Jumat, 23 November 2012

DISKUSI TENTANG MASALAH TAFWIDH AYAT MUTASYABIHAT


Avif Haryana :

Salah satu kaidah penting dalam bab al asma' wassifat, terdapat pada firman Allah QS 42:11,
ليس كمثله شيء وهو السميع البصير

baca: laisa kamitslihi syaiun, wa huwassamii'ul bashiir

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.

Ayat ini merupakan bantahan yang telak bagi golongan yang menolak sifat Allah (Mu'aththilah), dan yang menyamakan Allah dengan sifat makhluk (Musyabbihah),

- laisa kamitslihi syaiun -> bantahan bagi golongan yang menyamakan Allah dengan sifat makhluk
- wa huwassamii'ul bashiir -> bantahan bagi golongan yang menolak sifat Allah

Allah ta'ala mengabarkan sendiri sifat-sifat Nya kepada kita (manusia) dalam Alquran, ingat bahwa AL Quran adalah firman / kata-kata Allah.

Dalam ayat ini terdapat kaidah penting bahwa tidak ada sesuatu apapun di jagat raya ini yang serupa dengan Allah, karena Allah maha sempurna. Namun Allah memberitahukan kepada kita (manusia) bahwa Dia mempunyai sifat-sifat, supaya kita selaku hambanya mengenal-Nya dengan baik dan benar.

contoh sifat yang Allah sebutkan dalam ayat ini adalah as sami' (maha mendengar) dan al bashir (maha melihat), dimana sifat mendengar dan melihat ini juga dimiliki oleh manusia, manusia bisa melihat, bisa juga mendengar.

Maka dari itu penafsiran ayat ini tidak boleh dipotong-potong (laisa kamitslihi ditafsirkan sendiri terpisah dengan ayat selanjutnya, wa huwassamii'ul bashiir), bahkan ayat ini harus diartikan secara utuh karena bagian yang satu menafsikan bagian yang lain. ya mbak Shofiyyah An-Nuuriyyah...

Maka kita katakan: tidak ada yang sesuatu pun yang meyerupai Allah, namun Allah maha melihat dan mendengar dengan sempurna dengan penglihatan yang berbeda dengan makhluknya.

Kaidah ini bisa di analogikan dengan sifat-sifat Allah yang lainnya..

wallahu a'lam wa billahi attaufiiq..
Suka ·  · Berhenti Mengikuti Kiriman · 11 Juli pukul 16:13

Shofiyyah An-Nuuriyyah :
Ayat mulia tsb memang :
- laisa kamitslihi syaiun -> bantahan bagi golongan yang menyamakan Allah dengan sifat makhluk
- wa huwassamii'ul bashiir -> bantahan bagi golongan yang menolak sifat Allah
=================

Pertama : Allah mendahulukan kalimat TANZIH sblom mnyebutkan SIFAT. Agar kita terlebih dahulu menyucikan Allah dr sgla hal yg baru dan sgla sifat makhluk-Nya.

Kmudian Allah mnyebutkan sifat-sifatnya tsb, supaya manusia mengerti bahwa Allah memiliki sifat. Dan sifatnya tanpa TAKYIF dan TASYBIIH.

Sbgaimana Allah juga mentapkan sifat-sifat lainya sprti HIDUP, BERKEHENDAK, MAMPU dan lainnya dlm al-Quran. Namun smua sifat tsb adalah sifat yang sempurna dan layak bagi Allah.

Maka sbgai umat muslim kita sangat dilarang mnyerupakan Allah dgn sgla HAL YANG BARU dan sgla SIFAT MANUSIA sekcil apapun.

Dan kita dilarang MENAFIKAN (TA'THIL) sifat-sifat Allah sebab Allah sndiri menetapkannya.

Inilah manhaj ULAMA SALAF.
11 Juli pukul 16:44 · Suka · 3

Shofiyyah An-Nuuriyyah :
Di bawah aq diskusi sm mas Agil Adianda Putra tntang TAKWIL dan perbandingan AKIDAH kami.
Nah, di thread ini sprtinya mas Avif Haryana ingin BERMUDZAKARAH dgn saya tentang persoalan yg sedikit berbeda topiknya..
Oke aq tanggapin, dan aq panggil bbrpa moderator dan tamu supaya Mudzakarahnya brjalan baik-baik...
Mas Abdillah Djunaidi, Supardi Bin Sastro Mu'iman, Syifa Muhammad ..
Cuma mrka yg aku kenal bersikap bijak...
11 Juli pukul 16:59 · Suka · 4

Afif Haryana :
thoyyib..
lanjut...
Kaedah diatas juga bisa diterapkan kepada sifat-sifat Allah yang lain baik yang fi'liyah maupun dzatiyyah..
sifat fi'liyah contohnya: Allah 'turun' ke langit dunia pada sepertiga malam Akhir, Allah istiwa' di atas 'Ars dll..
sifat dzatiyah contohnya: tangan Allah, wajah Allah..

Maka dengan berdasar kaidah diatas, kita katakan bahwa :
-Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam akhir, namun turunnya Allah berbeda dengan turunnya makhluk
- Allah beristiwa (ada yang merjemahkan: bersemayam) diatas 'arsy, namun istiwa'nya Allah berbeda dengan makhluqnya
-Allah punya tangan, namun tangan Allah berbeda dengan tangan makhluqnya..
-Allah punya wajah namun wajah Allah berbeda dengan makhluknya..
maka dari itu benarlah perkataan imam Malik rahimahullah
الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.
baca: al istiwaau ma'luumun wal kaifiyyatu majhuulun wal iimaanu bihi waajibun, wassuaalu 'anhu bid'atun

artinya: ‘Al-Istiwaa’ adalah diketahui (yaitu diketahui maknanya dalam bahasa arab), kaifiyahnya (bagaimananya sifat Allah) itu tidak diketahui (majhuul), beriman kepada sifat Allah tersebut adalah wajib dan bertanya tentang sifat-sifat Allah adalah bid’ah.
11 Juli pukul 17:34 · Suka

Shofiyyah An-Nuuriyyah:
 Maka dengan berdasar kaidah diatas, kita katakan bahwa :
-Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam akhir, namun turunnya Allah berbeda dengan turunnya makhluk
- Allah beristiwa (ada yang merjemahkan: bersemayam) diatas 'arsy, namun istiwa'nya Allah berbeda dengan makhluqnya
-Allah punya tangan, namun tangan Allah berbeda dengan tangan makhluqnya..
-Allah punya wajah namun wajah Allah berbeda dengan makhluknya..
=========================

Di sinlah bedanga SIKAP ULAMA SALAF dengan sikap ANDA dan semisal anda...

Ulama salaf menetapkan semua sifat Allah baik yg DZATIYYAH maupun yang KHOBARIYYAH, mereka menyerahkan maknanya pada ALLAH dgn tetap MENYUCIKAN ALLAH DARI SEMUA HAL BARU DAN SIFAT2 MAKHLUKNYA.

Oleh ulama ini disebut dgn TAFWIDH atau TAKWIL IJMALI (bukan TAKWIL TASILI).
Namun perspsi anda tntang sifatAllah ini, pada awalnya memang mentafwidh tapi selanjutnya mengarah pada tajism.
Perhatikan ucapan imam Ahmad bin Hanbal :
من قال الله جسم لا كالأجسام كـَفَـرَ
Barangsiapa yang mengatakan ; Allah itu berjisim tapi tidak seperti jisim manusia, maka ia telah kafir “. (Tasyniful Masami’ juz 4 halaman : 684)

Ucapan anda tsb sungguh pada awalnya ingin menafikan tasybih, tapi dgn mnyebutkan " NAMUN TANGAN ALLAH BERBEDA DGN TANGAN KITA ", maka kembali anda menafikan sifat Allah dan anda malah trjerumus pada TASYBIH ....
bsok insya Allah saya akan jelaskna qoul para ulama yng menntang ucapan sprti itu dan knpa bisa ditentang, saya akan jlskan scra detailnya...
skrg bntr lg mau maghrib...aq stop dl...
11 Juli pukul 18:11 · Suka · 3

Avif Haryana:
 Silakan..semoga diskusi ini berfaidah, semoga kita termasuk orang-orang yang dipuji Allah dalam Alquran QS Az Zumar ayat 17-18:
"sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, Yaitu orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya . Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal"
11 Juli pukul 18:23 · Telah disunting · Batal Suka · 3

Shofiyyah An-Nuuriyyah :
PERTAMA mas Avif Haryana mngatakan :

-Allah punya tangan, namun tangan Allah berbeda dengan tangan makhluqnya..
-Allah punya wajah namun wajah Allah berbeda dengan makhluknya
===========

Aku jawab :

Bandingkan dengan ucapan dan penjelasan salaf berikut tentang ayat-ayat khobariyyah tsb :

Imam Ahmad bin Hanbal berkata :

ءامنت بما جاء عن الله على مراد الله وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله
Aku beriman terhadap apa yang dating dari Allah atas makna yang Allah kehendaki, dan beriman kpd apa yang dating dari Rasulullah atas makna yang Rasul kehendaki “.

Ulama salaf yg lain mngtakan :

Kami beriman dengan semua sifat yang Allah sifatkan dirinya sendiri dalam al-Quran tanpa KAIF dan tanpa menyerupakaan Alah pada makluk-Nya “

Kami beriman dengan Yad Allah, Rijl Allah, Ain Allah, wajh Allah dengan menyerahkan maksud sbnrnya pada Allah dengan tanpa kaif dan tasybih.

Jadi para ulama salaf tidak membawakan makna ayat-ayat dan hadits-hadits sifat dan mutaysabihat kepada makna dhahirnya. Jika mereka membawakan makna dhahirnya, maka mereka tidak mungkin mentafwidh / menyerahkan maksud sebenrnya pada Allah, tapi mereka akan secara jelas mengatakan makna yad scra dhahir sbgaimana makna Yad, Rijl, ain, wajh dalam bahasa Arabnya.

Oleh sebab itulah ulama menamakan istilah tafwidh ini dengan TAKWIL IJMALI yaitu takwil yg bersifat umum artinya mengalihkan maksud teks-teks yg mutasyabihat tsb dari makna literalnya, tanpa mberikan maksud yang pasti trhadapnya, dengan menyerahkan pengetahuan maksud yg sebenarnya kpd Allah Swt.

Sbgaiamana dikatakan oleh imam Baijuri dlm kitab Syarh Jauhar Tauhidnya :

كما ظهر أن السلف والخلف مجمعون على أن ظواهر هذه النصوص غير مرادة، وأنها مصروفة عن هذه الظواهر إلا أن السلف لا يعينون المعنى المراد وأما الخلف فيعينونه، ومن أجل ذلك قال كثير من العلماء إن السلف يؤولون تأويلاً إجمالياً، والخلف يؤولون تأويلاً تفصيلياً

Sbgaiamana telah jelas, bahwa ulama salaf dan kholaf sepakat bahwa nash-nash tsb bukanlah makna literal yang dimaksud. Dan sepakat bahwa maknanya dipalingkan dr makna literalnya. Akan tetapi ulama salaf tidak menjelaskan maknanya sedangkan ulama kholaf menjelaskan maknanya. Oleh sebab itu banyak para ulama mengatakan sesungguhnya ulama salaf mentakwil tapi mentakwil secara ijmali sedangkan ulama kholaf mentakwil secara tafsili. “
Nah sangat bebeda jauh dengan ucapan mas Avif yang mengatakan “ ALLAH PUNYA TANGAN TAPI TANGANNYA TIDAK SEPERTI MAKHLUKNYA “.
12 Juli pukul 19:41 · Telah disunting · Suka · 3

Shofiyyah An-Nuuriyyah :
Dan ucapan mas Avif Haryana di atas selain tidak pernah diucapkan oleh ulama salaf, juga mngnadung wahm dan syak.

Ucapan itu pada awalnya ingin menafikan taysbih (penyerupan pada Allah) tapi justru jatuh pada tajsim dengan menisbatkan kaif (haiah)bagi Allah.

Ucapan tersebut mau tidak mau pasti menimbulkan pemahaman bahwa Allah punya anggota tubuh sprti tangan, kaki, jari, mata, hidung, wajah tapi tangan, kaki, jari, mata, hidung dan wajah Allah tdk sperti tangan, kaki, jari, mata, hidung dan wajah makhluk-Nya.

Inilah yang dikatakan oleh imam Ahmad bin Hanbal :

Barangsiapa yang mengatakan Allah punya jisim tapi tidk sprti jisim-jisim lainnya, maka dia telah kafir “..
12 Juli pukul 19:33 · Suka · 3

Shofiyyah An-Nuuriyyah:
 KEDUA : mas Avif mengatakan :
- Allah beristiwa (ada yang merjemahkan: bersemayam) diatas 'arsy, namun istiwa'nya Allah berbeda dengan makhluqnya.
==============
Aq jawab :
1. Skrg kita bandingkan dulu dengan pendapat para ULAMA SALAF tentang ISTAWA :

Imam Abu Hanifah mengakan :

"ونقر بأن الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة إليه واستقرار عليه، وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياج، فلو كان محتاجا لما قدر على إيجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين، ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا"

Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy. Allah yang memelihara arsy dan memelihara selain arsy, maka Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-makhluk-Nya tersebut. Karena jika Allah membutuhkan kapada makhluk-Nya maka berarti Dia tidak mampu untuk menciptakan alam ini dan mengaturnya. Dan jika Dia tidak mampu atau lemah maka berarti sama dengan makhluk-Nya sendiri. Dengan demikian jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Artinya, jika sebelum menciptakan arsy Dia tanpa tempat, dan setelah menciptakan arsy Dia berada di atasnya, berarti Dia berubah, sementara perubahan adalah tanda makhluk). Allah maha suci dari pada itu semua dengan kesucian yang agung ”

(Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh Mullah Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70).

Perhatikan perkataan Imam Abu Hanifah diatas: ”Dan kami mengakui Bahwasannya Allah yang maha Suci dan maha Tinggi diatas arsynya Istawa, tanpa membutuhkan (Ihtiyaj) kepadanya dan Tanpa ber-Diam / berada (istiqrar) diatasnya ”.

Artinya beliau mengimani bahwa Allah memang beristiwa sbgaimana dijelaskan dlm al-Quran, tapi beliau tidak mengartikan Istiwaa dengan ”makna asalnya / dhahirnya” yaitu : ”Istiqror” ( ber-diam / berada ). Itulah tafwidh atau takwil ijmali yang dilakukan imam Abu Hanifah.
12 Juli pukul 19:37 · Suka · 3

Shofiyyah An-Nuuriyyah :
2. Imam Malik. Disebutkan dalam kitab ASMA WA SHIFAT karya imam Baihaqi dgn sanad yg bersambung pada imam Malik :

كنا عند مالك بن أنس فدخل رجل فقال : يا أبا عبد الله الرحمن على العرش استوى كيف استواؤه؟ قال: فأطرق مالك وأخذته الرحضاء ثم رفع رأسه فقال : الرحمن على العرش استوى كما وصف نفسه ولا يقال كيف وكيف عنه مرفوع وأنت رجل سوء صاحب بدعة أخرجوه ، قال : فأخرج الرجل

Kami bersama Anas bin Malik, lalu masuklah seseorang dan bertanya “ Wahai Abu Abdillah ; Ar-Rahman beristiwa di atas Arsy, bagaimana Istiwanya Allah ? Maka imam Malik menundukan kepala sejenak, kmudian mngangkat kepalanya lagi dan berkata : “ Ar-Rahman beristiwa di atas arsy sbgaimana Dia mensifatinya dan tidak boleh dikatakan bagaiman karena bagaimananya itu mustahil bagi Allah, engkau orang buruk pelaku bid’ah, keluarkan dia ! ”.

Kenapa imam Malik mngusir org tsb dan mngatakannya pelaku bid’ah ?

sebab pertanyaan orang itu tentang bagaimana istiwanya Allah menunjukkan bahwa orang itu memahami istiwa secara dhahir yang mrupakan persentuhan jisim dgn jisim dan penetapannya atas arsy tapi org itu ragu di dalam bagaimana istiwa tsb. Dan inilah tasybih yg sesungguhnya sehingga imam Malik mengatakan org itu pelaku bid’ah.

Ini tentang orang yang bertanya BAGAIMANA ISTAWANYA ALLAH, lalu bagaimana dengan orang yang menafsirkan ISTAWA dgn duduk dan bersemayam?? bukan cuma sudh brbuat bid'ah lagi tap sudh kufur..
12 Juli pukul 19:39 · Suka · 3

Shofiyyah An-Nuuriyyah:
 Imam Malik pun juga menafikan ARAH bagi Allah.

Ktika imam Malik berbicara tentang hadits :

لا تفضلوني على يونس بن متى

Janganlah kalian menggunggulkan aku atas Yunus bin Matta “
Imam Malik mengomentari hadits tsb sbgai berikut :

إنما خص يونس للتنبيه على التنـزيه لأنه صلى الله عليه وسلم رُفع إلى العرش ويونس عليه السلام هُبط على قابوس البحر ونسبتهما مع ذلك من حيث الجهة إلى الحق جل جلاله نسبة واحدة ، ولو كان الفضل بالمكان لكان عليه الصلاة والسلام أقرب من يونس بن متى وأفضل مكانا ولما نهى عن ذلك

Sesungguhnya Nabi menyebutkan dgn khusus kpd nabi Yunus adalah sebagai peringatan atas PENSUCIAN ALLAH. Karena nabi Saw diangkat ke arsy sedangkan Yunus ditenggelamkan di bawah dasar laut (dlm perut ikan). Menisbatkan keduanya dari segi arah pada Allah adalah nisbat yang satu. Seandainya keutamaan itu diperoleh dgn sebab tempat, maka niscaya Rasulullah lebih dekat kepada Allah dibandingkan nabi Yunus dan paling utamanya tempat dan niscaya Rasul tidak melarang utk mnggunggalkan beliau pada nabi Yunus “.

Artinya, kenapa Rasul melarang mengunggullkan dirinya atas nabi Yunus, padahal Rasulullah diangkat ke arsy jika kita tetapkan Allah ada di Arsy dan nabi Yunus di dasar lautan yang sangata dalam, bahkan dlm bbrpa tafsir di katakan tiga kegelapan; kegelapan malam, kegelapan lautan dan kegelapan brada di dalam perut ikan. Artinya Rasululllah lebih dekat ke Allah drpada nabi Yunus..

Sebab kata imam Malik Allah bukan berada di suatu arah atas atau pun bawah. Beliau menafikan arah bagi dzat Allah. Oleh sebab itulah nabi melarang hal itu sbgai peringatan akan kesuciaan Allah dr arah atas maupun bawah. Sebab arah itu sifat bagi makhluk sdngkan Allah bukan makhluk.
12 Juli pukul 19:40 · Suka · 3

Avif Haryana:
 Kepada Yth. Mbak Shofiyyah An-Nuuriyyah
Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa man waalahu..
amma ba’d,
Shofiyyah said:
Imam Ahmad bin Hanbal berkata :
ءامنت بما جاء عن الله على مراد الله وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله
Aku beriman terhadap apa yang dating dari Allah atas makna yang Allah kehendaki, dan beriman kpd apa yang dating dari Rasulullah atas makna yang Rasul kehendaki “.
========

Sungguh bagus perkataan imam Ahmad rahimahullah ini, pantas ditulis dengan tinta emas. Allah menghendaki suatu makna dan rasululllah juga menghendaki suatu makna. Dengan kata lain bahwa Allah menjelaskan sifat-sifatnya dalam Al Quran dan Rasulullah menjelaskan sifat-sifat Allah dalam hadits-haditsnya yang sohih dengan makna yang terkandung dalam bahasa arab itu sendiri, tanpa takyif tentunya.

Perhatikan ayat-ayat ini:
- QS 26:195, “dengan bahasa Arab yang jelas.” (maksudnya Alquran diturunkan dengan bahasa arab yang jelas-red)
- QS 16:44, Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu (Muhammad) menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan
- QS 35:28 “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”
Al Quran adalah firman Allah dengan bahasa Arab yang jelas, dan jelaskan pula oleh Rusullullah Shallalhu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya dengan bahasa arab yang fasih, dengan makna yang dipahami oleh para sahabat. (fungsi rasulullah sebagai mubayyin, QS 16:44). Terlebih dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah, mustahil rasulullah menjelaskan kepada para shahabatnya dengan bahasa arab tanpa makna. Dan tentu para sahabat juga memahami dengan maknanya dalam bahasa arab. Sehingga diantara hamba-hamba Allah ada orang-orang yang sangat takut kepada Allah, karena mengimani asma wa sifat Allah secara baik dan benar, merekalah para ulama sejati (QS 35:28). Note: ulama, akar katanya dari ‘alima (ع ل م) yang artinya tahu.

Shofiyyah said:
Kami beriman dengan Yad Allah, Rijl Allah, Ain Allah, wajh Allah dengan menyerahkan maksud sbnrnya pada Allah dengan tanpa kaif dan tasybih.

Ini perkataan ulama salaf yang mana? Siapa bliau?

Shofiyyah said:
Jadi para ulama salaf tidak membawakan makna ayat-ayat dan hadits-hadits sifat dan mutaysabihat kepada makna dhahirnya. Jika mereka membawakan makna dhahirnya, maka mereka tidak mungkin mentafwidh / menyerahkan maksud sebenrnya pada Allah, tapi mereka akan secara jelas mengatakan makna yad scra dhahir sbgaimana makna Yad, Rijl, ain, wajh dalam bahasa Arabnya.
========
Kesimpulan anda kurang tepat disini, karena rijl, 'ain, wajh adalah diketahui maknanya dalam bahasa arab (ini adalah hal yang ma’ruf) walaupun mereka tidak secara jelas mengatakannya. Yang diserahkan kepada Allah adalah kaifiyyah dari makna tersebut (tanpa takyif)
Lihatlah perkatatan imam malik berikut ini:
الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.
baca: al istiwaau ma'luumun wal kaifu majhuulun wal iimaanu bihi waajibun, wassuaalu 'anhu bid'atun.

al istiwa` u ma’luumun = istiwa diketahui maknanya dalam bahasa arab, yaitu: علا وارتفع (naik dan tinggi
wal kaifu majhuulun = Kaifiyyahnya tidak diketahui, kita serahkan kaifiyyahnya kepada Allah ( Tafwidh dlm kaifiyahnya, maknanya tetap dimaknai sebagai mana makna katanya)
Namun, sayangnya ada segelintir orang yang sengaja mau mendustakan perkataan Imam malik ini dengan segala tipu muslihat, karena ini adalah perkataan sangat jelas tentang manhaj salaf dalam aqidah asma’ wa assifat. Bahkan faktanya, Imam Al Qurtubi dalam tafsirnya mengatakan bahwa ini adalah perkataan imam malik.
Lihat tafsir Al Qurtubi jilid 7 hal 219 baris terakhir s.d hal 220 baris pertama
(kitabnya bisa di download di http://ia700200.us.archive.org/2/items/waq61451/07_61454.pdf )

Saya juga bisa sebutkan perkataan dengan makna yang sama yang sanadnya langsung bersambung ke Imam malik:
Telah mengkhabarkan kepada kami Abu MuhammadAl-Mukhalladiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr ‘Abdullah bin Muhammad bin Muslim Al-Isfiraayiiniy : Telah menceritakan kepada kami Abul-Husain ‘Ali bin Al-Hasan : Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib : Telah menceritakan kepada kami Mahdiy bin Ja’far bin Maimun Ar-Ramliy, dari Ja’far bin ‘Abdillah ia berkata : “Datang seorang laki-laki kepada Maalik bin Anas, yaitu menanyakan kepada beliau tentang firman Allah : ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’ ; bagaimana istiwaa’-nya Allah itu ?”. Perawi berkata : “Belum pernah aku melihat beliau (Malik) marah sedemikian rupa seperti marahnya beliau kepada orang itu. Tubuhnya berkeringat, orang-orang pun terdiam. Mereka terus menantikan apa yang akan terjadi. Kemudian setelah keadaan Al-Imam Malik kembali normal, beliau berkata : “Kaifiyah-nya tidaklah dapat dinalar, istiwaa’ sendiri bukan sesuatu yang majhul, beriman kepada adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Dan sesungguhnya aku takut kamu berada dalam kesesatan”. Kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk dikeluarkan dari majelisnya [‘Aqidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits, hal. 38-39, tahqiq : Badr bin ‘Abdillah Al-Badr; Adlwaaus-Salaf, Cet. 2/1415].
15 Juli pukul 22:00 · Suka · 1

Avif Haryana :
Shofiyyah said:
Ucapan tersebut mau tidak mau pasti menimbulkan pemahaman bahwa Allah punya anggota tubuh sprti tangan, kaki, jari, mata, hidung, wajah tapi tangan, kaki, jari, mata, hidung dan wajah Allah tdk sperti tangan, kaki, jari, mata, hidung dan wajah makhluk-Nya.
======

Tidak mesti yang punya wajah punya anggota badan yang lain, kalau kita menetapakan anggta badan yang lain tanpa dalil, ini adalah tasybih (Menyerupakan Allah dengan Makhluknya) Apalagi wajah Allah kita tidak tahu kaifiyyahnya gimana, yang jelas kita tetapkan wajah Allah sesuai maknanya tanpa kaifiyyah..Anda berusaha mensucikan Allah (tanzih) dengan tanpa memaknai kata-kata yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah, dengan istilah tafwidh, menyerahkan makna dan kaifiyyahnya kepada Allah. Namun pada dasarnya anda telah menolak makna-makna kata yang telah Allah tetapkan dalam Al Quran dan makna kata yang telah rasulullah sampaikan dalam hadits-haditsnya yang sohih yang berkaitan dengan asma wa sifat. Anda berusaha untuk mensucikan Allah dengan tidak memaknai sifat-sifat Allah, namun sebenarnya anda telah terjebak kepada tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). Bagaimana bisa? Karena sebelum anda menolak makna-makna dari lafadz-lafadz sifat dalam Al Quran dan Hadits, anda telah menyerupakan Allah dengan makhluknya, sehingga pada akhirnya anda tolak makna makna tersebut. Padahal Al quran adalah diturunkan dalam bahasa arab yang jelas dan kita diperintahkan untuk mentadabburi ayat ayat nya, Ingat firman Allah dlm QS 38: 29, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. Bagaimana mungkin lafadz-lafadz sifat dalam Al Quran tidak kita maknai? (Kecuali huruf-huruf muqatta’ah di awal-awal surat, tidak kita tetapkan maknanya karena itu bukan susunan kata dalam bahasa arab, alias maknanya tidak ada di kamus)
Dalam hal ini kita perlu berhati-hati untuk menerima teks dalam Al Quran dan Hadits apa adanya tanpa menolak maknanya dan tanpa menetapkan sifat-sifat yang tidak ditetapkan oleh Allah dan rasulNya. Di dalam Al Quran sendiri Allah mengatakan wajhullah (wajah Allah) di QS 2:115 dll, Yadullah (tangan) di QS 5:46, ‘ainullah (mata Allah) di dan kita hanya menetapkan lafadz-lafadz yang ada dalam Al Quran dan hadits tanpa menolaknya dan tanpa menanyakan kaifiyyahnya.

Shofiyyah said :
1. Skrg kita bandingkan dulu dengan pendapat para ULAMA SALAF tentang ISTAWA :
Imam Abu Hanifah mengakan :
"ونقر بأن الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة إليه واستقرار عليه، وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياج، فلو كان محتاجا لما قدر على إيجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين، ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا"
Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy. Allah yang memelihara arsy dan memelihara selain arsy, maka Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-makhluk-Nya tersebut. Karena jika Allah membutuhkan kapada makhluk-Nya maka berarti Dia tidak mampu untuk menciptakan alam ini dan mengaturnya. Dan jika Dia tidak mampu atau lemah maka berarti sama dengan makhluk-Nya sendiri. Dengan demikian jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Artinya, jika sebelum menciptakan arsy Dia tanpa tempat, dan setelah menciptakan arsy Dia berada di atasnya, berarti Dia berubah, sementara perubahan adalah tanda makhluk). Allah maha suci dari pada itu semua dengan kesucian yang agung ”

(Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh Mullah Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70).
==========
Sungguh indah perkataan Imam Abu Hanifah, dan inilah manhaj salafus sholeh. Namun sayangnya anda menerjemahkan teks tersebut secara tendensius, diseret-seret agar cocok dengan pendapat anda, terutama dalam potongan kata ini :

Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy”
dari mana anda dapatkan kata “dalam pengertian”?

saya nukilkan terjemahan yang lebih “netral” berikut:
Kami menetapkan (mengakui) bahwa sesungguhnya Allah SWT beristiwâ’ di atas Arsy tanpa Dia butuh kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya.”
Tanpa dia butuh kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya, adalah maksud tanpa takyif (mebagaimanakan), dengan menetapkan kata istiwa’. Dan inilah manhaj salaf yang sesungguhnya menetapkan adanya makna istiwa’ dan menyerahkan kaifiyah istiwa kepada Allah (karena kita tidak mengetahui kaifiyahnya)
Jadi perkataan Abu Hanifah ini sebenarnya adalah hujjah saya bukan hujjah anda.

Shofiyyah said:
Perhatikan perkataan Imam Abu Hanifah diatas: ”Dan kami mengakui Bahwasannya Allah yang maha Suci dan maha Tinggi diatas arsynya Istawa, tanpa membutuhkan (Ihtiyaj) kepadanya dan Tanpa ber-Diam / berada (istiqrar) diatasnya ”.
========

Nah kalau yang ini tidak tendensius.

Shofiyyah said:
Artinya beliau mengimani bahwa Allah memang beristiwa sbgaimana dijelaskan dlm al-Quran, tapi beliau tidak mengartikan Istiwaa dengan ”makna asalnya / dhahirnya” yaitu : ”Istiqror” ( ber-diam / berada ). Itulah tafwidh atau takwil ijmali yang dilakukan imam Abu Hanifah.
========

Yang dilakukan Imam abu hanifah disini bukan tafwidh makna, tapi tafwidh kaifiyyahnya.
Intinya Manhaj salaf dalam aqidah asma’ wa sifat bukan tafwidh makna, akan tetapi menetapkan adanya makna pada lafadz-lafadz sifat-sifat Allah yang ada dalam Al Quran dan hadits, dengan tanpa takyif (bisa dibilang, tafwidh dalam masalah kaifiyah), tanpa tathil, tanpa tamsil dan tanpa tasybih. Sekian dulu,

Wallahu ‘alam
Washallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam..
15 Juli pukul 22:00 · Suka · 1


Shofiyyah An-Nuuriyyah :
 Avif Haryana Sa’id :

Al Quran adalah firman Allah dengan bahasa Arab yang jelas, dan jelaskan pula oleh Rusullullah Shallalhu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya dengan bahasa arab yang fasih, dengan makna yang dipahami oleh para sahabat. (fungsi rasulullah sebagai mubayyin, QS 16:44). Terlebih dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah, mustahil rasulullah menjelaskan kepada para shahabatnya dengan bahasa arab tanpa makna. Dan tentu para sahabat juga memahami dengan maknanya dalam bahasa arab. Sehingga diantara hamba-hamba Allah ada orang-orang yang sangat takut kepada Allah, karena mengimani asma wa sifat Allah secara baik dan benar, merekalah para ulama sejati (QS 35:28). Note: ulama, akar katanya dari ‘alima (ع ل م) yang artinya tahu.
===============

saya jawab :

Memang benar al-Quran diturunkan degn bahasa Arab. Lafadz-lafadz bahasa arab sndiri itu pun memiliki uslub yang tinggi dan makna yang luas. Sebelum Islam datang dan sesudahnya, bahasa arab pun juga memiliki makna yang berlainan, misal sblom Islam datang Sholah bermakna doa dan setelah Islam dating sholah bermakna segala perbuatan dan ucapan yang dimulai degn takbir dan diakhiri dgn salam.
Dalam bahasa arab pun juga memiliki makna Haqiqatan dan Majaazan contoh yang majaazan Hadits Nabi Saw :

أسرعكن لحوقا بى أطولكن يدا

Paling segeranya di antara kalian (keluarga Rasul) yang menyusulku adalah yang paling panjang tangannya “.

Makna hadits itu bukan berarti tangan yang paling panjang, tapi yang paling banyak shodaqahnya.

Demikian juga makna bhsa arabnya dalam kalam bermakna dgn makna yang berlainan sesuai Siyaqul kalamnya.

Nah dalam aya-ayat al-Quran juga sebagian hadits ada yg disebut sebgai Muhkam dan mutasyabih.

Muhkamat : Ayat-ayat yang terang dan jelas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.
Mutasyabihat : Ayat yang tidak jelas maksudnya, yang seoalah menyerupakan Allah dengan makhluknya.
Ayat-ayat Muhkamat oleh Allah disebut dgn Ummul kitab (pokok-pokok isi al-Quran), karena ayat muhkamat tsb yang harus menjadi acuan dan rujukan dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat.

Di antaranya ayat :
Laitsa kamitslihi syaiun “

Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan pada kita bagaimana cara menyikapi ayat-ayat mutasyabihat. Yaitu agar kita mengimani dan membenarnkan adanya sifat-sifat yang Allah sebutkan dlm al-Quran maupun haditsnya tanpa menanyakan kaifiyat dan tanpa menyerupakannya dgn sifat-sifat makhluk-Nya. Dan Allah melarang dan mengecam orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat dgn tujuan menimbulkan fitnah bagi kaum muslimin lainnya.

Oleh sebab itu imam Ahmad Ar-Raifa’I (W 578 H, yang sangat dipuji-puji Ibnu Taimiyyah dlm salah satu kitabnya) mengatakan :

صونوا عقائدك؅ من التمسك بظاهر ما تشابه من الكتاب والسنة فان ذالك من اصول الكفر

Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur'an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran". (Burhan al-Muayyad)

Jelas, dilarang mengikuti makna dhahir dr ayat-ayat mutasyabihat, sebab makna dhahir dlm bhsa arab memiliki makna yang banyak contohnya Istawa, ini memiliki 15 makna dan tak ada satupun satu makna yang mewakili makna Istawa shingga maknanya menjadi mutasyabih / samar. Jika kita ikuti makna dhahirnya, maka mnjadikan pmhaman bahwa Allah itu istaqarra / bersemayam di atas arsy sdngkan kata istaqarra / semayam itu sifat makhluk. Maka kita telah menyerupakan Allah dgn sifat makhluknya padahal Allah tidk sperti makhluk-Nya.

Dan sebab itulah imam Ath-Thahawi (ulama salaf) berkata : Brangsiapa yang mensifati Allah dgn makna / sifat dari makna-makna /sifat-sifat makhluk, maka dia telah kafir “.
17 Juli pukul 15:57 · Suka


Shofiyyah An-Nuuriyyah Kami beriman dengan Yad Allah, Rijl Allah, Ain Allah, wajh Allah dengan menyerahkan maksud sbnrnya pada Allah dengan tanpa kaif dan tasybih.

Ini perkataan ulama salaf yang mana? Siapa bliau?
==============

Bnyak ulama salaf yang mengatakan dgn ucapan yang senada di atas, di antaranya imam Abu Hanifah ktika mnjlaskan pmbhsan tntang melihat Allah di surge, beliau mengatakan :

ويراه المؤمنون وهم في الجنة بأعين رؤوسهم بلا تشبيه ولا كيفية ولا كمية ولا يكون بينه وبين خلقه مسافة

Dan kaum muslimin akan melihat Allah ketika mereka di surge dgn mata kepala mereka sndiri tanpa TASYBIH, KAIFIYYAH, KUMMIYYAH dan tak ada jarak antara Allah dan makhluk-Nya “
(Al-Wshiyah : 136-137)

Artinya imam Abu Hanifah mengimani terlihatnya Allah bagi hamba-Nya kelak di surga tanpa Tasybih, Kaifiyyah dan Kummiyyah. Ini merupakan tafwidh yg sempurna dari imam Abu Hanifah terkait ayat mutasyabihat.

Imam Syafi’i juga pernah mengatakan dgn ucapan yang senada di atas saat ditanya tentang ayat ISTAWA, beliau menjawab :

ءامنت بلا تشبيه وصدقت بلا تمثيل واتهمت نفسي في الإدراك وأمسكت عن الخوض فيه كل الإمساك

Aku mengimani (ayat-ayat tsb) tanpa Tasybih, aku membenarkannya tanpa Tamstil, aku mencurigaiku diriku di dalam memahaminya dan aku mencegah diriku dari memperdalam pemahamannya dgn sebenar-benarnya pencegahan “. (al-burhanu al-Muayyad : 24)

Perhatikan sikap imam Syafi’I tntang ayat mutasyabihat, beliau bersikap :

1. Mengimani tanpa TASYBIH
2. Membenarkan tanpa TAMTSIL
3. Mencurigai diri dari memahaminya artinya beliau tidak berani meng-idrak ISTAWA tsb
4. Imsak / menahan diri dgn sbnr-benarnya dr haudh (membicarakan lbh dalam) ayat tsb

Ini juga merupakan TAFWIDH yg sempurna dr imam Syafi’i..
17 Juli pukul 15:59 · Suka

Shofiyyah An-Nuuriyyah :
Avif Haryana sa'id :
Lihatlah perkatatan imam malik berikut ini:
الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.
baca: al istiwaau ma'luumun wal kaifu majhuulun wal iimaanu bihi waajibun, wassuaalu 'anhu bid'atun.

al istiwaa u ma’luumun = istiwa diketahui maknanya dalam bahasa arab, yaitu: علا وارتفع (naik dan tinggi
wal kaifu majhuulun = Kaifiyyahnya tidak diketahui, kita serahkan kaifiyyahnya kepada Allah ( Tafwidh dlm kaifiyahnya, maknanya tetap dimaknai sebagai mana makna katanya)
Namun, sayangnya ada segelintir orang yang sengaja mau mendustakan perkataan Imam malik ini dengan segala tipu muslihat, karena ini adalah perkataan sangat jelas tentang manhaj salaf dalam aqidah asma’ wa assifat. Bahkan faktanya, Imam Al Qurtubi dalam tafsirnya mengatakan bahwa ini adalah perkataan imam malik.
Lihat tafsir Al Qurtubi jilid 7 hal 219 baris terakhir s.d hal 220 baris pertama
(kitabnya bisa di download di http://ia700200.us.archive.org/2/items/waq61451/07_61454.pdf )
======================

Ini merupakan pemahaman secara tendensius :

Pertama : tidak dijelaskan oleh imam Ahmad apa yg dimaksud maklum di situ. Apa maklum dari segi lafadz atau maklum disebutkan dalam al-Quran.

Kedua : Bagiamana dikatakan Maklum fil lafadz, sdngkan makna lafadz Istawa sangat bnyak. Dan hamper seluruhnya mewahamkan tasybih bagi Allah. Sdngkan Allah melarang mengikuti mutasybih.

Ketiga : Oleh ulama kalam imam Malik tsb dinilai dhaif, dan yg shahih sbgaimana disebutkan oleh imam Baihaqi berikut :

الرحمن على العرش استوى كما وصف نفسه ولا يقال كيف وكيف عنه مرفوع

Ar-Rahman beristiwa di atas Arsy seperti yang Dia sifati sendiri, dan tidak boleh ditanyakan kaifiyyahnya sedangkan kaifiyah itu mustahil bagi Allah “. (al-Asma wa ash-shifat : 408)

Dalam kalam yg ini tdk disebutkan “ al-Istiwa ma’lum “ dan ini lebih shahih mnurut imam Baihaqi dan Ibnu Hajar dalam Fathul Barinya.

Keempat : Jika anda memahami ISTAWA dgn makna dhahirnya dalam bhsa arab semisal istaqarra / bersemayam, maka anda telah mensifati Allah dgn sifat makhluk-Nya karna istaqarra adalah sifat makhluk. Maka tak ada manfaatnya lagi anda memberikan embel-embel setelahnya dgn mngucapkan “ Istaqarra yang tidak seperti istaqarra makhluk-Nya “, inilah yang dikatakan oleh imam Jakfar ath-Thahawi :
ومَن وَصَفَ اللهَ بمعنًى مِن معاني البَشَرِ فَقَدَ كَفَرَ

Barangsiapa yang mensifati Allah dengan makna dari makna-makna manusia, maka ia telah kufur "..
17 Juli pukul 16:01 · Suka

Shofiyyah An-Nuuriyyah : Anda mengatakan:
Tidak mesti yang punya wajah punya anggota badan yang lain, kalau kita menetapakan anggta badan yang lain tanpa dalil, ini adalah tasybih (Menyerupakan Allah dengan Makhluknya) Apalagi wajah Allah kita tidak tahu kaifiyyahnya gimana, yang jelas kita tetapkan wajah Allah sesuai maknanya tanpa kaifiyyah..
==================
Saya jawab :
saya tidak menetapkan apa yang tidak ditetapkan oleh Allah Swt. Tapi justru aku menetapkan apa yang Allah telah tetapkan.

Jutru sebenarnya anda telah bicara tanpa ilmu sehingga tanpa sadar anda telah menafikan sebagian sifat-sifat Allah, naudzu billah min dzaalik.

Bukankah banyak ayat-ayat al-Quran dan Hadits yang juga menyebutkan sifat Jari Allah? Sifat kanan Allah, sifat samping Allah, sifat betis Allah? Sifat JALAN Allah, Sifat penciuman Allah ? sifat SAKIT Allah? Sifat LUPA Allah ? dan lain sebagainya…kenapa anda mengatakan saya menetapkan sifat-sifat (bukan anggota badan) Allah tanpa dalil ??

Tidakkah anda membaca ayat dan hadits :

Tentang betis : يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاق (al-Qolam : 42)

Tentang tertawa : ضحك الله الليلة (Tadi malam Allah tertawa) al-Hadits

Tentang jari : قلب المؤمن بين أصبعين من أصابع الرحمن (Hati mukmin di antara dua jari dari Jari-jari Allah)

Tentang kanan : الحجر الأسود يمين الله في أرضه (Hajar Aswad kanan Allah di muka bumi)
Tentang jiwa : تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ (al-Quran)

Tentang Lupa : نسوا الله فنسيهم (Mereka lupa pada Allah maka Allah melupakan mereka) (al-Quran)
Tentang sakit : يا ابن آدم مرضت فلم تعدني (Wahai anak Adam, aku sakit kenapa kamu tidak menjengukku) (al-Hadits)

Dan lain sbgainya bahkan sangat banyak disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj As-Sunnah tentang ayat-ayat sifat yang seolah-olah Allah memiliki semua nggota tubuh sprti makhluk lainnya yg juga memiliki anggota tubuh.
17 Juli pukul 16:02 · Suka

Shofiyyah An-Nuuriyyah :
Avif Haryana sa'id :
Anda berusaha mensucikan Allah (tanzih) dengan tanpa memaknai kata-kata yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah, dengan istilah tafwidh, menyerahkan makna dan kaifiyyahnya kepada Allah. Namun pada dasarnya anda telah menolak makna-makna kata yang telah Allah tetapkan dalam Al Quran dan makna kata yang telah rasulullah sampaikan dalam hadits-haditsnya yang sohih yang berkaitan dengan asma wa sifat. Anda berusaha untuk mensucikan Allah dengan tidak memaknai sifat-sifat Allah, namun sebenarnya anda telah terjebak kepada tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). Bagaimana bisa? Karena sebelum anda menolak makna-makna dari lafadz-lafadz sifat dalam Al Quran dan Hadits, anda telah menyerupakan Allah dengan makhluknya, sehingga pada akhirnya anda tolak makna makna tersebut.
===================
Saya jawab :
Ini kusebut dengan pemikiran atau kesimpulan yang premature. Jika anda mngatakan sprit itu maka sama saja anda menyamakan ayat-ayat mutasyabihat dengan ayat-ayat muhkamaat, lalu buat apa Allah membedakan ayat-ayat mutasyabihat dari yang muhkamaat, jika harus mnyikapinya sama ??
Buat apa pula Allah menamakan ayat-ayat tsb dgn MUTASYABIHAT jika bagi anda cara memahaminya sama dgn ayat muhkamaat??

Justru Allah menamakan ayat-ayat tsb dgn MUTASYABIHAT disebabkan terdapat pemahaman yang samar dlm ayat mutasyabihat, pemahaman yang seolah menyerupakan Allah dgn makhluk-Nya. Oleh sebab itu Allah membedakan ayat yang mutasyabihat dgn ayat muhkamat. Agar umat muslim berhati-hati di dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat. Dan tidak mengikuti ayat-ayat mutasyabihat tsb shingga bisa mnyebabkan kesyrikan atau kekufuran.
Dan buat apa pula para ulama salaf mentafwidh makna dan kaifiyah jika ayat mutasyabihat itu seperti ayat muhkamat (atas konsekwensi argumntasi anda)?? Kenapa pula para ulama salaf tidak mnjelaskan saja secara sharih makna ayat-ayat mutasyabihat mnurut makna bhsa Arabnya ??
Maka argumntasi anda tsb (sebelum anda menolak makna-makna dari lafadz-lafadz sifat dalam Al Quran dan Hadits, anda telah menyerupakan Allah dengan makhluknya, sehingga pada akhirnya anda tolak makna makna tersebut.) adalah argumntasi premature yang tidak pandai memahami makna ayat mutasyabihat dan tidak cerdas di dalam menyikapi ayat mutasyabihat juga tidak bisa membedakan ayat mutasybihat dgn ayat muhkamat.
17 Juli pukul 16:05 · Suka

Shofiyyah An-Nuuriyyah :

Anda mengtakan : Sungguh indah perkataan Imam Abu Hanifah, dan inilah manhaj salafus sholeh. Namun sayangnya anda menerjemahkan teks tersebut secara tendensius, diseret-seret agar cocok dengan pendapat anda, terutama dalam potongan kata ini :

Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy”
dari mana anda dapatkan kata “dalam pengertian”?

saya nukilkan terjemahan yang lebih “netral” berikut:
Kami menetapkan (mengakui) bahwa sesungguhnya Allah SWT beristiwâ’ di atas Arsy tanpa Dia butuh kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya.”
========================
Saya jawab :
Saya bukan menerjemahkannya scra tendensius, tapi saya berusha mensyrkan qoul imam Abu Hanifah tsb. oleh krna itu saya pertegas kembali dgn terjemahan saya stelahnya yaitu :

Perhatikan perkataan Imam Abu Hanifah diatas: ”Dan kami mengakui Bahwasannya Allah yang maha Suci dan maha Tinggi diatas arsynya Istawa, tanpa membutuhkan (Ihtiyaj) kepadanya dan Tanpa ber-Diam / berada (istiqrar) diatasnya ”.
17 Juli pukul 16:07 · Suka

Shofiyyah An-Nuuriyyah:
 Avif Haryana sa'id :
Tanpa dia butuh kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya, adalah maksud tanpa takyif (mebagaimanakan), dengan menetapkan kata istiwa’. Dan inilah manhaj salaf yang sesungguhnya menetapkan adanya makna istiwa’ dan menyerahkan kaifiyah istiwa kepada Allah (karena kita tidak mengetahui kaifiyahnya)
Jadi perkataan Abu Hanifah ini sebenarnya adalah hujjah saya bukan hujjah anda.
================
Saya jawab :
sepertinya anda kurang jeli dan kurang cermat memahami kalam imam Abu Hanifah tsb. perhatikan :

Imam Abu Hanifah mengakan :

ونقر بأن الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة إليه واستقرار عليه، وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياج، فلو كان محتاجا لما قدر على إيجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين، ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا"

Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, TANPA MEMBUTUHKAN arsy, juga TANPA ISTIQRAR / BERSEMAYAM di arsy "

Imam Abu Hanifah justru menetapkan sifat ISTAWA TAPI BELIAU MENTAFWIDH MAKNANYA. Beliau tidak memegang kata ISTAWA pada makna dhahirnya :

Jadi sikap imam Abu Hanifah adalah :

ITSBAT : Kita menetapkan bahwa Allah BERISTIWA.

BILAA TASYBIIH : tanpa membutuhkan pada arsy.

TAFWIDH : Tanpa ISTIQRAR / bersmayam di atas arsy. sebab makna dhahir dr lafadz Istiwa itu istiqrar.

Inilah yang harus anda pahami wahai kawan..
17 Juli pukul 16:17 · Telah disunting · Suka


Shofiyyah An-Nuuriyyah :
 Avif Haryana sa'id : Yang dilakukan Imam abu hanifah disini bukan tafwidh makna, tapi tafwidh kaifiyyahnya.
Intinya Manhaj salaf dalam aqidah asma’ wa sifat bukan tafwidh makna, akan tetapi menetapkan adanya makna pada lafadz-lafadz sifat-sifat Allah yang ada dalam Al Quran dan hadits, dengan tanpa takyif (bisa dibilang, tafwidh dalam masalah kaifiyah), tanpa tathil, tanpa tamsil dan tanpa tasybih. Sekian dulu,
====================
Saya jawab :
Sprti yg sudh aku jelasi barusan, terbukti bahwa imam Abu Hanifah mentafwidh maknanya. jika imam Abu Hanifah mentafwidh kaifiyyahnya maka beliau tidk akan mngatakan " Min ghoiri an yakuuna muhtaajan ilaihi WASTIQRAARIN 'ALAIH ", krna makna dhahir dr lafadz Istiwa di antaranya adalah ISTIQRAR.

Nah imam Abu Hanifah menafikan makna ISTIQRAR yg merupakan salah satu makna dhahir dr lafadz ISTAWA. Dan beliau tidak menjelaskan ISTAWA dgn makna Dhahirnya. Maka jelas sudah ini disebut TAFWIDH MAKNA DAN KAIFIYYAH.
Anda sprtinya perlu melihat bbrpa pndapat para ulama tntang hal ini di antaranya kalam IBNU TAIMIIYAH sndiri yang mnegakui TAFWIDH MAKNA :

" الْإِيمَانُ بِصِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَسْمَائِهِ " الَّتِي وَصَفَ بِهَا نَفْسَهُ وَسَمَّى بِهَا نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ وَتَنْزِيلِهِ أَوْ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَيْهَا وَلَا نَقْصٍ مِنْهَا وَلَا تَجَاوُزٍ لَهَا وَلَا تَفْسِيرٍ لَهَا وَلَا تَأْوِيلٍ لَهَا بِمَا يُخَالِفُ ظَاهِرَهَا وَلَا تَشْبِيهٍ لَهَا بِصِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ ؛ وَلَا سِمَاتِ المحدثين بَلْ أَمَرُوهَا كَمَا جَاءَتْ وَرَدُّوا عِلْمَهَا إلَى قَائِلِهَا ؛ وَمَعْنَاهَا إلَى الْمُتَكَلِّمِ بِهَا

Beriman kepada Sifat Allah Ta’ala dan NamaNya” yang telah Dia sifatkan diriNya sendiri, dan Dia namakan diriNya sendiri, di dalam KitabNya dan wahyuNya, atau atas lisan RasulNya, dengan tanpa penambahan atau pengurangan atasnya, tidak melampauinya, tidak menafsirkannya dengan apa-apa yang menyelisihi zhahirnya, tidak menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk, dan apalagi dengan pembawa berita, tetapi membiarkan sebagaimana datangnya, dan mengembalikan ilmunya kepada yang mengucapkannya, dan mengembalikan maknanya kepada yang membicarakannya. ” (Majmu’ Fatawa, 1/ 294)

Perkataan Ibnu Taimiyyah yg ini (...mengembalikan ilmunya kepada yang mengucapkannya, dan mengembalikan maknanya kepada yang membicarakannya...) mau disadari atau tidak adalah TAFWIDHUL ILMI dan TAFWIDHUL MAKNA. Maka, klaim itsbat hanya tafwidhul kaifiyat adalah KELIRU! Tafwidh yang benar adalah tafwidul ilmi, kaifiyat sekaligus MAKNAnya.

Imam Adz Dzahabi berkata :

فقولنا في ذلك وبابه: الاقرار، والامرار، وتفويض معناه إلى قائله الصادق المعصوم

" Adapun pendapat kami tentang itu dan dalam bab ini adalah mengakui, membiarkan, dan menyerahkan (tafwidh) maknanya kepada pengucapnya yang benar dan ma’shum " (Imam Adz Dzahabi, Siyar A’lam An Nubala, 8/105)...

Imam Syafi'i :

. وَقَالَ بَعْضُهُمْ - وَيُرْوَى عَنْ الشَّافِعِيِّ - : " آمَنْت بِمَا جَاءَ عَنْ اللَّهِ وَبِمَا جَاءَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مُرَادِ رَسُولِ اللَّهِ "

" Sebagian ulama berkata: -diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i- : Aku beriman dengan apa-apa yan datang dari Allah, dan yang datang dari Rasulullah Shllalalhu “Alaihi wa Sallam dengan maksud dari Rasulullah"..
17 Juli pukul 16:32 · Telah disunting · Suka

NB : sejak bulan Juli itu hingga saat ini bulan september, ustadz Salafi itu tidak membalas hujjah saya tsb.
Sudah sangat sering saya dibohongi-janji-janji ustadz salafi yang jika mereka terbukti salah, mereka mau mengakui kesalahannya dan mau menerima kebenaran yang saya sampaikan.


5 komentar:

  1. Assalaamu'alaikum...
    Diskusi yang sangat ilmiyah.
    Terbukti Aviv Haryana tidak mengikuti pemahaman salafussholih sebagaimana yang sering didengung dengungkan oleh kelompok mereka(wahabi/new salaf). Saudara aviv haryana lebih mengedepankan hawa nafsu dan pemahaman ala kadarnya, hingga menuruti faham mujasimah dan musyabihah. Na'udzubillah..
    Terbukti bahwa pemahaman salafussholih tidak seperti pemahaman yang di uraikan oleh saudara aviv haryana.
    Pemahaman salafussholih tidak menjisimkan Alloh, tidak menyerupakan Alloh dg mahluk, tidak mengadakan tempat bagi Alloh.
    Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
    Dan sebaik baik pemahaman adala Rasulullah SAW.
    انت الظاهر فليس فوقك شيئ وانت البطن فليس دونك شيئ. رواه المسلم

    Berkata Sayyaidin Ali Karramallah:
    ان الله خلق العرش الظهارا لقدرته ولم بتخذه مکانا لذاته رواه ابو منصور الغدادي فی الفرق بينا الفرق
    berkata Ibnul Jawzi:
    أن من وصف الله بالمکان والجهة فهو مشبه مجسم لله لايعرف ما يجب للخالق
    dan masih banyak lagi pernyataan salafussholih yang lainnya.
    Teruslah berjuang ukhti Sofiyyah An-Nuuriyyah, bongkar kedok salafi wahabi.
    Salam Aswaja.

    BalasHapus
  2. Wa'alaikum salam..

    Makasih mas...salam aswaja juga..

    BalasHapus
  3. bagus sekali artikelnya Jazakallah.. saya jadi bertaubat dari faham tamtsil lewat penjelasan2 yg ditulis diartikel ini.. sungguh serius.. dan memang puncak kesesatan kaum wahabi adalah di ayat mutasyabihatnya, mereka tidak mengindahkan Ali Imran ayat 7 tersebut

    BalasHapus
  4. http://www.youtube.com/watch?v=fIHJ1ANZrcY

    BalasHapus
  5. اليقين لا يزول بالشك...
    وهذه عقيدتكم ليس عقيدتي

    BalasHapus