Oleh sebab itu berhati-hatilah wahai saudaraku dari sekte manhaj salaf palsu ini, demi menutup-nutupi kesesatan ajaran mereka, apapun mereka lakukan walaupun berdusta atas nama ulama….

Perjuangkan terus manhaj salaf shaleh, jauhi bid’ah dholalah salafi-wahabi si manhaj salaf palsu.

NB :Postingan ini pernah saya tampilkan di wall saya, dan ternyata ada salah satu salafi yang berani berdiskusi dengan saya di postingan tersebut dengan 3 perjanjian yang dia sebutkan salah satunya jika terbukti salah dari salah satu di antara kita, maka kita wajib mengakuinya dan mau menerima kebenaran.

Kemudian diskusi berjalan dengan baik dan terbuktilah setelah proses diskusi panjang bahwa salafi yang membuat artikel itu memang salah dan dusta. Dan lawan diskusi saya pun mengakui bahwa itu sebuah kesalahan besar, seblumnya dia ngotot tidak mau mengakuinya. Bagi saya hal itu bukan saja kesalahan besar namun juga sebuah penipuan besar terhadap pembaca.

Silakan meluncur ke TKP :

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=580364638656478&set=pb.100000488403164.-2207520000.1353050180&type=3&src=http%3A%2F%2Fsphotos-e.ak.fbcdn.net%2Fhphotos-ak-ash3%2F552368_580364638656478_1937413107_n.jpg&size=960%2C720





Salam :
By : Shofiyyah An-Nuuriyyah

















Kamis, 30 Agustus 2012

Kitab umat muslim paling shahih setelah Al-Quran tak luput dari ulah jahil tangan-tangan wahabi.


Mereka menggunting sebagian teks dari hadits dalam kitab shahih Bukhari.

Wahabi terkenal dengan doktrinya yang anti takwil, hamper semua ayat-ayat dan hadits-hadits shifat ia haramkan untuk ditakwil, menurut mereka takwil itu ta’thil yaitu meniadakan sifat-sifat Allah. Mereka tutup mata dan telinga dari kenyataan pentakwilan sebagian ulama salaf terhadap ayat-ayat shifat, entah karena mempertahankan doktrin tajsimnya atau memang sengaja menyesatkan umat muslim dari kebenaran.

Berikut salah satu redaksi hadits shahih riwayat imam Bukhari yang merupakan mutasyabih dan tak ada jalan untuk memahaminya kecuali dengan metode ulama salaf sholeh yaitu tafwidh al-ma’na bilaa kaifin walaa tasubiihin wa laa tamtsilin atau disebut takwil ijmali dan metode takwil tafsili yaitu memebrikan makna yang layak bagi sifat keagungan dan kesempurnaan Allah.

Namun hadits ini karena wahabi merasakan kebuntuan di dalam memahaminya dan dapat menyebabkan runtuhnya serta terkuaknya doktrin tajsim mereka, maka dengan sengaja mereka membuang teks tersebut.
Berikut bukti akurat yang akan saya tampilkan :

Inilah redaksi hadits aslinya :

Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :

خَلَقَ الله الْخَلْقَ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتِ الرَّحِمُ فَأَخَذَتْ بِحَقْوِ الرحمن فَقَالَ لَهَا: مَهْ. قَالَتْ: هذا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ الْقَطِيْعَةِ. قَالَ: أَلاَ تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ. قَالَتْ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: فَذَاكِ لَكِ. قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ: اِقْرَءُوْا إِنْ شِئْتُمْ ((: فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ ))

”Allah menciptakan makhluk, ketika Allah telah merampungkannya, maka berdirilah rahim, ia berpegang kepada pinggang ar-Rahman. Allah berfirman kepadanya : “Diamlah”. Ia menjawa : “Ini adalah kesempatan berlindung kepadaMu dari pemutusan”. Allah berfirman : “Apakah kamu tidak rela Aku menyambung orang yang menyam-bungmu dan memutus orang yang memutusmu?”. Ia menjawab : “Ya, ya Rabbi”. Allah berfirman : “Itu untukmu”. Abu Hurairah berkata : “'Bacalah kalau kamu mau : “Maka apakah jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1696, dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1764)

Teks asli tersebut (belum digunting) ada pada 4 terbitan :

1. Terbitan Doktor Musthofa Dib Al-Bigha
2. Terbitan Dar Tauqun Najah
3. Terbitan Al-Mathba’tus salafiyyah
4. Terbitan Dar Ibn Katisr
 
Dan telah ditahrif oleh terbitan Dar As-Salam Riyadh milik wahabi :

Dan berikut scan kitab yang ditahrif wahabi :




Dalam scan kitab terbitan Dar As-Salam tsb teks “ بحقو للرحمن  “ telah digunting wahabi dan tidak akan ditemukan dalam terbitan itu.

Bandingkan dengan keempat terbitan milik sunni berikut :

1. Terbitan Doktor Musthofa Dib Al-Bigha :


Dalam terbitan ini teks " “ بحقو للرحمن  “ ditetapkan (tidak dibuang).

2. Terbitan Dar Tauqun Najah :



Dalam terbitan ini pun teks " “ بحقو للرحمن  “ ditetapkan (tidak dibuang).

3. Terbitan Al-Mathba’tus salafiyyah :



Dalam terbitan ini pun teks " “ بحقو للرحمن  “ ditetapkan (tidak dibuang).

4. Terbitan Dar Ibn Katsir :




Dalam terbitan Dar Ibn Katsir juga teks “ بحقو للرحمن  “ juga ditetapkan (tidak dibuang).

Inilah bukti pengkhianatan ilmiyyah dan kejahatan yang sudah biasa dilakukan wahabi-salafi demi melancarkan doktrin-doktrin sesat mereka.

By : Shofiyyah An-Nuuriyyah
30-08-2012

Selasa, 07 Agustus 2012

Sejarah kongkrit lahirnya paham Neo Khawarij atau Wahabi atau Salafi (Part I)


By : Shofiyyah An-Nuuriyyah
Pentashih : Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Editor : Abu Muhammad Lc

Tulisan ini kami persembahkan untuk semua saudara kami sesama Ahlus sunnah waljama’ah. Demikian pula untuk semua saudara yang terjangkiti virus wahabisme / salafisme.

Kami berusaha menampilkan sejarah asli yang historis dan akurat karena refrensinya bersumber dari kitab-kitab sejarah ulama wahabi sendiri yang hidup dan menyaksikan segala persitiwa yang terjadi di masa pencetus paham takfiri dan tabdi’I tsb dan kitab-kitab para ulama yang juga menjadi saksi sejarah tsb dan kami sertakan scan kitabnya masing-masing. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Mengurai benang merah dari inti sejarah yang dimanipulasi oleh para pengikut paham takfiri tersebut.



Semoga menjadi amal yang bermanfaat..

Bismillahi walhamdulillah, wash sholatu was salaamu 'ala Rasulillah, Ammaa ba'du :

Berdiri dan berkembangnya paham wahabi atau sekte muwahhidun adalah dengan jalan peperangan, pembunuhan, penjarahan dan perampasan kepada kaum muslimin yang menolak ajaran mereka sebagaimana yang dilakukan oleh imam Mereka Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad Sa’ud.

Terjadinya pembantaian kaum muslimin yang dilakukan Muhammad bin Abdul Wahhab dan bala tentaranya di beberapa daerah Arab disebabkan Muhammad bin Abdul Wahhab melihat amaliah mayoritas kaum muslimin saat itu telah menyimpang dari tauhid versi Muhammad bin Abdul Wahhab, seperti mendatangi kubur orang-orang shalih dan bertawassul dengan mereka, menurut pandangan Muhammad bin Abdul Wahhab perbuatan itu adalah melanggar tauhid rububiyyah karena kaum muslimin saat itu hanya meyakini Tauhid uluhiyyahnya saja.

Sehingga Muhammad bin Abdul wahhab perlu meluruskan hal semacam itu, maka mulailah ia berdakwah pada kaum muslimin dan menulis surat pada para tokoh, penguasa dan ulama saat itu untuk kembali pada Tauhid versi Muhammad bin Abdul Wahhab. Dan ternyata mayoritas kaum muslimin khususnya para ulamanya menolak ajakan Muhamammad bin Abdul Wahhab, maka ia marah dan memerintahkan pada pengikutnya dengan dibantu Raja Muhamamd Saud untuk berjihad memerangi kaum muslimin yang menolak ajakan dan ajarannya. Baginya mereka adalah orang-orang murtad yang harus diperangi dan dibunuhi.

Maka terjadilah peperangan dan pembunuhan yang dilakukan Muhamamd bin Abdul Wahhab dengan bala tentaranya kepada kaum muslimin yang menolak ajarannya di berbagai daerah. Menurut Muhammad bin Abdul Wahhab, dakwahnya adalah seperti dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad Saw dan peperangannya melawan kaum muslimin adalah seperti jihadnya Nabi Muhammad melawan kaum kafir Quraisy yang tidak mau mengakui kerasulan Nabi Muhamamad Saw.

Dan pada intinya peperangan, penjarahan dan pembunuhan yang dilakukan Muhammad bin Abdul wahhab kepada kaum muslimin yang menolak ajarannya, terjadi hanya akibat pemahaman yang sempit dan kaku tentang beberapa ayat dan hadits. Sebagaimana nanti akan dibuktikan dengan adanya hujjah-hujjah para ulama saat itu tentang pemahaman sempit Muhammad bin Abdul Wahhab terlebih hujjah dari saudaranya sendiri yaitu Syaikh Sulaiman yang lebih memngenal dan memahami karakter dan pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab.

Simak penuturan tulus dalam kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh para ulama wahabi sendiri yang sezaman dengan Muhammad bin Abdul wahhab dan menyaksikan semua peristiwa yang terjadi saat itu. Kali ini kami tampilkan refrensi dari dua kitab sejarah karya ulama wahabi yaitu Tarikh Najd karya syaikh Husain bin Ghannam seorang ulama yang sangat mencintai syaikhnya yaitu Muhammad bin Abdul Wahhab hingga ia rela meninggalkan rumah dan sanak familinya demi mengikuti gurunya tersebut. Yang kedua kitab Unwan Al-Majd karya Syaikh Utsman bin Bisyr yang mengalami masa-masa perang saat itu dan dinilai sebagai sandaran sejarah oleh ulama wahabi bahkan telah direkomendasikan oleh pihak kerajaan Saudi dan kitab tersebut telah ditahqiq pula oleh Abdurrahman bin Abdul Lathif cucu Muhammad bin Abdul Wahhab.

(Kondisi umat Muslim sebelum dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab)

Dalam kitab Tarikh Najd, Ibn Ghannam menyebutkan kondisi kaum muslimin sebelum Muhammad bin Abdul Wahhab berdakwah sebagai berikut :



“ Keadaan kaum muslimin sebelum tegaknya dakwah syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Konon mayoritas umat muslim di kurun 12 Hijriah telah jatuh pada kesyirikan dan kembali pada kejahiliaan. Telah padam cahaya petunjuk dalam diri mereka akibat kebodohan yang mendominasi mereka dan telah dikuasai oleh hawa nafsu dan kesesatan. Maka mayoritas kaum muslimin itu telah mencampakkan kitab Allah ke punggung mereka, mengikuti apa yang dilakukan datuk-datuk mereka dari kesesatan. Mayoritas kaum muslimin itu menyangka datuk mereka lebih mengetahui kebenaran dan lebih mengetahui jalan kebenaran “ (Tarikh Najd : 13)

Catatan :

Kaum wahabi mengatakan bahwa mayoritas kaum muslimin sebelum kedatangan dakwahnya Muhammad bin Abdul Wahhab telah melakukan banyak kesyirikan dan kembali pada perbuatan jahiliyyah.

Yang wahabi maksud dengan kesyirikan adalah berziarah kepada makam-makam orang-orang shalih dan bertawassul kepada para nabi dan orang shalih baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat.

Lihat bagaimana kaum wahabi begitu berani memvonis demikian, padahal saat itu banyak para ulama yang melakukan perbuatan-perbuatan tersebut dan juga tidak menysirikkan kaum muslimin yang melakukan hal itu.

Wahabi memvonis mayoritas umat muslim saat itu musyrik dan para datuk-datuk kaum muslimin tidak luput dari vonis syirik mereka. Dari tahun ketahun sebelum kedatangan Muhammad bin Abdul wahhab, mayoritas kaum muslimin dianggap musyrik oleh wahabi sebagaimana bukti pengakuan ibn ghonnam di atas.

(Seluruh negeri kaum muslimin tersesat)

Dan pada halaman berikutnya Ibn Ghannam lebih berani lagi memvonis sesat kepada seluruh negeri muslim :



“ Dan sungguh kesesatan ini telah menyebar luas dan menyeluruh kepada negeri-negeri kaum muslimin “ (Tarikh Najd : 14)

Catatan :

Kalimat ‘AMMA bermakna merata dan menyeluruh ditambah kalimat KAAFFAH sebagai keadaan yang bermakna mencangkup secara keseluruhan.

Artinya sebelum kedatangan dakwah Muhamamad bin Abdul Wahhab seluruh negeri kaum muslimin telah musyrik dan sesat tanpa terkecuali dan hanya golongan wahabi yang bertauhid. Naudzub billahi min syarri haaulaika..

Pada halaman-halaman berikutnya, Ibn Ghannam lebih memerinci kesyirkan dan keseatan yang dilakukan di bebrapa daerah di antaranya kota Makkah al-Mukarromah, Madinah, Dar’iyyah, Jeddah, Mesir, Bashrah, Iraq, Yaman, Hadramaut, Syahr, Adn, Najran, Halb, Syam, Bahrain, dan lainnya. Dengan enteng dan beraninya Ibn Ghnannam memvonis mayoritas penduduk-penduduk yang disebutkan itu dengan musyrik, sesat dan ahlul bid’ah. 

Kaum wahabi benar-benar menganggap seluruh kaum muslimin saat itu diseluruh belahan dunia telah musyrik dan sesat dan hanyalah kelompok wahabilah yang benar.
Kaum wahabi bukan hanya memvonis syirik dan sesat kepada kaum awam muslimin saja saat itu, tapi mereka juga memvonis syirik bahkan kafir kepada para ulamanya :



“ Maka renungkanlah apa yang disebutkan imam ini (Muhammad bin Abdul wahhab) tersebut dari berbagai macam kesyirikan besar (menyebabkan murtad) yang terjadi di zaman beliau yang dilakukan orang-orang yang mengaku ma’rifah dan din (ulama) dan dari orang-orang yang menyandang fatwa (Mufti) dan kepenguasaan (penguasa). Akan tetapi syaikh telah memperingatkan mereka atas yang demikian dan menjelaskan bahwa ini termasuk kesyirikan yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Maka sadarlah orang yang mau menerima peringatan itu, berrtaubat pada Allah dan mengetahui kesyirikan, kesesatan dan penolakan kebenaran yang terjadi “ (Tarikh Najd : 69)

(Mengahncurkan kubah makam para sahabat dan orang shalih)

Ketika Muhammad bin Abdul Wahhab bertemu dengan Utsman bin Mu’ammir di Uyainah yang juga seorang hakim di sana, ia mulai melancarkan dakwahnya dengan dibantu Utsman. Saat itulah ia mulai berani melancarkan aksinya membongkar semua kubah makam para sahabat dan orang-orang shalih dengan alasan memusnahkan wasilah kesyirikan di antaranya kubah makam Zaid bin Khaththab.

Kecaman dan kutukan para ulama, para hakim dan kaum muslimin, atas tindakan keji Muhammad bin Abdul Wahhab

Perbuatan Muhammad bin Abdul Wahhab tersebut mendapat kecaman dari kaum muslimin. Maka kaum muslimin melaporkan hal itu kepada para ulama, mereka menulis surat pengaduan dari peristiwa itu kepada para ulama Ahsa, Bashrah dan Haramain. Para ulama pun mengutuk perbuatan Muhamamd bin Abdul Wahhab tersebut dan menjelaskan perbuatan nista itu secara ilmiyyah melalui risalah-risalah yang ditulis para ulama tersbut. Para hakim dan penguasa negeri lainnya pun turut mengecam dan mengutuk apa yang telah dilakukan Muhammad bin Abdul Wahhab tersebut.

Kisah ini pun diakui oleh Ibn Ghannam dalam Tarikh Najdnya berikut :







“ …Maka kaum muslimin menulis surat kepada ulama Ahsa, Bashrah dan Haramain, kaum muslimin dan para ulama berkomplot memusuhi Muhammad bin Abdul Wahhab. Maka membela dan menolong lah orang-orang batil dan sesat dari ulama negeri-negeri tersebut.  Mereka mengarang sebuah tulisan-tulisan di dalam mebid’ahkan dan menyesatkan perbuatan syaikh dan dianggapa telah merubah syare’at dan sunnah, menejlaskan kebodohan dan kedunguan syaikh. Maka tertipulah kalangan khusus dan umumnya, terlebih kalangan para penguasa dan hakim, mereka mengaku bahwa syaikh dan pengikutnya tidak memiliki perjanjian keamanan karena menolak sunnah dan merubah hokum agama. Memperingatkan para hakim lainnya dari syaikh. Mereka mngira bahwa syaikh akan mempengaruhi hati orang-orang bodoh dan rakyat jelata dan menxesatkan mereka dengan cara pandangnya sehingga nanti akan mnyebabkan mereka memberontak pada para hakim dan penguasa dan menampakkan ketidak patuhan “. (Tarikh Najd : 85)

Catatan :

Dengan mempengaruhi Utsman, Muhammad bin Abdul wahhab melancarkan angan-angannya untuk menghancurkan kubah-kubah makam para sahabat dan orang shalih dengan cara pandangnya yang sempit yang menyimpulkan vonis syirik pada kaum muslimin yang datang pada makam-makam tersebut. Ia menuduh kaum muslimin yang berziarah ke makam-makam para sahabat dan orang shalih, telah meminta hajat kepada mayat-mayat tersebut dan memvonisnya telah melakukan syirik akbar yang mengeluarkan mereka dari agama Islam alias murtad.

Para ulama dari banyak negeri saat itu telah mengecam dan mengutuk perbuatan Muhammad tersebut, mengklarifikasi dan menjelaskan secara ilmiyyah melalui risalah maupun kitab atas pandangan sempitnya.

Kembalinya Utsman bin Mu’ammir dari paham Muhammad bin Abdul Wahhab kepada ajaran Ahlus sunnah.

Pada awalnya Hakim Utsman bin Mu’ammir terpengaruh oleh doktrin Muhamamd bin Abdul Wahhab. Kemudian setelah banyak para ulama menasehati dan menjelaskan kesesatan ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab, terlebih setelah Utsman membaca kitab saudara Muhamamd bin Abdul Wahhab yaitu syaikh Sulaiman yang lebih paham dan mengerti karakter dan pikiran Muhammad bin Abdul Wahhab, maka Ustman sadar dan kembali pada ajaran mayoritas yaitu Ahlus sunnah waljama’ah.

Hal ini diakui oleh Ibn Ghannam dalam kitab Tarikh Najdnya berikut :



“ Ketika datang kitab Sulaiman kepada Utsman, maka Ustman meragukan Muhammad bin Abdul Wahhab dan lebih mendahulukan dunia daripada agama. Dan ia memerintahkan syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk keluar meninggalkan Uyainah “.  (Tarikh Najd : 86)

 Tewasnya Utsman bin Mu’ammir oleh pihak Muhammad bin Abdul Wahhab.

Utsman bin Mu’ammir mulai menyadarkan pengikutnya untuk meninggalkan paham Muhammad bin Abdul Wahhab dan kembali pada ajaran mayoritas saat itu yaitu Ahlus sunah waljama’ah. Maka banyaklah yang taubat dan sadar berkat perjuangan Utsman menyadarkan kembali rakyatnya tsb.     

Sebab ini pulalah Utsman bin Mu’ammir tewas dibunuh oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya.  Sebagaimana direkam oleh Ibn Ghannam dalam Tarikh Najdnya pada cetakan pertama yang masih belum dirubah berikut :



فلما تحقق المسلمون من ذلك تعاهدوا على قتله بعد انتهائه من صلاة الجمعة، وقتلناه وهو في مصلاه بالمسجد في رجب 1163


" Ketika kaum msulimin mengetahui pengkhianatan dan kekafiran Utsman, maka mereka berencana untuk membunuhnya setelah selesai sholat jum’atnya. Maka kami membunuhnya dan Utsman masih di tempat sholatnya di dalam masjid di bulan Rajab tahun 1163 H “ (Tarikh Najd : 97)

Pada cetakan-cetakan berikutnya terutama dalam bentuk pdf, redaksi tersebut dirubah oleh wahabi sedikit namun tetap menunjukkan kekejaman Muhammad bin Abdul wahhab dan para pengikutnya. Berikut redaksi yang dirubah :



“ Ketika umat Islam mengetahui hal itu (pengkhianatan Utsman), maka beberapa orang berencana untuk membunuhnya di antaranya Hamd bin Rasyid dan Ibrahim bin Zaid. Maka ketika selesai sholat jum’at, mereka membunuh Utsman di tempat sholatnya di dalam masjid di bulan Rajab tahun 1163 H “
(Tarikh Najd : 103)

Catatan :

Begitu kejamnya Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya sehingga Utsman seorang Hakim Uyainah tewas dibunuhnya karena dianggap telah mengkhianati dan memprofokasi umat muslim untuk tidak mengikuti ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab.
Tanpa mengindahkan kalimat suci syahadat di lisan Utsman dan dengan pemikiran sempitnya, Muhammad bin Abdul Wahhab dengan mudahnya membunuh Utsman. Apalagi pembunuhan itu dilakukan di dalam masjid dan masih di tempat sholatnya , setelah melakukan sholat jum’at di bulan Rajab.

Wafat sebagai syahid, dalam keadaan mulia, di tempat yang mulia, di hari yang mulia dan di bulan yang mulia.

Peperangan Muhammmad dan raja Saud kepada kaum muslimin

Kemudian setelah Muhammad mendapat dukungan dari raja Muhamamd Saud, mulailah menabuh genderang untuk memerangi kaum muslimin dan para ulama serta para penguasa yang menentang dan menolak ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab dengan alasan jihad melawan kemungkaran dan kesyirikan yang menyebabkan mayoritas kaum muslimin murtad dan patut untuk diperangi.

Disebutkan dalam kitab Unwan Al-Majd :





“ Kemudian syaikh memerintahkan untuk jihad melawan orang-orang yang memusuhi ahli tauhid, dan memotifasi mereka, maka semua pengikutnya pun mentaati perintahnya…” (Unwan Al-Majd : 44)

Catatan :

Muhammad bin Abdul Wahhab memproklamasikan perang melawan kaum muslimin yang enggan dan menolak ajarannya dengan dalih jihad. Ia menyamakan kedudukan kaum muslimin yang menentang ajarannya dengan kedudukan kaum kafir yang menentang Islam.  Naudzu billahi min dzaalik, sekali lagi mereka bukan berperang melawan kaum kafir yang benar-benar memusuhi Islam, tapi sebaliknya mereka menghunuskan pedang dan memuntahkan peluru kepada kaum muslimin yang tidak mau mengikuti paham mereka. 



Sabtu, 07 Juli 2012

Bukti Kongkrit Akidah wahabi-salafi adalah Akidah Yahudi


Para pembaca sekalian, mungkin banyak yang tidak mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya akidah wahabi-salafi, orang-orang awam pada umumnya hanya mengetahui bahwa akidah mereka menetapkan sifat-sifat Allah yang ada dalam al-Quran dan menghindari takwil karena takwil bagi mereka adalah perbuatan Yahudi.

Apalagi orang-orang yang telah menjadi doktrin mereka atau tertarik ajaran mereka sebab topeng yang mereka gunakan dengan slogan kembali pada Al-Quran dan Sunnah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan, maka sudah pasti akan melihat ajaran dan akidah mereka murni ajaran tauhid yang suci. Usaha keras untuk memberantas segala bentuk kesyirikan yang ada dan telah merata di seluruh permukaan bumi ini.

Tapi tidak bagi kaum muslimin yang memiliki pondasi Tauhid Ahlus sunnah waljama’ah, mereka akan mampu mengetahui dan melihat misi jahat yang diselipkan di belakang slogan itu. Seiring waktu berjalan, semakin terlihat, semakin terbongkar akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya, semakin tercium dan tampak persamaan akidah wahabi-salafi dan Yahudi. Mereka secara lahir menampakkan pada kaum muslimin permusuhan pada Yahudi, tapi secara sembunyi berteman akrab dengan Yahudi.

Pada kali ini, saya akan bongkar untuk pembaca akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya yaitu “ AKIDAH WAHABI-SALAFI ADALAH AKIDAH YAHUDI “. Tidak perlu saya mengambil sumber dari kitab-kitab para ulama ahlus sunnah yang menceritakan akidah wahabi. Jika saya nukil dari para ulama ahlu sunnah tentang perkataan tasybih dan tajsim mereka, maka mungkin mereka masih bisa menolak dan mengelak, mereka akan mengatakan itu fitnah dan tuduhan yang tak berdasar pada syaikh-syaikh kami,  tapi saya akan tampilkan dengan bukti-bukti kuat akurat yang bersumber dari kitab-kitab karya ulama mereka sendiri yang sudah mereka cetak, terutama Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, ad-Darimi (bukan ad-Darimi sunni pengarang kitab sunan), Albani, Ibnu Utsaimin dan yang lainnya, Yang tak akan mampu mereka bantah.

Saya hanya menampilkan bukti-bukti kongkrit ini semata-mata hanya untuk suadara-saudaraku yang telah terpengaruh dengan akidah wahabi. Dan petunjuk hanyalah dari Allah Swt.

Jika masih ada wahabi yang membantah bukti dan penjelasan nyata ini, maka ibarat orang yang berusaha menutupi cahaya matahari yang terang benderang di sinag hari dengan segenggam tangannya.

  1. Akidah Yahudi :
Di dalam naskah kitab Taurat yang sudah dirubah yang merupakan asas akidah Yahudi yang mereka namakan “ SAFAR AL-MULUK “ Al-Ishah 22 nomer : 19-20 disebutkan :
و قال فاسمع إذاً كلام الرب قد رأيت الرب جالسا على كرسيه و كل جند السماء وقوف لديه عن يمينه و عن يساره
“ Dan berkata “ Dengarkanlah, ucapan Tuhan..aku telah melihat Tuhanku duduk di atas kursinya dan semua pasukan langit berdiri di hadapannya dari sebelah kanan dan kirinya “.
Dalam kitab mereka yang berjudul “ SAFAR AL-MAZAMIR “ Al-Ishah 47 nomer 8 disebutkan :
الله جلس على كرسي قدسه
“ Allah duduk di atas kursi qudusnya “.


Akidah wahabi-salafi :

Di dalam kitab andalan wahabi-salafi yaitu Majmu’ al-Fatawa Ibnu Taimiyyah al-Harrani imam wahabi juz 4 halaman 374 :

إن محمدا رسول الله يجلسه ربه على العرش معه

“ Sesungguhnya Muhammad Rasulullah didudukkan Allah di atas Arsy bersama Allah “.
Di dalam kitab “ Syarh Hadits an-Nuzul “ halaman 400 cetakan Dar al-‘Ashimah disebutkan bahwasanya Ibnu Taimiyyah berkata :

فما جاءت به الأثار عن النبى من لفظ القعود و الجلوس فى حق الله تعالى كحديث جعفر بن أبى طالب و 
حديث عمر أولى أن لا يماثل صفات أجسام العباد

“ Semua hadits yang datang dari Nabi dengan lafadz qu’ud dan julus (duduk) bagi Allah seperti hadits Ja’far bin Abi Thalib dan hadits Umar, lebih utama untuk tidak disamakan dengan anggota tubuh manusia “.

Dalam halaman yang sama Ibnu Taimiyyah berkata :

إذا جلس تبارك و تعالى على الكرسي سمع له أطيط كأطيط الرحل الجديد

“ Jika Allah duduk di atas kursi, maka terdengarlah suara suara saat duduk sebagaimana suara penunggang bintang tunggangan karena beratnya ”

Kitab tersebut dicetak di Riyadh tahun 1993, penerbit Dar al-‘Ashimah yang dita’liq oleh Muhammad al-Khamis.

Di dalam kitab ad-Darimi (bukan ulama sunni al-Hafdiz ad-Darimi pengarang hadits sunan) halaman 73 disebutkan :
هبط الرب عن عرشه إلى كرسيه
“ Allah turun dari Arsy ke kursinya “

Kitab itu terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah yang dita’liq oleh Muhamamd Hamid al—Faqiy.

Kitab ad-Darimi (al-wahhabu) ini dipuji-puji oleh Ibnu Taimiyyah dan menganjurkannya untuk dipelajari, sebab inilah wahabi menjadi taqlid buta.

Tapi akidah mereka ini disembunyikan dan tidak pernah dipublikasikan ke khalayak umum.

Sekedar info : Lafadz duduk bagi Allah tidak pernah ada dalam al-Quran dan hadits.

  1. Akidah Yahudi :
Di dalam naskah Taurat yang sudah ditahrif yang mereka namakan “ Safar at-Takwin Ishah pertama nomer : 26-28 disebutkan :

و قال الله نعمل الإنسان على صورتنا على شبهنا... فخلق الله الإنسان على صورته على صورة الله خلقه ذكرا و أنثى خلقهم
“ Allah berkata ; “ Kami buat manusia dengan bentuk dan serupa denganku…lalu Allah menciptakan manusia dengan bentuknya, dengan bentuk Allah, dia menciptakan laki-laki dan wanita “.


Akidah wahabi :

Di dalam kitab “ Aqidah ahlu Iman fii Khalqi Adam ‘ala shurati ar-Rahman “ karya Hamud bin Abdullah at-Tuajari syaikh wahabi, yang dicetak di Riyadh oleh penerbit Dar al-Liwa cetakan kedua, disebutkan dalam halama 16 :

قال ابن قتيبة: فرأيت في التوراة: إن الله لما خلق السماء و الأرض قال: نخلق بشرا بصورتنا

“ Berkata Ibnu Qathibah “ Lalu aku melihat di dalam Taurat : “ Sesungguhnya Allah ketika menciptakan langit dan bumi, Dia berkata : “ Kami ciptakan manusia dengan bentukku “.
Pada halaman berikutnya di halaman 17 disebutkan :

و في حديث ابن عباس: إن موسى لما ضرب الحجر لبني إسرائيل فتفجر و قال: اشربوا يا حمير فأوحى الله إليه: عمدت إلى خلق من خلقي خلقتهم على صورتي فتشبههم بالحمير ، فما برح حتى عوتب

“ Di dalam hadits Ibnu Abbas : “ Sesungguhnya Musa ketika memukul batu untuk Bani Israil lalu keluar air dan berkata : “ Minumlah wahai keledai, maka Allah mewahyukan pada Musa “ Engkau telah mencela satu makhluk dari makhlukku yang Aku telah ciptakan mereka dengan rupaku, lalu engkau samakan mereka dengan keledai “ Musa terus ditegor oleh Allah “.

Naudzu billah dari pendustaan pada Allah dan pada para nabi-Nya.

  1. Akidah Yahudi :
Disebutkan dalam kitab Yahudi yang mereka namakan “ Safar Khuruj “ ishah 19 nomer : 3-6 :
فناداه الرب من الجبل ... فالآن إن سمعتم لصوتي و حفظتم عهدي

“ Maka Tuhan memanggil kami dari bukit….sekarang jika kalian mendengar suaraku dan menjaga janjiku “.


Akidah wahabi :

Di dalam kitab “ Fatawa al-Aqidah “ karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang dicetak Maktabah as-Sunnah cetakan pertama tahun 1992 di Mesir, pada halaman 72 Ibnu Utsaimin berkata :

في هذا إثبات القول لله و أنه بحرف و صوت ، لأن أصل القول لا بد أن يكون بصوت فإذا أطلق القول 
فلا بد أن يكون بصوت

“ Dalam hal ini dijelaskan adanya penetapan akan ucapan Allah Swt. Dan sesungguhnya ucapan Allah itu berupa huruf dan suara. Karena asli ucapan itu harus adanya suara. Maka jika dikatakan ucapan, maka sudah pasti ada suara “.

  1. Akidah Yahudi :
Di dalam kitab taurat yang sudah ditahrif yang mereka namakan dengan “ SAFAR ISY’IYA “ Ishah 25 nomer 10, Yahudi berkata :

لأن يد الرب تستقر على هذا الجبل

“ Sesungguhnya tangan Tuhan istiqrar / menetap di gunung ini “


Akidah wahabi :

dalam kitab Fatawa al-Aqidah karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang diterbitkan oleh Maktabah as-Sunnah cetakan pertama halaman 90, al-Utsaimin berkata :

و على كل فإن يديه سبحانه اثنتان بلا شك ، و كل واحدة غير الأخرى ، و إذا وصفنا اليد الأخرى بالشمال فليس المراد أنها أنقص من اليد اليمنى

“ kesimpulannya, sesungguhnya kedua tangan Allah itu ada dua tanpa ragu lagi. Satu tangannya berlainan dari tangan satunya. Jika kita sifatkan tangan Allah dengan sebelah kiri, maka yang dimaksud bukanlah suatu hal yang kurang dari tangan kanannya “.

  1. Akidah Yahudi :
Di dalam kitab Yahud “ Safar Mazamir “ Ishah 2 nomer : 4 disebutkan :
الساكن في السموات يضحك الرب
“ Yang tinggal di langit, Tuhan sedang tertawa “


Akidah wahabi :

Di dalam kitab “ Syarh Hadits an-Nuzul “ cetakan Dar al-’Ashimah halaman 182, Ibnu Taimiyyah berkata :
أن الله فوق السموات بذاته

“ Sesungguhnya Allah itu di atas langit dengan Dzatnya “

Di dalam kitab “ Qurrah Uyun al-Muwahhidin “ karya Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab (cicit Muhammad bin Abdul wahhab), cetakan Maktabah al-Muayyad tahun 1990 cetakan pertama, halaman 263 disebutkan :

أجمع المسلمون من أهل السنة على أن الله مستو على عرشه بذاته…استوى على عرشه بالحقيقة لا بالمجاز
“ Sepakat kaum muslimin dari Ahlus sunnah bahwa sesungguhnya Allah beristiwa di Arsy dengan dzat-Nya…Allah beristiwa di atas Arsy secara hakekat bukan majaz “.
Dan masih segudang lagi akidah-akidah wahabi-salafi yang meyakiniTuhannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya sebagaimana akidah Yahudi.

Dan masih segudang lagi akidah-akidah wahabi-salafi yang meyakiniTuhannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya sebagaimana akidah Yahudi. Dan jika saya beberkan semuanya, maka akan menjadi lembaran yang sangat banyak. Cukup yang singkat sedikit ini membuktikan bahwa akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya adalah akidah Yahudi.