Sabtu, 23 Februari 2013

Menjawab bantahan anti takwil tentang riwayat takwil imam Ahmad bin Hanbal bag I


Artikel saya yang berbicara soal penipuan dan kecurangan wahabi dengan memanipulasi ucapan Ibnu Rajab ternyata ditanggapi oleh AbulJauza dalam blognya rupanya dia juga menyanggah artikel akhi Ibnu Abdillah Al-Katibi yang juga sempat menyinggung penipuan dan manipulasi wahabi ini. Tapi sayang, dengan gaya bahasa yang menyihir pecinta butanya masih tetap tak menyadari kelengahannya atau kebutaannya di dalam melihat bentuk kecurangan wahabi yang begitu jelas dan terang bagaikan sinar matahari di siang bolong akibat fanatic butanya terhadap ajaran wahabi yang dianggapnya mengikuti salaf.

Kali ini saya perlu menuntun abul jauza agar mampu melihat dengan jelas bentuk kecurangan dan penipuan wahabi dengan memanipulasi ucapan Ibnu Rajab, dan sedikit bantahan saya kepada argumentasi saudara Muhammad Anshorullah yang tidak jauh berbeda dengan abul jauza.

Pada artikel pertama, saya mengatakan :

“ Ternyata setelah kita cek di kitab Fathul Bari Ibnu Rajab sendiri, komentar beliau tersebut bukanlah membahas atau menyinggung tentang takwilan imam Ahmad, melainkan sedang membahas bab sholat, jika pakaiannya sempit. “

Dalam artikel akhi Ibnu Abdillah Al-Katibiy menulis :

” Dalam redaksi tersebut sangatlah jelas, bahwa yang sedang dibahas bukanlah tentang penakwilan imam Ahmad pada ayat mutasyabihat akan tetapi pembahasan tentang bab sholat. Sungguh hal ini adalah penipuan nyata yang sangat buruk yang telah mereka lakukan demi mencari pembenaran. “

Abul Jauza membantah :

“ Sangat aneh ketika ada yang menukil perkataan ini untuk menunjukkan sifat tafarrud dalam diri Hanbal dan bagaimana pendapat ulama tentangnya, dikatakan sebagai suatu kecurangan. Katanya, yang sedang dibahas bukanlah tentang penakwilan imam Ahmad pada ayat mutasyabihat akan tetapi pembahasan tentang bab shalat. Ini namanya tidak mengetahui tujuan penukilan. Tidak pula memahami inti yang dikatakan Ibnu Rajab.
Perkataan beliau itu memang tidak berbicara masalah ‘aqidah, akan tetapi sedang bicara masalah pakaian dalam shalat. Tapi yang ditekankan dalam penukilan di situ adalah eksistensi tafarrud dalam riwayat Hanbal bin Ishaaq yang menimbulkan kemusykilan dan sekaligus sikap Ibnu Rajab tentangnya. “

Saya jawab :

Rupanya Abul Jauza alias si Dony ini hanya pandai mengolah kata-kata saja tapi tak pandai memahami siyaqul kalam (susunan pada kalimat).
Kita tuntun pelan-pelan, berikut kalam Ibnu Rajab yang menyinggung bab shalat :

وهذه رواية مشكلة جداً ، ولم يروها عن أحمد غير حنبل ، وهو ثقة ، إلا أنه يهم أحيانا ، وقد اختلف متقدمو الأصحاب فيما تفرد به حنبل عن أحمد: هل تثبت به رواية عنه أم لا ؟

 “ Riwayat ini sangatlah musykil (rumit) dan tidak meriwayatkannya seorang pun selain Hanbal, walaupun ia tsiqah akan tetapi ia terkadang sedikit wahm..dst “
Jelas dan sangat terang, ketika wahabi membawakan komentar Ibnu Rajab dalam bab shalat tersebut ke dalam bab penakwilan imam Ahmad, Maka secara sepontan pertama kali yang dipahami pembaca adalah riwayat tersebut musykil / rumit, artinya pembaca akan memahami bahwa riwayat penakwilan imam Ahmad sangatlah rumit. Padahal jelas, yang rumit disitu bukanlah menyinggung riwayat Hanbal tentang penakwilan imam Ahmad, melainkan menyinggung riwayat yang dibawakan Hanbal dalam bab shalat tersebut.  

Fokus :

Pemahaman Ibnu Rajab : “ Riwayat ini  (berkenaan bab shalat) sangatlah musykil “
Pemahaman pembaca yang digiring wahabi : “ Riwayat ini (berkenaan bab takwil) sangatlah rumit “.

Walaupun alasan wahabi dalam membawakan kalam Ibnu Rajab tersebut adalah eksistensi tafarrud dalam riwayat Hanbal bin Ishaaq, akan tetapi paragraph awal tetap akan mempengaruhi pembacanya, seolah riwayat penakwilan imam Ahmad bagi Ibnu Rajab itu musykil padahal bukan itu yang dimaksudnya.

Apakah ini bukan bentuk kesengajaan ingin menggiring pembaca pada pemahaman yang dimaui wahabi tsb?? Apakah ini bukan suatu kedustaan dan manipulasi kalam Ibnu Rajab??

Perumpamaan logikanya :

Seorang menteri mendapatkan informasi langsung dari Presiden bahwa pak Presiden jarang sarapan nasi.

Oleh Shaleh dikomentari “ Informasi ini sulit saya terima “.
Ketika ada perselisihan dalam masalah informasi pak Presiden pernah shalat tahajjud, oleh Wahab dibawakan komentar Shaleh tersebut yaitu  “ Informasi ini sulit saya terima “.

Maka para pendengarnya akan menangkap bahwa informasi yang mengatakan pak presiden pernah shalat tahajjud itu sulit diterima. Padahal yang dimaksud shaleh adalah informasi bahwa pak presiden jarang sarapan nasi bukan tentang sholat tahajjudnya.

Wahab beralasan “ tidak, saya tidak berdusta saya hanya menekankan di dalam membawakan komentar shaleh adalah kesendirian pak menteri di dalam mendapatkan informasi dari Presiden “.

Maka setelah itu pembaca akan beranggapan bahwa pak presiden tidak pernah shalat tahajjud. Padahal yang sholeh tolak informasinya adalah pak presiden jarang sarapan nasi karena kesendiriannya si menteri tsb dalam menerima informasi, artinya shaleh meyakini bahwa pak presiden selalu sarapan nasi.

Konsekuensi akibat penukilan wahab tersebut sangatlah berbahaya dan bahkan telah menipu pendengarnya dengan memanipulasi komentar shaleh tsb. Sehingga menimbulkan pemahaman orang yang bertolak belakang dari faktanya. Naudzu billah, suatu penipuan yang konsekuensinya sangat berbahaya…

Inilah yang terjadi dalam kasus penukilan wahabi tentang riwayat Hanbal di dalam bab shalat dan bab takwil imam Ahmad. Lalu dimana letak bertolak belakangnya ??

Bersambung pada artikel saya selanjutnya, yang akan mengupas episode kecurangan dan penipuan hujjah yang dibawakan wahabi di dalam menolak pentakwilan imam Ahmad bin Hanbal dengan menukil kalam Ibnu Rajab yang beliau juga menukil kalam Ibnu Hamid al-Hanbali yang mengatakan wahm pada pengucapnya dan suatu kesalahan menisbatkannya kepada imam Ahmad.

Saya akan megupas lebih detail dan mungkin sedikit luas, karena di sini sangat jelas sekali penipuan mereka di dalam menukil redaksi Ibnu Rajab tidak dengan keseluruhannya hanya sepotong-potong dan membuang komentar Ibnu Rajab setelahnya yang menjadi penerang dalam masalah ini. 


Dan saya pun akan sedikit mengurai sejarah konflik dalam madzhab Hanbali karena mereka juga membawakan kalam Abu Ya'la dijadikana hujjah para penolak takwil tersebut, karena ini juga penting agar kita tidak mudah tertipu dan mengetahui akar sejarah dalam madzhab Hanbali. 


1 komentar: